• PARTAI POLITIK

    gambarbannerpartaigasing1

    gambarbannerpartaiyoyo1

    logo-apajpg1

    logo-barisannasionaljpg4

    logo-bulanbintangjpg1

    logo-gerindrajpg

    logo-hanurajpg

    logo-panjpg1

    logo-partaidemokratjpg

    logo-partaigarudajpg

    logo-partaigolkarjpg

    logo-pdipjpg

    logo-pibjpg

    logo-pkbjpg

    logo-pkdjpg

    logo-pknujpg

    logo-pkpjpg

    logo-pksjpg

    logo-pmbjpg

    logo-pnimarhaenjpg

    logo-ppijpg

    logo-pppjpg

POLITIK: Perlukan DPR Dibubarkan Saja?

SEMUA orang tentu tahu, di gedung DPR ini terlalu sering terjadi hal-hal yang melukai perasaan rakyat. Antara lain, banyak anggota DPR yang datang, daftar, duduk, dengkur dan duit. Atau praktek-praktek korupsi, jual beli pasal, menghambur-hamburkan uang rakyat dengan dalih studi banding, nonton video porno disaat rapat paripurna ataupun sidang, pamer mobil mewah dan perilaku yang sangat menyakiti hati rakyat. Sebelum terpilih, mereka mengemis suara ke rakyat. Setelah rakyat memilihnya, mereka tak peduli rakyat. Ada rakyat demo di depan gedung DPR, mereka cuek.

Perlukan DPR dibubarkan saja?

Itulah persoalannya. sampai ada yang mengusulkan DPR dibubarkan saja. Tentu, yang salah bukanlah DPR-nya, tetapi manusia-manusianya. Dengan kata yang lebih tepat, perlu adanya perubahan sistem agar para anggota DPR disiplin dan jujur.

Sudah ada usaha

Memang, sudah ada usaha untuk mendisiplinkan para anggota DPR. Antara lain membuat peraturan dan tata tertib. Juga dibentuk Dewan Kehormatan DPR. Juga, sudah ada mesin absensi sidik jari. Juga sudah ada sanksi bagi yang tidak disiplin.

Belum berupa sistem

Namun, semua peraturan tata tertib dan peralatan-peralatan serta perangkat-perangkat yang ada belum merupakan sistem. Masih merupakan bagian-bagian yang terpisah, tidak saling integrasi dan mengandung banyak kelemahan serta bisa diakali. Misalnya, mesin absensi sidik jadi: ketika datang langsung memberikan sidik jarinya, tapi kemudian pulang. Saat rapat/sidang bubar, mereka datang lagi untuk memberikan sidik jarinya lagi ke mesin absensi sidik jari.

Sistem yang bagaimana?

Saya setuju dengan ucapan Tanri Abeng, bahwa Indonesia bisa maju kalau yang berkuasa adalah “sistem” dan bukan “manusia”. Maksudnya, dengan adanya sistem, maka mau tidak mau semua anggota DPR harus disiplin datang. Misalnya: Tiap satu jam harus membubuhkan sidik jarinya ke mesin absensi. masalahnya, mesin absensi sidik jari biasanya hanya dua kali, yaitu saat datang dan saat pulang. Oleh karena itu, perlu dibuat software khusus untuk itu. Kita toh punya banyak pakar software. Karena sistemnya demikian (tiap 1 jam harus memmbubuhkan sidik jari), maka angggota DPR yang tidak disiplin bisa tercatat di komputer. Komputer iinipun terprogram, jika ada anggota DPR tidak hadir, maka akan kehilangan tunjangan sekian rupiah dan seterusnya.

Sistem lainnya

Dengan demikian perlu dibuat sistem-sistem lainnya yang didukung software buatan para programmer yang profesional. Misalnya, sistem penyusunan angggaran untuk Badan Anggaran DPR. Semua harus tercatat di komputer dan termuat di website/blog sehingga bisa dipantau masyarakat luas. Jika ada penyimpangan anggaran, maka masyarakat bisa mengetahuinya.

Tergantung political will

Apakah sistem yang demikian bisa terbentuk? Tentu, tergantung political will dan political actin dari lembaga eksekutif maupun lembaga legislatif itu sendiri. Atau bisa juga dibuat para pakar sistem dari berbagai perguruan tinggi kemudian direkomendasikan ke pemerintah. Jika ditolak pemerintah, sebaiknya diumumkan lewat website/blog milik para perguruan tinggi tersebut.

Jadi, jika yang terpilih adalah seorang presiden dan wakil presiden yang jujur, adil, ttegas dan cerdas serta memahami pentingnya sebuah “sistem”, maka niscaya Indonesia bisa maju seperti Jepang dan China. Sebab, negara-negara tersebut sudah puluhan tahun punya sistem. Antara lain sistem pertanian, sistem perekonomian, sistem perindustrian, dll. Sedangkan Indonesia, belum punya sistem. Andaikata Indonesia punya sistem, maka sistemnya lemah karena yang berkuasa adalah manusia.

Nah, persoalannya adalah, kapan kita punya presiden dan wakil presiden yang mampu membuat sistem sebagai penguasa? Sejak era Soekarno hingga era SBY, belum ada satupun presiden yang mampu membuat “sistem sebagai penguasa”. Kalau presidennya jujur,adil,cerdas dan cerdas, maka sistemnya pasti canggih. Tapii, kalau presidennya memble, maka sistemnya juga memble.

 

Hariyanto Imadha

Facebooker/Blogger

Semua komentar otomatis akan dihapus

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: