SERING saya mendengar orang berkata :”Golput itu tidak bijak”. Kalau kita analisa, ucapan tersebut tentu ditujukan ke sekitar 30 juta orang yang golput. Seolah-olah dia sendiri yang bijak. Maka komentar saya:” Sombong sekali orang yang berkata demikian” Seolah-olah hanya dia dan orang-orang yang tidak golput yang bijak. Betul-betul sombong!
Apakah bijak itu?
Kalau kita baca berbagai kamus, maka bisa disimpulkan bahwa:
1.Bijak pengertian adalah:
a.selalu menggunakan akal budinya;
b.pandai;
c.mahir:
d.bukan beta
e.berperi;
f.pandai bercakap-cakap;
g.petah lidah.
Pengertian bijak
Dengan demikian, bijak adalah seseorang yang menggunakan akal budinya, pandai,untuk mengambil keputusan yang tepat, dengan alasan yang mahir atau tepat dan pada waktu yang tepat.
Golput bisa dikatakan bijak
Jika seseorang mengambil keputusan golput, dengan alasan tidak ada satupun capres-cawapres yang berkualitas, dengan penalaran jika capres-cawapres tak berkualitas tersebut dipilih akan menimbulkan bencana, dan keputusan itu diambil pada saat pemilu, maka keputusan untuk bersikap golput merupakan keputusan yang bijak.
Tidak golput bisa dikatakan tidak bijak
Sebaliknya, seseorang yang mengambil keputusan untuk tidak golput, dengan alasan daripada tidak ada yang dipilih, karena takut fatwa haram golput dari MUI,karena ingin dianggap sebagai warganegara yang baik, maka diapun memilih capres-cawapres secara salah,yaitu pada capres-cawapres yang tidak berkualitas, maka terjadilah bencana di negeri ini.
Antara lain bencana politik, ekonomi, sosial, budaya, pertahanan, keamananan, hukum,HAM,teknologi dan ilmu pengetahuan. Dengan demikian, tidak golput bisa dikatakan tidak bijak.
Kesimpulan
Jadi, golput atau tidak golput bisa dikatakan bijak dan bisa dikatakan tidak bijak tergantung kualitas objek, penalaran dan waktunya.
Jika memilih capres-cawapres yang tidak berkualitas, tentu tidak bijak. Jika tidak memilih capres-cawapres yang tidak berkualitas, tentu ini langkah yang bijak.
Saran
Untuk mengetahui mana capres-cawapres yang berkualitas, memang harus memahami track record semua capres-cawapres, kualitas kepemimpinannya, pendidikannya, karakter atau kepribadiannya,dll. Untuk itu seorang pemilih harus faham ilmu politik (track record,visi dan misi), psikologi (psikologi kepribadian) dan ilmu manajemen (leadership)
Nah, kalau tidak mengerti tentang sebuah istilah, misalnya kata “bijak”, sebaiknya bertanya. Atau, belajarlah ilmu bahasa (linguistik). Sebab, orang yang tidak mengerti tetapi berbicara, adalah orang bodoh. Dan orang bodoh seringkali merasa lebih pandai dibandingkan dengan orang yang benar-benar pandai.
Hariyanto Imadha
Fcebooker/Blogger
Filed under: Uncategorized Ditandai: | bijak, golongan, golput, hariyanto imadha, politik, populer, putih, tidak



































Bener juga ya pak Har.
Namun kalau semua orang Indonesia Golput (krn calon pemimpinnya gak ada yang cocok) apakah masih bisa dikatakan bijak ya? Golput semua, gak ada pemimpin. Bisa kacau negara. Serba salah ya pak Har? Lebih baik mana memilih yang terbaik dari yang buruk atau tetap golput ya?
TANGGAPAN:
Golput 100%. Tidak realistis. Di dunia ini tidak ada negara yg 100% golput.
jadi, kita tak perlu berandai-andai karena berandai-andai tak pernah ada faktanya.
Berpikirlah yang realistis.