• PARTAI POLITIK

    gambarbannerpartaigasing1

    gambarbannerpartaiyoyo1

    logo-apajpg1

    logo-barisannasionaljpg4

    logo-bulanbintangjpg1

    logo-gerindrajpg

    logo-hanurajpg

    logo-panjpg1

    logo-partaidemokratjpg

    logo-partaigarudajpg

    logo-partaigolkarjpg

    logo-pdipjpg

    logo-pibjpg

    logo-pkbjpg

    logo-pkdjpg

    logo-pknujpg

    logo-pkpjpg

    logo-pksjpg

    logo-pmbjpg

    logo-pnimarhaenjpg

    logo-ppijpg

    logo-pppjpg

POLITIK: Trias Politika Indonesia Sudah Buta dan Tuli

PRAKTEK korupsi,kolusi dan nepotisme (KKN) erat hubungannya dengan politik dan politik erat hubungannya dengan sistem politik. Sistem politik juga ada hubungannya dengan motivasi politik. Oleh karena itu baik tidaknya sebuah sistem trias politika juga terpengaruh oleh baik tidaknya sistem politik.

Sistem politik

Sistem politik erat hubungannya dengan motivasi politik, yaitu keinginan untuk berkuasa. Berkuasa ada tiga tujuan yaitu ingin memperkaya diri sendiri, ingin memperjuangkan rakyat dan keduanya.Namun, dalam praktek keingin pertama lebih dominan.

Tujuan menghalalkan segala cara

Karena motivasi untuk berkuasa, maka ada dua cara, yaitu secara tidak jujur dan secara jujur. Namun, di dalam praktek, politik seringkali tidak jujur. Tujuan menghalalkan segala cara.

Politik serba uang

Demokrasi langsung ataupun tidak langsung, tetap membutuhkan modal yang tidak sedikit. Oleh karena itu, apabila terpilih, maka yang dipikirkan pertamakali adalah kembalinya modal. Pemikiran berikut yaitu memperkaya diri sendiri. Memperjuangkan aspirasi rakyat adalah urusan belakangan.

Trias politika sudah buta tuli

Hampir tiap hari ada kritik terhadap mereka yang duduk di pemerintah, DPR dan institusi penegak hukum. Kritik melalui televisi, radio, surat kabar, Facebook,Twitter, blog, website, demo dan cara-cara lain. Diperhatikan? Tidak! Mereka sudah buta dan tuli.

Sekitar 60% pemilih pemilu masih tergolong bodoh

Celakanya, sekitar 60% masyarakat pemilih masih tergolong bodoh dalam arti memilih secara tidak rasional. Misalnya, karena Si A partisipan partai X, maka siapapun yang dicalonkan partai X sebagai capres, pasti akan dipilih. Memilih capres karena capresnya ganteng,pandai bernyanyi,gagah,cantik,masih keturunannya presiden, keturunan kraton,karena bergelar S1,S2 atau S3.Karena terpengaruh hasil lembaga survei (yang bersifat menggiring opini),karena takut fatwa haram kalau golput,memilih karena ingin dianggap sebagai warganegara yang baik dan alasan-alasan lain yang tidak rasional. Mereka memilih capres-cawapres dan wakil rakyat bersifat spekulatif.

Nasib negara tergantung kualitas pemimpinnya

Nasib negara tergantung kepada pemimpinnya. Kualitas pemimpin ditentukan oleh kualitas para pemilihnya.Pemilih yang berkualitas akan memilih pemimpin yang berkualitas.Pemimpin berkualitas akan menghasilkan kebijakan-kebijakan yang bermanfaat bagi negara dan bangs

Perlunya pencerahan politik

Di negara-negara yang sudah maju, sudah ada proses pencerahan politik, baik melalui televisi, media massa ataupun melalui lembaga pendidikan. Bahkan ada organisasinya. Mereka memberikan pencerahan politik tentang bagaimana cara memilih pemimpin dan wakil rakyat yang benar.

Inti pencerahan politik

Inti pencerahan yaitu, sebaiknya masyarakat memilih capres-cawapres dan calon wakil-wakil rakyat yang benar-benar sudah dikenal latar belakang kehidupannya, prestasi-prestasinya, karakter pribadinya, pemikiran-pemikirannya. Apapun partainya, kalau capres-cawapres dan calon wakil rakyat tersebut berkualitas dan ada fakta-faktanya, maka bolehlah dipilih.

Lebih baik golput

Daripada salah pilih dan daripada memilih secara spekulatif, lebih baik tidak memilih. Sebab, salah pilih bisa menimbulkan bencana. Mulai dari bencana ekonomi, bencana hukum, bencana KKN dan bencana-bencana lainnya.

Siapa yang pantas menjadi lembaga pencerahan?

Lembaga pencerahan bisa dilakukan para LSM politik, kalangan mahasiswa dan universitas, pencerahan melalui media massa, pencerahan melalui jejaring sosial (Twitter, Facebook,dll),pencerahan oleh para ulama dan berbagai sarana pencerahan lainnya.

Kurangnya aktivis pencerah

Persoalannya adalah, betapa masih sedikitnya aktivis dan institusi pencerah di Indonesia ini. Akibatnya adalah, masyarakat pemilih masih akan terjebak pada pola pikir “asal memilih”. Dan ini akan mengakibatkan lahirnya sistem Trias Politika yang buta dan tuli.

Perlu perubahan sistem politik

Perubahan harus diprioritaskan pada reformasi undang-undang politik. Antara lain seorang capres-capres dan calon wakil rakyat harus lulus berbagai macam tes. Antara lain tes IQ,EQ,SQ,HQ,LQ,AQ dan MQ. Sekarang ini syarat-syaratnya cuma syarat-syarat administrasi.

Menunggu munculnya capres-cawapres berkualitas.

Karena masyarakat pemilih tidak mengkin mengubah sistem politik sekarang ini yang tidak berkualitas, maka masyarakat hanya dua pilihan. Pertama, bersifat golput jika tidak ada capres-cawapres dan calon wakil rakyat yang berkualitas. Kedua, harus memilih apabila ada capres-cawapres dan calon wakil rakyat yang benar-benar berkualitas.

Kesimpulan

1.Selama masyarakat pemilihnya tidak berkualitas, maka akan akan menghasilkan pemimpin,pejabat dan wakil rakyat yang tidak berkualitas juga

2.Perlu adanya pencerahan-pencerahan politik.

3.Menunggu takdir, yaitu munculnya capres-cawapres yang berkualitas.

Rakyat tidak bisa berbuat apa-apa.

Revolusi juga butuh dana luar biasa besar.

Sumber foto: sbelen.wordpress.com

 

Hariyanto Imadha

Penulis surat pembaca dan

Pengamat perilaku

Sejak 1973

Semua komentar otomatis akan dihapus

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: