• PARTAI POLITIK

    gambarbannerpartaigasing1

    gambarbannerpartaiyoyo1

    logo-apajpg1

    logo-barisannasionaljpg4

    logo-bulanbintangjpg1

    logo-gerindrajpg

    logo-hanurajpg

    logo-panjpg1

    logo-partaidemokratjpg

    logo-partaigarudajpg

    logo-partaigolkarjpg

    logo-pdipjpg

    logo-pibjpg

    logo-pkbjpg

    logo-pkdjpg

    logo-pknujpg

    logo-pkpjpg

    logo-pksjpg

    logo-pmbjpg

    logo-pnimarhaenjpg

    logo-ppijpg

    logo-pppjpg

POLITIK: Pemerintahan SBY Menuju Negara Gagal?

SOFIAN EFFENDI, beberapa hari lalu. Diberitakan Indonesia berada di peringkat 61 dari 170 negara yang termasuk dalam indeks negara gagal tahun 2010. Hal itu menunjukkan kondisi Indonesia saat ini sudah mulai menuju ke keadaan negara gagal.

Sementara itu, menarikkatagorisasi negara-bangsa (nation state) yang dikutip Imam Cahyono dari Stoddar.

Menurutnya, ada 4 (empat) kategori negara-bangsa:

1.Kuat (strong state);

2.Lemah (weakstate);

3.Gagal (failedstate); dan

4.Runtuh (collapsedstate).

Negara lemah

Merupakan calon potensial kegagalan negara.

Negara gagal

Merupakan tahap akhir dari kegagalan negara. Sebuah negara gagal apabila gagal memenuhi kebutuhan rakyatnya dengan baik.

Apa indikator negara gagal?

1.Indikator sosial,

2.Ekonomi,

3.Politik, maupun

4.Militer.

(Sumber: Kompas, 9/6/2005).

Tambahan:

5.Hukum (Sumber: harianpelita.com)

Bagaimana pemerintahan SBY?

Imam Cahyono mengatakan, Indonesia di ambang negara gagal. Sebab, hampir semua indikasi negara gagal sudah terpenuhi.

ad.1.Indikator sosial

Dalam hal keamanan, misalnya, rakyat kurang terlindungi. Lewat media massa kita bisa menyaksikan bagaimana orang demikian gampang diancam, dianiaya, diperkosa, bahkan dibunuh; kadang-kadang itu sekadar dipicu masalah sepele. Berita semacam itu kita saksikan hampir setiap hari tiada henti.

Konflik etnis dan agama pun tidak jarang memakan korban yang cukup besar seperti dalam kasus Sampang, Poso, Ambon, dan Papua. Meskipun demikian, sering akar sesungguhnya dari konflik itu adalah ketidakadilan, ketidakpastian hukum, ketidaksejahteraan rakyat; atau konflik sengaja diciptakan untuk kepentingan politik lokal maupun asing.

Tekanan Amerika terhadap terorisme di Indonesia

Di Indonesia, terorisme pun harus ditafsirkan berdasarkan versi AS—mulai dari defenisi terorisme yang harus diartikan sebagai setiap pihak yang menyerang kepentingan AS; siapa pelakunya (umat Islam, kelompok Islam, dan lebih spesifik lagi mereka yang ingin menegakkan syariat Islam); sampai pada apa yang harus dilakukan (buat berbagai jebakan dan rekayasa, tangkap dan aniaya aktifis Islam [meskipun bertentangan dengan HAM] karena mereka adalah teroris, buat undang-undang terorisme yang intinya harus sejalan dengan kepentingan AS, buat badan-badan anti terorisme dengan target kelompok Islam, dll). Tekanan asing ini demikian terasa kalau kita melihat siapa yang mendanai semua proyek ini, yakni negara-negara seperti AS dan Australia.

ad.2. Indikator ekonomi

Bagaimana dengan korupsi? Jangan diperdebatkan lagi; Indonesia termasuk negara yang paling korup di dunia. Korupsinya bersifat massal dan melembaga. Karena sudah demikian melembaga, ada yang khawatir, kalau kasus korupsi di Indonesia dibongkar seluruhnya, Indonesia akan collaps (hancur), karena hampir tidak ada sub-sistem yang tidak korup.

Agenda Amerika

Belum lagi agenda-agenda War on Terorisme (WOT) yang dibidani oleh AS, yang demikian serius dijalankan Indonesia. Indonesia pun dipaksa untuk mengikuti skenario AS dalam WOT.

Tekanan Amerika terhadap ekonomi di Indonesia

Tekanan asing dalam masalah ekonomi lebih tampak lagi. Bahkan sejak awal pembangunan ekonomi, Indonesia sebenarnya dibangun berdasarkan agenda-agenda kapitalisme seperti: pembangunan bertahap (Repelita); utang luar negeri; investasi asing pada sektor-sektor pemilikan umum seperti minyak, gas, dan emas; ketundukan pada rezim mata uang dolar; sistem perbankan, privatisasi sektor umum; dll.

Indikator yang paling jelas adalah kegagalan pemerintahan SBY memenuhi kebutuhan rakyatnya.

Kasus busung lapar mencerminkan hal ini. Yang lebih menyedihkan, secara nasional jumlah balita yang kekurangan gizi di Indonesia ternyata sangat besar. Menurut hasil Susenas 2003, seikitar 27.3% balita Indonesia kekurangan gizi. Artinya, dari jumlah 18 juta balita pada tahun 2003, 4.9 juta mengalami masalah gizi buruk. Tahun 2005, sesuai proyeksi/prakiraan penduduk Indonesia oleh BPS, anak usia 1-4 tahun adalah sebanyak 20.87 juta. Jika angka 27.3% digunakan, diperkirakan sebanyak 5.7 juta anak balita mengalami masalah gizi buruk. Balita yang mengalami busung lapar atau kekurangan gizi sangat parah adalah sebanyak 8%, yaitu 1.67 juta balita. Inilah potret kualitas hidup mayoritas rakyat negeri yang kaya-raya ini.

ad.3.Indikator politik

Legitimasi negara semakin berkurang saja. Rakyat semakin tidak percaya bahwa negara mengurus mereka. Dibakarnya pencuri sepeda motor atau maling ayam mencerminkan ketidakpercayaan masyarakat pada hukum yang seharusnya ditegakkan negara. Perusakan tempat hiburan, perjudian, dan pelacuran juga merupakan cerminan dari ketidakpercayaan rakyat pada hukum dan aparat. Lihat pula gejala apatisme massal terhadap para calon dalam Pilkada yang disuarakan masyarakat, “Siapapun calonnya sama saja, saya tetap saja miskin!”

ad.4.Indikator militer

Indikator yang juga cukup jelas adalah lemahnya negara dalam menghadapi tekanan asing hampir di segala aspek. Budaya kapitalistik seperti hedonisme, seks bebas, dan narkoba bagai gelombang air bah yang seakan tidak bisa dihentikan negara. Secara politik, Indonesia gagal menyelesaikan krisis Timor Timur (dulu) dan Aceh sebagai perkara internal. Indonesia pun harus meminta bantuan asing untuk masalah Aceh.

ad.5.Indikator hukum

Di bidang hukum juga demikian. Kesan “tebang pilih” masih terlihat mencolok. Hukum hanya “berlaku” bagi kaum yang lemah dan masyarakat di strata bawah. Bagaimana dengan penggede-penggede dan orang berduit? Hukum bukan apa-apa bagi mereka. Dengan suap sana, suap sini; hukum bisa dibuat tumpul, bahkan tunduk kepada mereka. Sudah banyak buktinya! (Sumber: harianpelita.com)

Pertanyaan mendasar dari semua ini adalah, pemerintahan SBY lemah, gagal, bahkan di ambang kehancuran?

Jawabannya jelas, karena kita mengadopsi dan menggunakan sistem kapitalisme yang sakit. Jelasnya, karena pemerintahan SBY terlalu neolib. Terlalu pro Amerika.Terlalu pro kapitalis asing.

Solusi

1.Indonesia memerlukan banyak LSM yang aktif memberikan pendidikan dan pencerahan politik kepada masyarakat Indonesia agar tidak salah memilih pemimpin dan wakil rakyat

2.Rakyat harus memilih pemimpin yang berjiwa nasional dan pro rakyat.

Referensi artikel: 1.http://inspiring2020.multiply.com/journal/item/5/THE_FAILED_STATE_Negara_Gagal

2. http://www.harianpelita.com/read/15950/32/assalamualaikum/indonesia-menuju-negara-gagal-/

Hariyanto Imadha

Facebooker/Blogger

Semua komentar otomatis akan dihapus

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: