• PARTAI POLITIK

    gambarbannerpartaigasing1

    gambarbannerpartaiyoyo1

    logo-apajpg1

    logo-barisannasionaljpg4

    logo-bulanbintangjpg1

    logo-gerindrajpg

    logo-hanurajpg

    logo-panjpg1

    logo-partaidemokratjpg

    logo-partaigarudajpg

    logo-partaigolkarjpg

    logo-pdipjpg

    logo-pibjpg

    logo-pkbjpg

    logo-pkdjpg

    logo-pknujpg

    logo-pkpjpg

    logo-pksjpg

    logo-pmbjpg

    logo-pnimarhaenjpg

    logo-ppijpg

    logo-pppjpg

  • Iklan

POLITIK: Pidato Imajiner Bung Karno 17 Agustus: “Indonesia Bagai Kapal Tanpa Nakoda”

Merdeka!

Saudara-saudara sekalian!

Saya telah minta saudara-saudara hadir disini untuk menyaksikan satu peristiwa maha-penting dalam sejarah kita.Berpuluh-puluh tahun kita bangsa Indonesia telah berjoang, untuk kemerdekaan tanah air kita bahkan telah beratus-ratus tahun! Gelombang aksi kita untuk mencapai kemerdekaan kita itu ada naiknya dan ada turunnya, tetapi jiwa kita tetap menuju ke arah cita-cita.Juga di dalam jaman Jepang, usaha kita untuk mencapai kemerdekaan nasional tidak berhenti-hentinya.

Di dalam jaman Jepang ini, tampaknya saja kita menyandarkan diri kepada mereka, tetapi pada hakekatnya, tetap kita menyusun tenaga sendiri, tetapi kita percaya kepada kekuatan sendiri.Sekarang tibalah saatnya kita benar-benar mengambil sikap nasib bangsa dan nasib tanah air kita di dalam tangan kita sendiri. Hanya bangsa yang berani mengambil nasib dalam tangan sendiri akan dapat berdiri dengan kuatnya.

Maka kami,tadi malah telah mengadakan musyawarat dengan pemuka-pemuka rakyat Indonesiadari seluruh Indonesia. Permusyawaratan itu seia sekata berpendapat bahwa sekaranglah datang saatnya untuk menyatakan kemerdekaan kita. (Asli pidato Bung Karno).

Pidato imajiner Bung Karno:

Saudara-saudara sekalian,

Apakah saudara bernama Si Suto, Si Noyo, Si Dadap atau Si Waru, tentu sudah tahu bagaimana pengorbanan saya dan kawan-kawan. Dari penjara Sukamiskin, dari Digul dan dari kejaran-kejaran Belanda, saya tetap berjuang agar negeri kita bebas,merdeka, berdaulat dan tidak didikte negara lain. Itulah cita-cita yang mulia,saudara-saudara. Sekali lagi,itulah cita-cita yang mulia.

Kemerdekaan itu sudah berhasil kita dapatkan dengan tumpahan darah berliter-liter memerahkan bumi pertiwi. Dengus nafas mereka dengus semangat perjuangan dan pengorbanan.Semua demi kepentingan anak cucu bangsa ini. Bukan untuk orang NewYork, bukan untuk orang Holland, bukan untuk orang Paris. Tapi untuk saudara-saudara -kita dari Tegal, Rembang, Solo dan se Nusantara.Bumi pertiwi tercinta.

Tapi, apa yang kita lihat sekarang ini saudara-saudara? Kekayaan alam kita dikuras habis oleh investor-investor asing dan kita tak pernah mampu mengontrol alur keuangannya. Berapa keuntungan mereka,berapa keuntungan kita,kita tak pernah tahu.Sekali lagi,tak pernah tahu.

Bauksit,batubara,nikel,uranium.emas,tembaga,gas alam,minyak dan keyaaan tambang kita habis begitu saja tanpa terpantau. Hutan-hutan kita dibabat habis dan pimpinan-pimpinan sekarang tidak tahu,pura-pura tidak tahu atau tahu tapi tak mampu berbuat apa-apa.

Saudara-saudara sekalian.

Saya bukan anti utang luar negeri.Tapi, kalau utang itu dengan syarat ini,dengan syarat itu, harus begini,harus begitu,maka saya katakan dengan tegas :tidak! Kita bukanlah bangsa pengemis saudara-saudara. Kita adalah bangsa yang punya harga diri yang tidak bisa didikte oleh negara manapun di dunia ini.Kita ini hidup!Kita ini berprinsip!Kita punya harga diri!

Kenyataannya,utang negara kita sekarang ini telah sangat membebani rakyat. Semua karena oleh bajingan-bajingan politik. Karena ulah cecunguk-cecunguk politik.Uang rakyat habis untuk pesta pora politik.Pemilu yang amburadul.Pemekaran wilayah yang banyak gagalnya.Gaya hidup pemimpin dan wakil rakyat yang hedonistis.Bermewah-mewah. Seolah-olah menteri-menteri jaman sekarang tidak bisa mikir kalau tidak naik mobil mewah. Wakil-wakil rakyat kita nggak bisa mikir kalau  kompleks perumahaan anggota DPR-nya tidak mewah.

Saudara-saudara sekalian.

Zaman saya dulu, perjuanganku benar-benar untuk rakyat. Membebaskan dari belenggu rantai-rantai besi! Zaman sekarang, isi otak pemimpin dan wakil rakyat hanya uang,uang dan uang. Hanya demi uang. Bukan demi rakyat.

Orang asing boleh menyewa pulau-pulau kita paling lama 95 tahun. Apakah itu tidak kebijakan gila namanya? Anggaran pendidikan 20% sementara kebutuhan TNI untuk membeli alutsista yang moderen kecil sekali.Lihat saja, perang di Timor Timur kita keok. Melawan pemberontakan GAM nggak pernah menang. Semangat membara harus didukung alutsista moderen, saudara-saudara. Zaman sekarang bukan zaman bambu runcing, tetapi zaman teknologi.

Saudara-saudara sekalian,

Saya lihat zaman sekarang banyak kebijakan-kebijakan yang hanya dibuat dari belakang meja.Duduk manis,lantas keluarlah kebijakan. Yang hasilnya, menyengsarakan rakyat.Coba pikir, apakah tidak gila kalau UMKM akan dipajaki? Apakah tidak sinting kalau biaya pendidikan semakin mahal? Apakah tidak edan kalau saudara-saudara kita di Papua masih banyak yang memakai koteka? Apakah tidak gendeng kalau bangsa kita selalu dilecehkan Malaysia dan pemimpin kita duduk manis di kursinya? Mana wibawa pemimpin kita? Mana harga diri bangsa kita?

Zaman sekarang ini adalah zaman pencitraan dan rekayasa.Kriteria kemiskinan dibuat sendiri sehingga angka kemiskinannya kecil.Nilai rupiah stabil, tapi dengan resiko cadangan devisa terus dikuras.Banyak uang rakyat terkucurkan dan tak terpantau sehingga korupsi ada di mana-mana.Suap ada di mana-mana.Jual beli hukum ada di mana-mana.Pungli ada di mana-mana.

Sekarang ini saya heran.Kenapa ada gerakan mengatasnamakan Islam, tetapi merusak.Mengatas namakan Islam tetapi membenci agama lain.Mengaku Islam, tetapi korupsi. Di mana peran para ulama? Kenapa Islam tak mampu mengubah perilaku umatnya? Untuk apa mereka rajin shalat,rajin puasa dan rajin membaca Al Qur’an kalau perangainya seperti itu? Oh, Islam ternyata dipahami hanya kulit-kulitnya saja. Masyarakat sekarang, telah mengalami kekufuran ayat. Bahkan wakil rakyat dan pemimpinnya juga demikian.

Saudara-saudara sekalian,

Pada tanggal 17 Agustus 2010 ini saya sebagai proklamator merasa sangat kecewa! Sangat sedih! Sangat gundah! Sangat gelisah! Seakan perjuangan saya dari penjara ke penjara tak ada gunanya lagi. Pahlawan-pahlawan tak dihargai lagi. Bahkan sekarang ini definisi pahlawanpun terlalu luas. Walaupun tidak mati perang,kalau dianggap berjasa bagi nusa dan bangsa,mereka berhak dimakamkan di Taman makam pahlawan. Padahal pengorbanan mereka bukanlah pengorbanan nyawa.Sesungguhnya mereka adalah pahlawan kesiangan saudara-saudara.

Sekarang ini saya tidak tahu,ekonomi kita sistem apa,pertanian kita sistem apa,pendidikan kita sistem apa,politik kita sistem apa,pengentasan kemiskinan kita sistem apa? Bahkan konversi mitan ke gas elpijipun tanpa didukung pemikiran-pemikiran yang sistemik. Bail out untuk Bank Century juga akibat kepanikan sistemik dari para ekonom dengan tujuan uang negara yang pada dasarnya uang rakyat bisa terkuras.

Sejatinya,ekonomi kita adalah ekonomi neolib, di mana pemimpin kita mengucapkan ‘welcome’ kepada kapitalis asing, tapi disisi lain para PKL ditendang dan digebuk oleh para satpol PP. Di satu sisi bangga karena cadangan devisa besar, di sisi lain BMI/TKI sebagai pahlawan dibiarkan dibayar murah,disiksa,diperkosa bahkan dibunuh.Kalau pertanian kita gagal,menteri-menterinya suka menyalahkan iklim dan cuaca.Pendidikan kita adalah pendidikan berbasiskan rasa stres sehingga yang tidak lulus ujian nasional ada yang bunuh diri.Sedangkan politik kita masih politik dagang sapi dan politik balas budi. Sedangkan sistem pengentasan kemiskinan kita lebih bersifat ‘money politik’ terutama menjelang pemilu atau pemilukada.

Saudara-saudara sekalian,

Sebagai proklamator, saya ingin menangis melihat carut marutnya negeri ini.Semua keberhasilannya bersifat semu.Gaji PNS,TNI-Polri naik, tapi duitnya dari ngutang ke JICA Jepang.Ada stimulus ekonomi, tapi duitnya ngutang ke ADB. Ada BLT tapi duitnya ngutang ke World Bank. Utang IMF dilunasi, tapi bikin utang baru dengan nama ORI.Ini namanya manajemen gali lobang tutup lobang,saudara-saudara.

Kita memang sudah merdeka saudara-saudara. Tetapi kita menghadapi penjajahan model baru,yaitu penjajahan ekonomi yang menyebabkan negeri kita selalu tergantung kepada utang. Penjajahan politik yang menyebabkan semua kebijakan kita merupakan hasil pesanan dari negeri adikuasa.Penjajahan teknologi yang menyebabkan kita tak akan pernah menjadi negara industri.

Sebagai proklamator, saya rasa, sekarang ini tak ada satupun prestasi yang bisa dibanggakan. Semuanya serba semu, serba artifisial, serba dibuat-buat,serba palsu dan serba imitasi.Semuanya hanya hasil daripada rekayasa kebijakan dan permainan angka-angka dan kata-kata. Pajak bukan lagi dari rakyat untuk rakyat,tetapi dari rakyat untuk pejabat. Bukan pemimpin yang melayani rakyat, tetapi rakyat yang melayani pemimpin.

Saudara-saudara sekalian,

Saya akhiri pidato singkat saya hari ini,  Januari 2011. Sampaikan kepada pemimpin-pemimpin kalian,wakil-wakil rakyat kalian,juga segenap bangsa setanah air, bahwa saya, Soekarno,proklamator kemerdekaan Republik Indonesia, merasa sangat-sangat-sangat kecewa karena segala pengorbanan dan perjuangan saya untuk memerdekakan bangsa ini, ternyata diisi dengan kebijakan-kebijakan yang tak berbasiskan etika,tak berbasiskan kejujuran,tak berbasiskan manajemen yang profesional.Tidak ada yang namanya ‘national character building’ seperti yang saya cita-citakan.

Negeri kita sekarang ini ibarat kapal tanpa nakoda,saudara-saudara.Terhempas ke atas, terbanting ke bawah, terlempar ke kanan dan tertendang ke kiri.Mau kemana kapal yang bernama Republik Indonesia ini?

Saudara-saudara sekalian,

Sekarang ini, bangsa Indonesia adalah “Bangsa Kacung!”

Semua bisa terjadi karena saudara-saudara telah salah memilih pemimpin dan wakil rakyat!

Ini fakta!

Sekian dan merdeka!

Wassalamu’alaikum wr.wb

Sumber foto:http://albertjoko.wordpress.com

Soekarno (Alm)

 

HariyantoImadha

Penulis naskah pidato

Iklan

POLITIK: Prediksi Capres Pemenang Pemilu 2014

METROTV, pada Minggu. 14 Agustus 2011 menginformasikan prediksi capres yang akan maju pada pemilu 2014.

Probabilitas kemenangan

Berdasarkan analisa yang saya lakukan, yaitu berdasarkan Teori Probabilitas (dengan parameter popularitas, track record, leadership dan kepribadian) dengan asumsi pemilu diadakan secara jujur dan adil, angka-angkanya sebagai berikut:

Berdasar Edit 11 Maret 2013:

Aburizal Bakrie (25%)

Anas Urbaningrum (35%)

Ani Yudhoyono (40%)

Anie Baswedan (55%)

Chairul Tanjung (5%)

Dahlan Iskan (50%)

Djoko Suyanto (25%)

Gita Wirjawan (20%)

Hatta Radjasa (25%)

Jimly Assidiqqie (30%)

Jokowi (60%)

Jusuf Kalla (40%)

Mahfud MD (60%)

Megawati (35%)

Prabowo Subianto (35%)

Pramono Edhie Wibowo (20%)

Puan Maharani (25%)

Rhoma Irama (20%)

Sri Mulyani Indrawati (45%)

Sri Sultan HB X (50%)

Tommy Soeharto (20%)

Wiranto (25%)

Yenny Wahid (20 %)

Yusril Ihza Mahendra (35%)

Ini cuma prediksi. Kebenarannya bisa dilihat pada hasil pemilu 2014 dengan asumsi pemilu dilakukan secara jujur (tidak ada manipulasi DPT, tidak ada oknum KPU/KPUD yang disuap,dll).

Hariyanto Imadha

Facebooker/Blogger

POLITIK : Golput Itu Tidak Bijak?

SERING saya mendengar orang berkata :”Golput itu tidak bijak”. Kalau kita analisa, ucapan tersebut tentu ditujukan ke sekitar 30 juta orang yang golput. Seolah-olah dia sendiri yang bijak. Maka komentar saya:” Sombong sekali orang yang berkata demikian” Seolah-olah hanya dia dan orang-orang yang tidak golput yang bijak. Betul-betul sombong!

Apakah bijak itu?

Kalau kita baca berbagai kamus, maka bisa disimpulkan bahwa:

1.Bijak pengertian adalah:

a.selalu menggunakan akal budinya;

b.pandai;

c.mahir:

d.bukan beta

e.berperi;

f.pandai bercakap-cakap;

g.petah lidah.

Pengertian bijak

Dengan demikian, bijak adalah seseorang yang menggunakan akal budinya, pandai,untuk mengambil keputusan yang tepat, dengan alasan yang mahir atau tepat dan pada waktu yang tepat.

Golput bisa dikatakan bijak

Jika seseorang mengambil keputusan golput, dengan alasan tidak ada satupun capres-cawapres yang berkualitas, dengan penalaran jika capres-cawapres tak berkualitas tersebut dipilih akan menimbulkan bencana, dan keputusan itu diambil pada saat pemilu, maka keputusan untuk bersikap golput merupakan keputusan yang bijak.

Tidak golput bisa dikatakan tidak bijak

Sebaliknya, seseorang yang mengambil keputusan untuk tidak golput, dengan alasan daripada tidak ada yang dipilih, karena takut fatwa haram golput dari MUI,karena ingin dianggap sebagai warganegara yang baik, maka diapun memilih capres-cawapres secara salah,yaitu pada capres-cawapres yang tidak berkualitas, maka terjadilah bencana di negeri ini.

Antara lain bencana politik, ekonomi, sosial, budaya, pertahanan, keamananan, hukum,HAM,teknologi dan ilmu pengetahuan. Dengan demikian, tidak golput bisa dikatakan tidak bijak.

Kesimpulan

Jadi, golput atau tidak golput bisa dikatakan bijak dan bisa dikatakan tidak bijak tergantung kualitas objek, penalaran dan waktunya.

Jika memilih capres-cawapres yang tidak berkualitas, tentu tidak bijak. Jika tidak memilih capres-cawapres yang tidak berkualitas, tentu ini langkah yang bijak.

Saran

Untuk mengetahui mana capres-cawapres yang berkualitas, memang harus memahami track record semua capres-cawapres, kualitas kepemimpinannya, pendidikannya, karakter atau kepribadiannya,dll. Untuk itu seorang pemilih harus faham ilmu politik (track record,visi dan misi), psikologi (psikologi kepribadian) dan ilmu manajemen (leadership)

Nah, kalau tidak mengerti tentang sebuah istilah, misalnya kata “bijak”, sebaiknya bertanya. Atau, belajarlah ilmu bahasa (linguistik). Sebab, orang yang tidak mengerti tetapi berbicara, adalah orang bodoh. Dan orang bodoh seringkali merasa lebih pandai dibandingkan dengan orang yang benar-benar pandai.

Hariyanto Imadha

Fcebooker/Blogger