• PARTAI POLITIK

    gambarbannerpartaigasing1

    gambarbannerpartaiyoyo1

    logo-apajpg1

    logo-barisannasionaljpg4

    logo-bulanbintangjpg1

    logo-gerindrajpg

    logo-hanurajpg

    logo-panjpg1

    logo-partaidemokratjpg

    logo-partaigarudajpg

    logo-partaigolkarjpg

    logo-pdipjpg

    logo-pibjpg

    logo-pkbjpg

    logo-pkdjpg

    logo-pknujpg

    logo-pkpjpg

    logo-pksjpg

    logo-pmbjpg

    logo-pnimarhaenjpg

    logo-ppijpg

    logo-pppjpg

POLITIK: Pemilu dan Pilkada Bukan Demokrasi Yang Sesungguhnya?

FACEBOOK-PolitikPemiluPilkadaBukanDemokrasiYangSesungguhnyaOke

BANYAK orang bicara tentang demokrasi. Ada yang benar-benar  faham demokrasi, ada yang setengah faham demokrasi, ada yang tidaak faham demokrasi dan ada yang seolah-olah faham demokrasi padahal tidak faham demokrasi. Dan celakanya, golongan terakhir inilah yang terbanyak. Dari sudut psikologi, memang banyak orang Indonesia yang SNOB (sok tahu, sok mengerti dan sok pintar).

Bias tentang arti demokrasi

Ada masyarakat kita yang tidak bisa membedakan pengertian “definisi demokrasi” dan “proses demokrasi“, serta “kualitas demokrasi” sehingga beranggapan bahwa pemilu/pilkada bukanlah demokrasi yang sesungguhnya.

Apakah demokrasi itu?

DARI sudut ilmu bahasa, demokrasi berasal dari kata “demos” dan “kratos” yang berarti kedaulatan ada di tangan rakyat, baik secara langsung maupun melalui perwakilan. Abraham Lincoln dalam pidato Gettysburgnya mendefinisikan demokrasi sebagai “pemerintahan dari rakyat, oleh rakyat, dan untuk rakyat”.

Menurut caranya, ada berapa macam/proses demokrasi?
Ada dua macam/proses.

1.Demokrasi tidak langsung

2.Demokrasi langsung

Ad.1.Demokrasi tidak langsung

Yaitu demokrasi dalam hal pemilihan calon pemimpin bangsa dan negara melalui perwakilan rakyat (DPR/MPR) dengan landasan berpikir, mereka dipilih rakyat dan oleh karena itu punya mandat ataupun wewwenang untuk mewakili rakyat di dalam memilih calon pemimpin bangsa dan negara menjadi pemimpin bangsa dan negara. Pemilihan bisa berdasarkan musyawarah dan bisa berdasarkan voting,

Ad.2.Demokrasi langsung

Yaitu demokrasi daalam hal pemilihan calon pemimpin bangsa dan negara sekaligus memilih calon wakil rakyat atau anggota lembaga legislatif (DPR) maupun calon anggota DPD (Dewan Perwakilan Daerah) dengan cara memilih tanda gambar parpol dan atau memilih gambar/foto calon tersebut.

Kualitas demokrasi: Segi positif dan negatif demokrasi tidak langsung dan langsung

Segi positif dan negatif demokrasi tidak langsung

Segi positif

Demokrasi secara tidak langsung sangat menghemat biaya

Segi negatif

Hanya menguntung parpol yang mempunyai dana politik yang terbesar kaarena bisa menyuap anggota DPR sebanyak-banyaknya. Artinya, akan terjadi politik “dagang sapi” berdasarkan tawar menawar atau “money politic”.

Segi positif dan negatif demokrasi langsung

Segi positif

Pemimpin yang terpilih akan memiliki legalitas atau keabsahan yang tinggi karena dipilih langsung oleh rakyat sehingga suara rakyat adalah suara rakyat dan bukan suara wakil rakyat.

Segi negatif

Demokrasi langsung membutuhkan biaya yaang sangat besar dan bahkan masih bisa menimbulkan politik uang atau “money politic”.Di samping itu, masyarakat pemilih juga sebagian besar atau sekitar 70% tidak memahami politik dalam arti yang sesungguhnya. Artinya, mereka memilih calon pemimpin maupun calon wakil rakyat tidak berdasarkan kualitas yang objektif, melainkan berdasarkan “ilmu kira-kira” yang sifatnya sangat subjektif.

Apakah pemilu/pilkada bukan demokrasi yang sesungguhnya?

Berdasarkan definisi demokrasi yang mengatakan “dari rakyat, oleh rakyat dan untuk raakyat”, maka pemilu/pilkada merupakan demokrasi yang sesungguhnya, namun untuk kondisi sekarang sebenarnya rakyat belum siap berdemokrasi.

Kenapa rakyat belum siap berdemokrasi?

Ada beberapa sebab:

-Sebagian besar rakyat (sekitar 55%) masih berpendidikan SD taman atau SD tidak tamat sehingga wawasan berpikir mereka tentang politik masih bias ataupun samar-samar, sehingga mereka memilih calon pemimpin atau calon wakil rakyat tidak berdasarkan kualitas melainkan berdasarkan “ilmu kira-kira”.

-Meskipun demikian, pemilih yang berpendidikan S1,S2 dan S3 juga masih banyak yang tidak memahami politik. Mereka memilih calon pemimpin daan waki rakyat tidak berdasarkan kualitas objektif, melaainkan berdasarkan pertimbangan-pertimbangan non kualitas dan bersifat spekulatif.

Lantas, bagaiamana seharusnya?
Di neagara-negara maju yang menerapkan demokrasi tidak langsung maupun langsung, ada program dari pemerintah yang bernama “Program Pendidikan dan Pencerahan Politik” yang sering dilakukan lewat media massa (TV, surat kabar, internet, radio dan lain-lain) juga diberikan secara langsung ke[i]sekolah-sekolah atau kampus-kampus atau langsung ke para calon pemiilih, sehingga mereka memilih calon pemimpin dan calon wakil rakyat secara objektif dan rasional. Mereka pelajari benar-benar siapa calon pemimpin dan wakil rakyat yang akan dipilihnya.

Kesimpulan

Jadi, pemilu dan pilkadaa yang diselenggarakan di Indonesia merupakan demokrasi langsung atau tidak langsung adalah demokrasi yang sesungguhnya karena dari akyat, oleh rakyat dan untuk rakyat. Hanya, sebenarnya rakyat pemilih di Indonesia sebagian besar (70%) dalam kondisi belum siap berdemokrasi.

Jadi, demokrasi tidak langsung maupun demokrasi langsung sudah benar dan merupakan demokrasi yang sesungguhnya, tetapi saat sekarang belum berkualitas.

Hariyanto Imadha

Pengamat Perilaku Politik

Sejak 1973