• PARTAI POLITIK

    gambarbannerpartaigasing1

    gambarbannerpartaiyoyo1

    logo-apajpg1

    logo-barisannasionaljpg4

    logo-bulanbintangjpg1

    logo-gerindrajpg

    logo-hanurajpg

    logo-panjpg1

    logo-partaidemokratjpg

    logo-partaigarudajpg

    logo-partaigolkarjpg

    logo-pdipjpg

    logo-pibjpg

    logo-pkbjpg

    logo-pkdjpg

    logo-pknujpg

    logo-pkpjpg

    logo-pksjpg

    logo-pmbjpg

    logo-pnimarhaenjpg

    logo-ppijpg

    logo-pppjpg

POLITIK: Semua Parpol Berpotensi Korupsi

Gambar

LORD ACTON pernah mengatakan “Power tends to corrupt”, “Kekuasaan cenderung untuk korupsi”. Ada benarnya. Apalagi Indonesia termasuk salah satu negara yang paling korup di dunia. Episentrum korupsi sebenarnya ada pada Trias Politika, yaitu lembaga yudikatif, eksekutif dan legislatif, sehingga masyarakatpun menyebut Trias Politika sebagai lembaga yudika-thief,ekseku-thief dan legisla-thief. “Thief” artinya “pencuri”. maksudnya, pencuri uang negara yang berasal dari uang rakyat.

Tujuan semua parpol sebenarnya sama

Yaitu:

-Ingin menang

-Ingin berkuasa

-Ingon dapat proyek besar

-Ingin memperkaya diri

-Ingin mempertahankan kekuasaan

Kenapa parpol berpotensi korupsi?

Antara lain:

1.-Mahalnya biaya politik

2.-Minimnya sumber pemasukan keuangan partai

ad.1.Mahalnya biaya politik

Selama para capim atau calon pemimpin (cawali/cabup/cagub/capres) dan caleg dipilih langsung oelh rakyat, maka perlu biaya besar. Antara lain untuk dana kampanye parpol,capim maupun caleg. Biaya saksi, biaya pembuatan sarana-sarana kampanye dan biaya-biaya lain. Luar biasa besar. Bisa mencapai angka triliunan, puluhan triliun dan mungkin ratusan triliun rupiah.

ad.2.Minimnya sumber pemasukan keuangan partai

Selama ini parpol dapat dana dari para caleg dan donasi dari perusahaan dan simpatisan. Untuk mengharapkan iuran anggota partai hampir tidak realistis. Cukupkah? Jelas, tidak cukup. Untuk mencukupinya, tentu diperoleh dari sumber-sumber lain. Misalnya bantuan dari negara asing (sedapat mungkin secara diam-diam), dari konglomerat hitam (jangan sampai ketahuan) dan sumber-sumber tidak jelas lainnya.

Cenderung terjebak korupsi

Bagi parpol yang sudah berkuasa, bisa melakukan apa saja, terutama memonopoli proyek-proyek raksasa dengan berbagai cara. Sedangkan para caleg dengan berbagai cara juga. Rata-rata mereka terjebak pada cara-cara korupsi, baik korupsi yang secara amatiran maupun korupsi secara profesional.

Korupsi secara amatiran sangat mudah ditangkap KPK. Sedangkan korupsi secara profesional seringkali berkedok kebijakan-kebijakan pemerintah.

Apapun nama parpolnya apapun azasnya

Soal korupsi, apapun nama parpolnya apapun azasnya, berpotensi untuk korupsi. Parpol berazaskan Pancasila, berpotensi korupsi. Parpol berazaskan Islam, berpotensi untuk korupsi.

Jika korupsinya tertangkap KPK

Jika korupsinya diketahui KPK, mereka cepat-cepat berkata:

 -“Itu oknum!”

-“Itu fitnah!”

-“Mereka telah kami pecat!”

-“Bukan parpol yang melakukan korupsi!”

Jika korupsinya tidak terendus KPK

Secara diam-diam mereka akan:

-Membeli rumah mewah

-Membeli mobil mewah

-Memangun villa mewah

-Membeli rumah/apartemen mewah di luar negeri

-Mendirikan beberapa perusahaan besar

-Mempunyai deposito/tabungan milyaran/triliunan rupiah di bank Indonesia maupun di bank di luar negero

-Semua anak-anak dan kerabatnya sekolah atau kuliah di luar negeri

 Adakah parpol yang jujur?

Sebuah parpol dikatakan jujur kalau:

-Menganut keuangan sistem terbuka (boleh diketahui umum atau dipublikasikan ke umum melalui media online maupun offline)

-Ada rincian pemasukan dan pengeluaran keuangan yang sangat jelas sumber dan pemakaiannya

Rasa-rasanya tidak ada parpol yang sejujur itu. Paling-paling mereka mengatakan “Sudah diperiksa BPK dan aman-aman saja”.

Rakyat yang bodoh terus dikadalin

Apa yang terjadi selama ini adalah, rakyat yang masih “bodoh politik” terus-menerus dikadalin sepanjang tahun oleh politisi-politisi busuk. Sebab, kenyataannya selalu terjadi korupsi di tubuh parpol.

Hariyanto Imadha

Pengamat perilaku politisi

Sejak 1973

%d blogger menyukai ini: