• PARTAI POLITIK

    gambarbannerpartaigasing1

    gambarbannerpartaiyoyo1

    logo-apajpg1

    logo-barisannasionaljpg4

    logo-bulanbintangjpg1

    logo-gerindrajpg

    logo-hanurajpg

    logo-panjpg1

    logo-partaidemokratjpg

    logo-partaigarudajpg

    logo-partaigolkarjpg

    logo-pdipjpg

    logo-pibjpg

    logo-pkbjpg

    logo-pkdjpg

    logo-pknujpg

    logo-pkpjpg

    logo-pksjpg

    logo-pmbjpg

    logo-pnimarhaenjpg

    logo-ppijpg

    logo-pppjpg

POLITIK: Beda Memilih Ustadz dan Memilih Pemimpin Bangsa dan Negara

Gambar

SESUNGGUHNYA, memilih ustadz dan memilih pemimpin bangsa itu berbeda. Karena ketidaktahuan, maka banyak bangsa di dunia, termasuk di Indonesia yang salah memilih pemimpin bangsa. Akibatnya, bangsa dan negara menjadi terpuruk. Korupsipun merajalela. Itulah sebabnya, rakyat harus tahu apa bedanya memilih ustadz dan memilih pemimpin bangsa dan negara.

Memilih ustadz

Yang penting memilih ustadz adalah masa kininya. Kemampuan kininya. Perilaku kininya. Walaupun di masa lalu dia punya masa kelam dalam kehidupannya, kalau masa kininya merupakan masa yang baik, maka bolehlah dia dijadikan atau diakui sebagai seorang ustadz.

Contoh

Dulu, Si A adalah seorang perampok roko-toko emas. hasil penjualan emasnya ternyata dibagi-bagikan ke masyarakat miskin. Meskipun demikian, apa yang dilakukannya merupakan perbuatan kriminal. Si A-pun dipenjara bertahun-tahun. Sampai suatu saat, datanglah sebuah keinsyafan. Diapun bertobat. Mendekatkan diri kepada Tuhan. Mempelajari dan memperdalam ilmu agama. Dan ketika bebas dari lembaga pemasyarakatan, diapun mempunyai aktivitas sebagai seorang ustadz. Karena dia memang benar-benar telah memahami agama, maka keberadaannyapun diakui oleh masyarakat luas. Walaupun dia mantan perampok, tidak masalah. Yang penting masa kininya.

Memilih pemimpin bangsa dan negara

Memilih pemimpin bangsa tentu tidak boleg sembarangan, sebab yang diurus adalah sebuah wilayah yang luas dan rakyat yang jumlahnya luar biasa besar. Dibutuhkan seorang pemimpin yang benar-benar berkualitas. Oleh karena itu perlu diketahui track record-nya (rekam jejaknya), prestasinya, perilakunya, kemampuannya, akhlaknya, masa lalunya atau singkatnya sejarah hidupnya di masa lalu hingga masa kininya. Sebab, seorang pemimpin bangsa dan negara tidak sekadar politisi, tetapi juga harus seorang negarawan. Seorang negarawan harus memiliki masa lalu yang bersih, masa kini yang bersih dengan demikian di masa depan juga mempunyai masa depan yang bersih. Jika masa lalunya kelam, walaupun sudah insyaf dan bertobat, bisa saja masa kelamnya akan terulang lagi. Potensi itu tetap ada.

Contoh

Seorang capres mencalonkan diri sebagai capres pada pemilu. Tidak dicalonkan, tetapi mencalonkan diri. Bahkan mengiklankan diri di berbagai televisi. Namun, kalau dilihat masa lalunya, ternyata kelam. Dia dulu merupakan pelanggar HAM. Bahkan pelanggar HAM berat yang sejak dulu sampai hari ini tidak pernah diadili. Apalagi dihukum di dalam lembaga pemasyarakatan. Masa depan yang kelam itu jelas tidak bisa dihilangkan dari memori rakyat yang sehat. Walaupun sudah insyaf dan bertobat sekalipun, masa lalunya sudah terlanjur kelam. Sekali lancung ke ujian, seumur hidup orang tidak akan percaya. Apakah ada jaminan kalau dia terpilih sebagai presiden, dia akan menjadi presiden yang benar-benar pro rakyat? Tidak ada jaminan.

Kesimpulan

1.Memilih ustadz, yang perlu dipertimbangkan adalah masa kininya. Sebab, dia aktif di bidang agama. Dan yang dihargai adalah ajaran-ajaran agamanya.

2.Sedangkan memilih pemimpin bangsa, harus diperhitungkan masa lalu dan masa kininya.Sebab, dia aktif di bidang politik. Politik adalah kekuasaan. Dan untuk memperoleh kekuasaan atau mempertahankan kekuasaannya, pemimpin yang punya masa lampau yang kelam, akan mempertahankan kekuasaannya dengan cara-cara seperti masa lalunya yang kelam. Seorang pemimpin, yang dinilai tidak hanya perilakunya, tetapi juga hasil kerjanya.

Semoga bermanfaat

 

Hariyanto Imadha

Pengamat Perilaku

Sejak 1973

%d blogger menyukai ini: