• PARTAI POLITIK

    gambarbannerpartaigasing1

    gambarbannerpartaiyoyo1

    logo-apajpg1

    logo-barisannasionaljpg4

    logo-bulanbintangjpg1

    logo-gerindrajpg

    logo-hanurajpg

    logo-panjpg1

    logo-partaidemokratjpg

    logo-partaigarudajpg

    logo-partaigolkarjpg

    logo-pdipjpg

    logo-pibjpg

    logo-pkbjpg

    logo-pkdjpg

    logo-pknujpg

    logo-pkpjpg

    logo-pksjpg

    logo-pmbjpg

    logo-pnimarhaenjpg

    logo-ppijpg

    logo-pppjpg

POLITIK: 70% Masyarakat Indonesia Masih Awam Politik

Gambar

APA yang tidak kacau di Indonesia? Manakala 70% masyarakat Indonesia masih buta politi, tiba-tiba diadakan pemilu/pilkada langsung. Tentu, hasilnya seperti sekarang ini. Yaitu, munculnya pemimpin-peminpin dan wakil-wakil rakyat yang tidak berkualitas. Tidak benar-benar mengurus rakyat melainkan sibuk berpolitik dan korupsi. Dengan kata lain, 70% masyarakat Indonesia belum cerdas berpolitik. Kalau ada yang mengatakan masyarakat Indonesia sudah cerdas berpolitik, itu omong kosong saja.

Indikator awam politik

Ada beberapa indikator masyarakat yang awam politik.

1.Lebih dari 50% pemilih berpendidikan tamat SD atau tidak tamat SD

2.Cara salah memilih pemimpin/wakil rakyat

3.Mudah terpengaruh hasil survei atau iklan

4.Suaranya mudah dibeli

5.Takut karena diintimidasi

ad.1. Lebih dari 50% pemilih berpendidikan tamat SD atau tidak tamat SD

Harus diakui secara jujur bahwa faktor pendidikan yang rendah secara umum juga turut mempengaruhi  cara seseorang berpersepsi. Politik itu apa, sih? Mereka tentu punya persepsi ataupun pemahaman yang kebanyakan kurang tepat.

Contoh:

-Antara lain mereka menganggap memilih itu wajib,

-Datang ke TPS itu wajib

-Tidak memilih dianggap sebagai warganegara yang tidak baik

-Mereka beranggapan memilih berdasarkan hati nurani pastilah benar.

-Cara berpikirnya sederhana bahkan sangat sederhana.

ad.2. Cara salah memilih pemimpin/wakil rakyat

Kalau soal cara salah memilih, bukan hanya monopoli masyarakat yang beprpendidikan rendah. Mereka yang berpendidikan S1, S2 dan S3-pun bisa terjebak dalam cara salah dalam memilih.

Contoh:

-Karena dia simpatisan partai A, maka siapapun calon pemimpin/calon wakil rakyat yang diajukan partai A, akan dipilih. Padahal, tidak tahu berkualitas atau tidak. Pokoknya dianggap berkualitas.

-Karena dia beragama Islam, maka hanya memilih calon pemimpin/ calon wakil rakyat yang beragama Islam

3.Mudah terpengaruh hasil survei atau iklan

Masyarakat Indonesia bukan hanya masih percaya kepada tahayul-tahayul kuno, bahkan percaya kepada tahayul-tahayul moderen berupa lembaga survei  politik dan iklan-iklan politik di berbagai media massa.

Contoh:

Kalau ada lembaga survei mengumumkan hasil surveinya bahwa capres A yang merupakan capres yang mempunyai elektabilitas tinggi, maka merekapun percaya. Kemudian memilihnya.

4.Suaranya mudah dibeli

Juga masih banyak masyarakat yang suaranya bisa dibeli. Tidak hanya bisa dibeli memakai uang, tetapi juga dibeli melalui janji-janji sorga. Melalui visi-misi yang terlalu muluk.  Tertarik iming-iming. Masyarakat masih selalu mudah berhalusinasi dengan gambaran negara yang adil makmur, sembako murah, kesehatan gratis, pendidikan gratis dan janji-janji gombal lainnya. Juga mudah terjebak dengan janji bahwa Indonesia akan mengalami perubahan yang lebih baik.

Contoh:

Partai Islam menjanjikan negara Indonesia harus berdasarkan syariat Islam, hukum Islam dan dipimpin seorang khilafah. Dengan demikian Indonesia akan adil makmur dengan landasan syariat Islam dan hukum Islam buatan Tuhan di bawah kepemimpinan seorang khilafah yang bijaksana. Padahal, mengelola negara Indonesia tidak semudah membalikkan telapak tangan.

ad.5 Takut karena diitimidasi

Banyak masyarakat terutama PNS/karyawan/buruh yang takut kalau tidak memilih calon pemimpin/ calon wakil rakyat tertentu sesudah mereka mendapatkan pengarahan dari atasannya di kantor/pabrik.

Contoh:

-Masyarakat golongan bawah atau masyarakat desapun takut kalau tidak memilih calon pemimpin/ calon wakil rakyat tertentu sesudah ada oknum-oknum tertentu melakukan pendekatan ke masyarakat.

-Di banyak desa, masyarakatnya manut saja atas pengarahan kepala desa atau perangkat desa

Kesimpulan umum

70% masih awam politik

Sekitar 70% masyarakat masih awam politik.

-Tidak faham partai politik itu tujuan sebenarnya apa

-Tidak tahu apa tujuan sampingan partai politik

-Tidak kenal siapa pengurus partai politik

-Tidak mengetahui dari mana partai politik dapat dana besar

-Tidak mengerti apa motivasi orang mendirikan partai politik

-Tidak tahu apa motivasi sebenarnya orang-orang berpolitik

-Tidak tahu track record atau rekam jejak calon pemimpin / calon wakil rakyat yang akan dipilihnya

-Tidak tahu apa ciri-ciri calon pemimpin dan calon wakil rakyat yang berkualitas, adil dan jujur

Kesimpulan khusus

-Sekitar 70% masyarakat masih awam politik, sebab selama ini belum ada atau tidak ada Program Pendidikan dan Pencerahan Politik bagi masyarakat Indonesia. Sedangkan di negara-negara maju seperti Australia, program pendidikan dan pencerahan politik diadakan melalui berbagai media massa, terutama televisi sehingga masyarakatnya cerdas berpolitik.

-Banyak yang datang ke TPS karena ingin dikatakan sebagai warganegara yang baik.

Hariyanto Imadha

Pengamat perilaku

Sejak 1973

%d blogger menyukai ini: