• PARTAI POLITIK

    gambarbannerpartaigasing1

    gambarbannerpartaiyoyo1

    logo-apajpg1

    logo-barisannasionaljpg4

    logo-bulanbintangjpg1

    logo-gerindrajpg

    logo-hanurajpg

    logo-panjpg1

    logo-partaidemokratjpg

    logo-partaigarudajpg

    logo-partaigolkarjpg

    logo-pdipjpg

    logo-pibjpg

    logo-pkbjpg

    logo-pkdjpg

    logo-pknujpg

    logo-pkpjpg

    logo-pksjpg

    logo-pmbjpg

    logo-pnimarhaenjpg

    logo-ppijpg

    logo-pppjpg

POLITIK: Jangan Pilih Calon Pemimpin Yang Mencalonkan Diri

Gambar

JUJUR saja kita bicara, bahwa 70% pemilih dalam pemilu maupun pilkada merupakan masyarakat yang masih bodoh berpolitik. Tidak tahu apa ciri-ciri capim (calon pemimpin) dan caleg (calon anggota lembaga legislatif) yang berkualitas dan yang tidak berkualitas. Mereka memilih hanya berdasarkan ilmu kira-kira. Atau mereka memilih secara subjektif.

Ada dua calon pemimpin

1.Capim yang mencalonkan diri

2.Capim yang dicalonkan

ad.Capim yang mencalonkan diri

Agama Islam mengajarkan bahwa salah satu ciri capim yang tidak boleh dipiih adalah capim yang mencalonkan diri. Dari sudut psikologi-politik, capim yang mencalonkan diri adalah capim yang berambisi. Seringkali kalau terpilih akan memprioritaskan kepentingan pribadi pula. Tidak peduli dengan aspirasi atau kepentingan rakyat. Baginya yang penting menang (dengan segala cara), berkuasa, dapat proyek besar, memperkaya diri sendiri dan mempertahankan kekuasaan untuk periode berikutnya (dengan segala cara pula).

Karena dasar pemikirannya adalah ambisi pribadi, maka biasanya capim tersebut mengiklankan dirinya sendiri dan konsep iklannya juga dibuat sendiri. Bahkan biaya iklan atau kampanyepun diambil dari uangnya sendiri dengan pertimbangan balik modal dan mengambil untung besar (dengan segala cara) apabila berhasil memenangkan pemilihan, baik dalam pemilu maupun pilkada.

Capim yan demikian, biasanya akan menghalalkan segala cara. Antara lain melakukan kecurangan berupa money politik atau melakukan sogok suap terhadap oknum-oknum pelaksana pemilu. Bahkan danapun bisa jadi diperoleh dari pengusaha atau konglomerat hitam. Untuk tingkat capres, tak segan-segan menerima bantuan asing atau negara lain yang biasanya disertai syarat-syarat yang menguntungkan capres, walaupun dengan resiko merugikan bangsa dan negara. Misalnya, memberikan kesempatan bagi negara donatur tersebut untuk mengeruk dan menguras habis sumber daya alam maupun sumber daya ekonomi Indonesia.

Jika dia menang, biasanya cenderung melakukan korupsi secara besar-besaran.

ad.2.Capim yang dicalonkan

Yaitu capim yang bisa jadi ingin menjadi pemimpin, tetapi tahu diri. Artinya, kalau tidak dicalonkan rakyat tidak akan bersedia maju. Dicalonkan rakyat adalah dalam arti yang murni, bukan dicalonkan berdasarkan rekayasa di mana rakyat dibayar untuk memberikan dukungan, tetapi murni suara rakyat.

Bisa juga capim yang dilamar sebuah parpol berdasarkan pertimbangan-pertimbangan pimpinan parpol sesudah mendengarkan suara hasil kongres sekaligus mendengarkan aspirasi dari rakyat. Artinya, pimpinan parpol memilih capim berdasarkan pertimbangan yang objektif tentang capim yang diinginkan mayoritas rakyat.

Capim yang bersedia dicalonkanpun pasrah terhadap parpol yang mencalonkannya. Artinya, konsep-konsep iklan atau kampanye disusun bersama. Biaya kampanye atau iklan juga dipertimbangkan bersama atas dasar musyawarah. Jika capim tergolong capim yang kurang mampu, dana politik bisa ditanggun parpol dari sumbangan para partisipan. Kalau capim tersebut benar-benar didukung rakyat, pastilah sumbangan dana akan mengalir deras asal parpol tersebut memasang iklan di berbagai media massa.

Saran

Berhati-hatilah memilih capim. Jangan memilih capim yang mencalonkan diri ataupun mengiklankan diri di TV, surat kabar, radio, internet dan lain-lain. Mereka adalah capim-capim berambisi (ambisius) yang kalau menang hanya akan mementingan kepentingan pribadi daripada kepentingan rakyat.

Semoga bermanfaat.

Hariyanto Imadha

Pengamat Perilaku Politisi

Sejak 1973

%d blogger menyukai ini: