• PARTAI POLITIK

    gambarbannerpartaigasing1

    gambarbannerpartaiyoyo1

    logo-apajpg1

    logo-barisannasionaljpg4

    logo-bulanbintangjpg1

    logo-gerindrajpg

    logo-hanurajpg

    logo-panjpg1

    logo-partaidemokratjpg

    logo-partaigarudajpg

    logo-partaigolkarjpg

    logo-pdipjpg

    logo-pibjpg

    logo-pkbjpg

    logo-pkdjpg

    logo-pknujpg

    logo-pkpjpg

    logo-pksjpg

    logo-pmbjpg

    logo-pnimarhaenjpg

    logo-ppijpg

    logo-pppjpg

POLITIK: Cara-Cara Jadul Mendiskreditkan Jokowi

FACEBOOK-PolitikCarCaraJadulMendiskreditkanJokowi

SEMAKIN dekat pemilu atau pilkada/pemilukada, biasanya atmosfir persaingan semakin panas. Berbagai upaya dilakukan para lawan politik, baik dengan cara-cara yang positif maupun negatif. Boleh dikatakan hal demikian terjadi di negara mana saja. Apalagi bagi Indonesia yang menganut sistem demokrasi dan multi partai. Salah satu tokoh yang “diduga” akan menjadi capres pada pemilu 2014 adalah Jokowi atau Joko Widodo yang pada saat sekarang (sampai Januari 2014) masih menjabat sebagai Gubernur DKI Jakarta. Semakin dekat pemilu, semakin banyak dan keras usaha-usaha untuk mendiskreditkan Jokowi. Padahal, sampai Januari 2014, belum ada kepastian apakah Jokowi akan menjadi capres atau tidak.

A.Berbagai cara untuk mendiskreditkan Jokowi

Hal ini juga bisa terjadi kepada siapapun yang aktif di bidang politik.

Antara lain:

1.Menuduh Jokowi ingkar janji

2.Menuduh Jokowi nonmuslim

3.Menuduh Jokowi musyrik

4.Menuduh Jokowi korupsi

5.Menuduh Jokowi dengan cara memperalat ayat suci Al Qur’an

Ad.1.Menuduh Jokowi ingkar janji

Tidak benar:

Namun tidak benar kalau dikatakan Jokowi berjanji berjanji akan menyelesaikan masalah banjir, sampah dan kemacetan lalu lintas dalam waktu singkat, apalagi masalah banjir. Tidak ada satupun bukti-bukti tertulis yang mengatakan bahwa Jokowi akan menyelesaiakn masalah banjir pada tahun 2013 atau 2014.

Benar:

Dalam kampanyenya, Jokowi memang berjanji akan berusaha akan mengatasi banjir, sampah dan kemacetan lalu lintas di Jakarta. Sebab, Jokowi menjadari bahwa ketiga masalah tersebut merupakan masalah yang mendesak harus segera dimulai untuk melakukan penanggulangannya. Tentu, rencana kerja Jokowi tidak hanya itu saja, tetapi juga banyak rencana-rencana lainnya.

Logika:

Banyak orang tidak bisa membedakan kata-kata “janji” dengan “gagasan”. Sebenarnya apa yang diucapkan Jokowi lebih banyak bersifat gagasan. Tujuannya adalah untuk memberikan gambaran kongkrit tentang apa yang akan dilakukan (tetapi belum tentu dlakukan). Janji adalah sesuatu yang kongkrit, misalnya Jokowi berjanji akan mengatasi banjir dan menjanjikan Jakarta tidak akan dianda banjir selambat-lambatnya pada tahun 2014. Jadi, gagasan sifatnya umum seangkan janji sifatnya spesifik. Yang terjadi, lawan-lawan politik Jokowi , sengaja atau tidak sengaja, tidak bisa membedakan mana yang merupakan “gagasan” dan mana yang merupakan “janji”.

Ad.2.Menuduh Jokowi nonmuslim

Tidak benar:

Hampir semua media memberitakan bahwa, ada pihak-pihak tertentu yang mengatakan Jokowi dan atau ibu Jokowi adalah seorang non muslim. Informasinya diperoleh dari internet. Bahkan juga diisukan, Jokowi belum pernah naik haji.

Benar:

Ternyata, tuduhan itu tidak benar. Ibunya Jokowi ternyata seorang muslimah. Bahkan Jokowi , ibunya sudah lama menjalankan rukun Islam yang kelima, yaitu naik haji.

Logika:

Ketika sumber informasi ditanya (ditayangkan di TV swasta) darimana dia dapat informasi kalau ibunya Jokowi nonmuslim? Jawabnya, dari internet. Sebuah jawaban yang tidak ilmiah karena tidak didukung fakta-fakta objektif yang sahih. Hanya percaya membabi buta informasi dari internet. Tanpa melakukan konfirmasi langsung kepada pihak yang dituduh nonmuslim.

Ad.3.Menuduh Jokowi musyrik

Tidak benar:

Ada yang mengatakan, Jokowi musrik karena mengatakan bahwa banjir adalah salahnya hujan. Tidak ada satupun bukti yang mengatakan bahwa Jokowi menyalahkan hujan. Tidak ada kata “salah” yang diucapkan Jokowi.

Benar:

Yang benar, Jokowi menyatakan bahwa salah satu penyebab banjir adalah air hujan yang datang dari arah Bogor, langit dan air laut. Mengatakan penyebab banjir tidak sama dengan menyalahkan hujan. Sebab mengatakan penyebab adalah di dalam konteks hukum alam, yaitu hubungan antara sebab dan akibat.

Logika:

Apa jadinya kalau kita bicara tentang ilmu alam yang mengandung hukum sebab dikatakan musyrik. Bisa jadi orang yang rumahnya roboh karena tanah longsor, akan menyalahkan tanah, akan dituduh musrik. Bisa jadi orang yang apartemennya disambar petir, menyalahkan petir dan akan dikatakan musrik. Mengatakan penyebab banjir salah satunya akibat hujan adalah di dalam konteks hukum alam. Kecuali kalau ada kata-kata “menyalahkan hujan”, tentu tidak pas, sebab hujan adalah karunia dari Tuhan. Yang pasti Tuhan tidak sama dengan seluruh ciptaannya.

Ad.4.Menuduh Jokowi korupsi

Tidak benar:

Tuduhan Jokowi sudah lama ditulis di internet. Dengan cerita yang seolah-olah masuk akal maka dikatakan bahwa selama Jokowi menjadi Walikota Solo, Jokowi telah melakukan korupsi.

Benar:

Tidak ada bukti atau saksi yang membenarkan tuduhan yang bersifat fitnah tersebut. Semua hanya merupakan rekayasa cerita yang Cuma bersifat mendiskreditkan Jokowi saja.

Logika:

Jokowi korupsi?  Kalau memang Jokowi korupsi, kenapa tidak ada yang lapir ke pihak kepolisian atau ke KPK? Kenapa Cuma bicara saja? Kenapa Cuma menduh saja? Menuduh tanpa disertai bukti-bukti dan saksi-saksi yang kuat tergolong fitnah yang sangat keji. Menuduh tanpa bukti dan saksi justru merupakan suudzon yang merupakan penyakit hati.

Ad.5.Menuduh Jokowi dengan cara memperalat ayat suci Al Qur’an

Tidak benar:

Bukan hal yang baru kalau ayat-ayat suci “diperalat” untuk mendiskreditkan Jokowi. Bukan salah Al Qur’annya. Bukan salah haditsnya. Bukan salah terjemah atau tafsirnya. Tetapi, ayat-ayat suci ditempatkan pada “konteks” yang salah. Bahkan ayat-ayat suci telah dijadikan “alat” untuk menyerang Jokowi.

Benar:

Serangan-serangan yang membawa-bawa ayat suci Al Quran tidak pernah didukung bukti-bukti. Hanya merupakan rekayasa orang-orang yang tidak suka terhadap Jokowi saja.

Logika:

Al Quran tidak mungkin salah. Terjemah atau tafsir Al Quran bisa saja salah. Apalagi kalau ditafsirkan di dalam konteks membela diri atau menyerang orang lain yang tidak disukainya. Ayat-ayat suci dicocok-cocokkan dengan hal-hal yang kelihatannya masuk akal dan relevan. Hanya menggunakan Ilmu TakTikTuk  (Otak Atik Gatuk), kata orang Jawa. Ayat-ayat suci telah dijadikan alat politik karena menganggap serangan menggunakan ayat suci pasti akan dipercaya semua mat Islam. Padahal, itu menunjukkan ketidakmampuannya menggunakan argumentasi yang rasional objektif.

B.Kenapa Jokowi dideskreditkan?

Ada beberapa sebab Jokowi dideskreditkan:

1-Sirik atau iri

2-Takut kalau capresnya kalah

3.Cara berlogika yang salah

4.Fanatik sempit

5.Tidak faham atau kurang memahami politik

Ad.1-Sirik atau iri

Pada dasarnya, serangan-serangan, caci maki, fitnah dan semacamnya yang ditujukan ke Jokowi semata-mata karena sikap sirik, iri atau dengki. Sebab, selama berbulan-bulan, bertahun-tahun, hampir semua lembaga survei mengatakan bahwa Jokowi adalah capres yang paling populer dan mempunyai tingkat elektabilitas tertinggi dibandingkan capres-capres lainnya. Padahal, belum tentu Jokowi akan jadi capres pada pemilu 2014.

Ad.2-Takut kalau capresnya kalah

Berdasarkan hasil-hasil berbagai lembaga survei yang selalu mengunggulkan Jokowi, maka ada rasa ketakutan bagi sebagian orang kalau-kalau capres idamannya akan dikalahkan oleh Jokowi. Oleh karena itu berbagai upaya dilakukannya, antara lain dengan menyebarkan rasa kebencian kepada Jokowi, baik lewat Twitter, Facebook, blog,website , SMS, BBM dan cara-cara lainnya.

Ad.3.Cara berlogika yang salah

Penyebab lainnya yaitu cara berlogika yang salah. Antara lain, karena Jokowi bukan dari parpol Islam, maka dianggap kebijakan-kebijakannya tidak akan pro Islam. Atau, karena Jokowi didukung PDI-P yang merupakan salah satu parpol besar, dianggap membahayakan parpol-parpol kecil.

Ad.4.Fanatik sempit

Fanatik sempit bisa karena agama, bisa fanatik sempit terhadap parpol tertentu atau fanatik sempit terhadap capres idamannya. Fanatik sempit agama, karena Jokowi dianggap orang Islam tetapi bukan dari komunitas Islamnya. Karena Jokowi berasal dari PDI-P dan bukan dari parpolnya, maka Jokowi dianggap sosok yang tidak tepat menjadi presiden. Fanatik sempit karena yakin bahwa capres idamannya sendirilah yang dianggapnya paling berkualitas, padahal apa kriteria kualitas yang universal tidak tahu. Jadi, ukurannya adalah dirinya sendiri secara subjektif sempit dan tidak mampu menilai Jokowi secara objektif dalam konteks wawasan yang lebih luas.

Ad.5.Tidak faham atau kurang memahami politik

Sekitar 70% (angka estimasi) pemilih tergolong belum gaham politik dalam arti yang sesungguhnya. Hal ini antara lain karena lebih dari 50% pemilih hanya lulusan SD atau SD tidak tamat. Bahkan dikalangan sarjana S1, S2 dan S3 juga sangat banyak yang tidak faham politik. Antara lain tidak bisa membedakan pengertian kepala negara, presiden, negarawan, politisi dan pemimpin.Tidak faham Pancasila, UUD 1945, MKRI dan Bhineka Tunggal Ika. Tidak bisa membedakan ideologi atau keyakinan. Tidak memahami wawasan kebangsaan dan kenegaraan dalam arti yang lebih luas.

C.Bagaimana reaksi Jokowi?

Jokowi bukanlah tipe-tipe “kejahatan dibalas dengan kejahatan”. Bagi Jokowi, semua caci-maki, fitnah dan semacamnya dianggap hal-hal yang biasa-biasa saja di dalam berpolitik. Jokowi yang “low profile” tidak mau membalas emosi dengan emosi. Tidak mau membalas fitnah dengan fitnah. Jokowi tidak mau caci maki dibalas dengan caci maki. Sikapnya yang rendah diri dan tidak emosional menunjukkan bahwa Jokowi memang sosok yang memahami psikologi-politik walaupun Jokowi bukan sarjana psikologi. Jokowi adalah tipe-tipe “banyak bekerja”dan bukan “banyak ngomong” seperti yang dilakukan oleh orang-orang yang sirik terhadapnya. Sebab, orang sirik pada umumnya tidak punya karya apa-apa.

Kesimpulan

Kesimpuannya adalah, semua cara-cara yang digunakan untuk mendiskreditkan Jokowi adalah cara-cara jadul. Sudah kuno dan tidak bermanfaat serta tidak efektif. Mubazir.

Hariyanto Imadha
Pengamat perilaku politik
Sejak 1973

%d blogger menyukai ini: