SEBENARNYA, rakyat Indonesia belum siap untuk mengikuti pemilu/pilkada secara langsung. Alasannya, pengetahuan mereka tentang politik masih sangat sedikit. Bahkan, banyak juga yang sama sekali tidak mengerti. Akhirnya, mereka memilih capres-cawapres dan calon anggota DPR hanya berdasarkan ilmu kira-kira. Mereka sering mengatakan,mereka memilih berdasarkan hati nurani. Padahal sebenarnya bukan hati nurani,melainkan “ilmu kira-kira” yang sifatnya sangat spekulatif.
Buta politik
Mereka yang tak faham politik bukan hanya yang berpendidikan rendah. Mereka yang punya gelar S1,S2 dan S3 juga banyak yang buta politik. Merekapun memilih capres-cawapres dan calon anggota DPR berdasarkan ilmu kira-kira. Mereka tak memahami ilmu tipu-tipu politik.
Tipu-tipu politik
Rakyat yang buta politik sasaran empuk terhadap tipu-tipu politik.Tipu-tipu politik bisa lewat kampanye,bisa juga lewat lembaga survei politik. Lembaga-lembaga survei yang telah berubah menjadi pelacur politik tak henti-hentinya mmengiklankan hasil survei rrekayasanya bahwa parpol ertentu,capres-cawapres ttertentu,parpol tertentu akan dipilih lebih dari 70% pemilih. Dan ternyata banyak yang “termakan” tipuan-tipuan ini. Lembaga survei politik pada dasarnya menggiring opini rakyyat untuk memilih capres-cawapres tertentu,calon anggota DPR tertentu atau parpol tertentu. Mereka yang berpenddidiikan S1,S2 dan S3 yang tak faham ilmu statistikpun banyak yang percaya dan tterpengaruh hasil survei politik itu.Padahal, survei bisa direkayasa.
Buta psikologi
Fakttor lain yaitu, banyak pemilih yang tak memahami psikologi, baik psikologi ilmiah maupun psikologi populer. Tidak mengenal psikologi kepribadian. Sebab, tiap capres-cawapres dan calon anggota DPR tentu punya kepribadian yang positif maupun negatif.
Tipu-tipu psikologi
Dalam kampanyenya,mereka selalu mengesankan sebagai capres-cawapres dan calon anggota DPR yang bersih,anti korupsi,akan meningkatkan kesejahteraan rakyat,harga sembako murah,pendidikan gratis,dll. Pokoknya, para pemilih diberi mimpi-mimpi indah tanpa tahu mana yang realistis dan mana yang tidak realistis. Para capres-cawapres menjual nama ayahnya yang pernah jadi ppresiden, menjual ke-nggantheng-annya,menjual kharismanya. Pokoknya hanya menampilkan “kulit”nya saja.
Buta manajemen
Secara umum,pemilih kita tak faham ilmu manajemen, terutama tentang kepemimpinan atau “leadership”. Padahal, kepemimpinan yang baik merupakan syarat mutlak bagi seorang pemimpin dan wakil rakyat.
Tipu-tipu manajemen
Rakyat yang tak faham ilmu manajemen,terutama leadership,tentu tidak bisa menilai, mana capres-cawapres atau calon anggota DPR yang mempunyai leadership yang baik dan andal.Rakyat pemilih bukan karena faktor kualitas leadership, tetapi justru memilih capres-cawapres yang pandai bicara (manajemen orasi), terpengaruh ribuan brosur, spanduk, baliho, pamflet, iklan di koran, iklan di radio, iklan di TV dan media publikasi lainnya (manajemen publikasi). Bahkan juga melalui kampanye kotor, yaitu membeli suara (manajemen money politic).
Tipu-tipu politik setelah terpilih
1.Era Soeharto
Era Soeharto adalah era Indonesia ekspor BBM atau minyak. Sebagian hasilnya untuk subsidi SPP bagi semua mahasiswa Perguruan Tingggi Negeri (PTN) sehingga biaya kuliah “kelihatannya” murah. Subsidi BBM mengakibatkan biaya transportasi “kelihatannya” murah dan berakibat harga sembako “kelihatannya” murah. Padahal, era Soeharto juga punya utang luar negeri yang besar. Stabilitas keamanan juga “kelihatannya” aman,padahal semu.
2.Era Megawati
Saat menjadi presiden, Mega termasuk buta ilmu ekonomi,sehingga mudah dikadalin menteri-menterinya. Antara lain menjual sumber gas alam cair di Tangguh, Papua, dengan harga luar biasa murah ke China. Dampaknya terhadap “wong cilik” yang kaatanya akan dibela,akan disejahterakan,tak pernah menjadi kenyataan.
3.Era SBY
Utang luuar negerinya luar biasa. Dengan dalih demi pembangunan,utang ke mana-mana.Saat memerintah tahun 2004, uutang tiap warganegara Indonesia Rp 5 juta (warisan utang era Soeharto). Pada tahun 2011 utang tiap warganegara Rp 7 juta. Jika SBY berkuasa hingga 2014, maka utang tiap warganegara Rp 9 juta atau Rp 11 juta jika utang swasta dihitung.
Untuk membayar gaji PNS/TNI/Polri yang sudah naik tahun-tahun yang lalu,uangnya utang ke JICA (Jepang)
Untuk stimulus ekonomi akibat krisis finansial Amerika, uutang ke ADB
Untuk BLT bagi warga miskin, utang ke World bank
Untuk menambah devisa, utang ke IMF dan seterusnya.
Kalau dihitung,tiap detik,utang pemerintahan SBY beertambah Rp 10 juta.
Rakyat tidak tahu kriteria pemimpin yang berkualitas
Sampai hari ini, masih sangat banyak rakyat yang tidak tahu kriteria pemimpin yang berkualitas.Mereka mudah dibohongi tipu-tipu politik.Mereka juga memilih karena ingin dianggap sebagai warganegara yang baik. Terpengaruh iklan, pidato,kampanye,iklan dan semacamnya. Takut golput karena golput dinyatakan haram.Memilih karena diberi uang. Siapapun yang dicalonkan oleh parpol favoritnya,akan dipilih tanpa tahu kualitasnya. Dan tipu-tipu politik lainnya.
Sejarah kepresidenan di Indonesia
1.Soekarno
Terpilih sebagai presiden karena sudah terbukti memperjuangkan seluuruh rakyat Indonesia
2.Soeharto
Terpilih sebagai presiden karena melakukan“kudeta merangkak”
3.BJ Habibie
Terpilih sebagai presiden karena nasib baik,meneruskan Soeharto.
4.Gus Dur
Terpilih sebagai presiden karena saat itu tidak ada tokoh yang sekaliber Gus Dur
5.Megawati
Terpilih sebagai presiden karena nasib baik,meneruskan pemerintahan Gus Dur
5.SBY
Terpilih sebagai presiden karena “politik pencitraan”nya.
Kesimpulan
Hanya Soekarnolah yang terpilih sebagai presiden karena benar-benar memperjuangkan rakyat dan tidak menumpuk kekayaan seperti presiden-presiden sesudahnya. Hanya Soekarno yang punya ideologi poliitik dan jelas-jelas konsisten dengan ideologi politiknya. Presiden-presiden sesudahnya tidak punya ideologi yang jelas. Hanya menumpuk kekayaan dan menambah banyak total utang luar negeri.Tidak benar-benar pro rakyat.
Solusi
Di negara-negara maju, ada kegiatan yang dinamakan pendidikan politik atau pencerahan politik. Sedangkan di Indonesia, sampai hari ini belum ada lembaga yang memberikan pendidikan politik terhadap 70% pemilih yang nyata-nyata masih buta politik.
Artikel lain tentang Tipu-tipu Politik:
-Politik Tipu-tipu:
http://politik.kompasiana.com/2011/06/04/politik-tipu-tipu/
-Tinggalkan ‘Politik Tipu-Tipu’, Kembalilah Ke Politik Islam
http://hizbut-tahrir.or.id/2010/05/26/tinggalkan-politik-tipu-tipu-kembalilah-ke-politik-islam/
-Chusnul Mar’iyah: Pemilu dan Pemilukada 2009 Banyak Tipu Muslihat
Renungan
“Politik adalah ilmu untuk berkuasa dengan cara kampanye,mengobral janji dan jika perlu membohongi rakyat yang memilihnya dan jika terpilih, menumpuk kekayaan sebanyak-banyaknya yang diperoleh melalui berbagai cara, termasuk korupsi.”
Sumber gambar: http://www.facebook.com/group.php?gid=105369989493382
Hariyanto Imadha
Pengamat perilaku
Sejak 1973
Filed under: Uncategorized Ditandai: | belumsiap, calon anggota DPR, capres-cawapres, hariyanto iimadha, langsung, memeilih, mengenal, poliitik, politik, rakyat, secara, tipu, tipu-tipu


































