• PARTAI POLITIK

    gambarbannerpartaigasing1

    gambarbannerpartaiyoyo1

    logo-apajpg1

    logo-barisannasionaljpg4

    logo-bulanbintangjpg1

    logo-gerindrajpg

    logo-hanurajpg

    logo-panjpg1

    logo-partaidemokratjpg

    logo-partaigarudajpg

    logo-partaigolkarjpg

    logo-pdipjpg

    logo-pibjpg

    logo-pkbjpg

    logo-pkdjpg

    logo-pknujpg

    logo-pkpjpg

    logo-pksjpg

    logo-pmbjpg

    logo-pnimarhaenjpg

    logo-ppijpg

    logo-pppjpg

POLITIK: Bangsa Yang Bodoh Adalah Bangsa Yang Tidak Mau Mengakui Kebodohannya.

POLITIK-BangsaYangBodohAdalahBangsaYangTidakMauMengakuiKebodohannya

BANGSA Indonesia merupakan bangsa yang bodoh? Jangan tergesa-gesa menjawab YA atau TIDAK. Tapi mari kita bicara fakta-fakta yang ada di negara kita, kemudian kita tarik kesimpulannya. Yang pasti, di negara kita memang banyak sekali masalah-masalah yang selama bertahun-tahun tidak pernah terselesaikan. Tetapi, justru tiap tahun masalah-masalah itu bertambah terus. Tidak ada masalah yang terselesaikan secara signifikan.

1.Masalah Kualitas SDM

Hasil survei UNDP menunjukkan bahwa dari 177 negara yang disurvei, Indonesia menempati peringkat ke 170 sebagai negara yang kualitas SDM-nya rendah. Setara dengan kualitas bangsa Guyana, Mongolia dan Bolivia. Negara kecil dibandingkan Indonesia. Sebuah kesetaraan atau perbandingan yang memprihatinkan. Belum ada sistem peningkatan kualitas SDM yang benar-benar signifikan.

2.Masalah kemacetan lalu lintas

Kemacetan lalu lintas tidak hanya di Jakarta, tetapi di berbagai kota besar di Indonesia. Sudah puluhan tahun kemacetan tersebut tidak pernah teratasi secara signifikan. Tidak ada kebijakan yang berani. Tidak ada sistem yang efektif untuk mencegah kemacetan. Yang ada hanya kebijakan-kebijakan yang bersifat partial. Hanya bersifat coba-coba.

3.Masalah PKL

Masalah PKL pun sudah lama. Banyak yang tidak tertib. Berjualan di trotoar, jembatan penyeberangan, di badan jalan dan di mana saja. Berjualan di sembarang tempat. Sudah berkali-kali ada razia PKL, namun hasilnya tidak signifikan. Hari ini razia PKL, besok muncul lagi PKL. Terus-menerus bermunculan PKL berjualan di trotoar, jembatan penyeberangan dan di badan jalan. Tidak ada sistem penertiban PKL yang benar-benar efektif.

4.Masalah premanisme

Premanismepun ada di mana-mana. Tidak hanya di terminal, pasar atau tempat-tempat keramaian, tetapi juga sudah terjelma “Preman Trias Politika”. Lagi-lagi tidak ada kebijakan atau sistem pemberantasan atau penertiban preman-preman tersebut. Tiap tahun semakin banyak bermunculan preman-preman Trias Politika. Menggarong uang APBN/APBD dan tidak ada tindakan-tindakan yang signifikan untuk mengatasinya.

5.Masalah ormas anarki

Sudah lama di Negara kita tumbuh ormas-ormas anarki. Terkesan adanya pembiaran dari pemerintah. Terkesan negara kalah dengan premanisme. Terkesan pemerintah tidak mempunyai sistem yang efektif untuk meniadakan ormas-ormas anarki yang sangat meresahkan masyarakat. Selalu terjadi perbuatan anarki di mana-mana. Perusakan tempat peribadatan, pemukulan dan penyiksaan terhadap sekelompok orang, mengobrak-abrik mini market dan perbuatan-perbuatan anarki lainnya.

6.Masalah Korupsi

Boleh dikatakan tiap detik ada korupsi. Walaupun ada pemberantasan korupsi, tetapi sangat lambat. Munculnya korupsi ibarat deret ukur sedangkan pemberantasan korupsinya ibarat deret hitung. Selalu pemberantasan korupsi kalah cepat dengan perbuatan korupsi. Tahu kalau jumlah personil KPK sangat terbatas, sangat sedikit, sangat tidak memadai, tapi tidak ada usaha yang serius dari pemerintah untuk menambah personil secepatnya. Terkesan bersikap masa bodoh.

7.Masalah pengangguran

Sebenarnya pemerinta tidak mampu menciptakan lapangan kerja bagi bangsa Indonesia. Banyaknya yang menjadi TKI merupakan bukti bahwa lowongan kerja di Indonesia sangat sedikit. Banyak pengangguran. Bahkan munculnya premanisme juga akibat minimnya lowongan kerja.

8.Masalah penegakan hukum

Sudah menjadi rahasia umum, betapa kacaunya sistem penegakan hukum di Indonesia. Bahkan ada yang mengatakan hukum di Indonesia bisa dibeli. Ada yang mengatakan oknum polisi, jaksa, hakim, pengacara, saksi da lain-lain yang terkait, bias dibeli. Ada yang bilang oknum petugas LP, termasuk kalapasnya, bisa dibeli (dalam arti disuap). Penyuapan juga terjadi di berbagai lini birokrasi.

9.Masalah kemaksiatan

Lokalisasi PSK, penjualan miras dan semacamnya, hanya dilarang saat bulan Ramadhan saja. Sesudah itu, lokalisasi PSK boleh buka lagi dan pabrik bir dan penjualan bir diperbolehkan lagi. Tidak ada tindakan yang tegas untuk melarangnya secara total. Terkesan adanya pembiaran terhadap perbuatan-perbuatan yang jelas-jelas maksiat.

10.Masalah kualitas pendidikan

Hasil survei internasional menunjukkan bahwa kualitas pendidikan di Indonesia tergolong rendah. Bahkan paling rendah. Dengan Malaysia saja kalah.

Kalah dengan Negara tetangga

Soal pengawasan TKI, kita kalah dengan Filipina. Soal mengatasi kemacetan lalu lintas kita kalah dengan Singapura. Soal penciptaan lapangan kerja kita kalah dengan Malaysia. Soal pertanian kita kalah dengan Vietnam. Berbagai aspek kita kalah dengan negara-negara tetangga. Itu berarti bangsa Indonesia mengalami kemunduran yang luar biasa.

Dan masih ada ribuan, puluhan ribu, rastusan ribu, jutaan masalah yang sampai hari ini tak terselesaikan secara signifikan.

Negara pandai itu yang bagaimana?

Negara yang pandai adalah negara yang bisa menyelesaikan masalah-masalahnya. Begitu juga bangsa yang pandai adalah bangsa yang bias mengatasi masalah-masalahnya, Begitu juga, pemerintah dan pemimpin yang pandai adalah pemerintah atau pemimpin yang bias menyelesaikan masalah-masalahnya secara signifikan..

Selalu berdalih dan mencari kambing hitam

Pemerintah Indonesia selama ini selalu pandai cari dalih dan kambing hitam untuk menutupi ketidakmampuannya. Untu menutupi kebodohannya. Impor garam, impor kedelai, impor beras dan segala impor selalu mencari-cari dalih dan selalu mencari kambing hitam untuk menutupi ketidakmampuannya dalam hal mandiri pangan.

Bangsa yang bodoh

Dari banyaknya hal-hal di atas yang merupakan masalah-masalah bangsa yang tak kunjung terselesaikan secara signifikan, maka itu sudah merupakan bukti bahwa bangsa Indonesia, terutama para pemimpin dan pemerintahnya merupakan bangsa yang bodoh. Bodoh dalam arti tidak mampu mengatasi massalah-masalah yang ada secara signifikan. Selalu berkilah dan berdalih. Mencari kambing hitam. Dan tidak mau mengakui kebodohannya.

Sudah saatnya bangsa Indonesia berkata jujur dan berani mengakui bahwa bangsa Indonesia sekarang ini mengalami kemunduran dan kebodohan di berbagai bidang. Negara lain bisa, kenapa bangsa Indonesia tidak bisa? Karena bangsa Indonesia mengalami kemunduran dan kebodohan.

Kesimpulan

Bangsa yang bodoh adalah bangsa yang tidak mau mengakui kebodohannya.

Hariyanto Imadha

Pengamat perilaku

Sejak 1973