• PARTAI POLITIK

    gambarbannerpartaigasing1

    gambarbannerpartaiyoyo1

    logo-apajpg1

    logo-barisannasionaljpg4

    logo-bulanbintangjpg1

    logo-gerindrajpg

    logo-hanurajpg

    logo-panjpg1

    logo-partaidemokratjpg

    logo-partaigarudajpg

    logo-partaigolkarjpg

    logo-pdipjpg

    logo-pibjpg

    logo-pkbjpg

    logo-pkdjpg

    logo-pknujpg

    logo-pkpjpg

    logo-pksjpg

    logo-pmbjpg

    logo-pnimarhaenjpg

    logo-ppijpg

    logo-pppjpg

  • Iklan

POLITIK: Kenapa Ada Orang-Orang Yang Tetap Mempertahankan Pilihan Politiknya Yang Salah?

FACEBOOK-PolitikKenapaAdaOrangOrangYangTetapMempertahankanPilihanPolitiknyaYangSalah

POLITIK.Politik itu bisa putih bisa hitam. Bisa jujur bisa tidak jujur. Tergantung politisinya. Namun biasanya, kalau pimpinan politiknya tidak jujur dan korup, maka ke bawahnya juga sama : tidak jujur dan korup. Kalau pimpinan politiknya emosional, maka para partisipannya juga emosional. “Berlaku hukum Komunitas” :” Orang baik akan memilih pemimpin yang baik dan orang tidak baik akan memilih pemimpin yang tidak baik”.

Faktanya, banyak orang-orang yang fanatik pada satu partai saja dan siapapun yang dicapreskan pasti dipilih. Padahal banyak orang partai tersebut popularitas dan elektabiitasnya rendah. Capresnya juga tidak punya prestasi. Track recordnya biasa-biasa saja. Bahkan ada capres yang track recordnya hitam, tetap juga dipilih. Kenapa ada orang-orang yang sulit merubah pandangannya dan pilihannya yang salah itu?

Analogi

Sebelum melangkah ke paragraf berikutnya, baca dulu sedikit cerita ini.

Dulu, jamannya pager (alat komunikasi), Si A sering membayar iuran ke Wisma Nusantara. Kalau tidak salah di lantai 7 dan biasa naik memakai lift. Tetapi di lain hari, Si A bertemu dengan teman lamanya yang juga akan membayar iuran pager.

Si A pun mengajak Si B naik lift, tetapi Si B menolak dan memilih naik lewat tangga. Si A pun mengalah. Si A dan Si B pun naik ke lantai 7 lewat tangga.

Bulan berikutnya, Si A tak sengaja bertemu lagi dengan Si B yang juga akan membayar iuran pager. Si A pun mengajak naik lift. Lagi-lagi Si B menolak dan tetap lewat tangga.

Hal demikian terjadi hingga tiga kali. Akhirnya bulan berikutnya Si A bertanya.

Si A: “Kok tidak mau naik lift kenapa?”
Si B: “Gak enak naik lift. Udaranya sumpek”
Si A: “Pernah naik lift?”
Si B: “Hmmm…Belum pernah”

Nah, kesimpulannya silahkan ambil sendiri.

Yang pasti, Mario Teguh pernah berkata:
“Orang yang tida pernah mencoba adalah orang yang tidak bisa diajak maju. Orang yang gagal”.

Sekarang, Kenapa ada orang-orang yang tetap mempertahankan pilihan politiknya yang salah?

Secara singkat, jawabannya sama dengan kalimat yang pernah diucapkan Mario Teguh:
“Orang yang tidak pernah mencoba adalah orang yang tidak bisa diajak maju. Orang yang gagal”.

Secara psikologi-politik antara lain disebabkan

1.Pengetahuan dan pemahamannya tentang partai-partai politik sangat terbatas
2.Seleranya terjebak dapa figur capres yang suka mengobral janji-janji sorga
3.Memilih parpol sesuai dengan kesamaan agama, suku, ideologi atapun perilakunya
4.Memilih berdasarkan Ilmu Kira-Kira dan tidak berdasarkan kualitas, integritas, kompetensi, prestasi maupun track record
5.Terjebak pada pemikiran fanatik-sempit sehingga menganggap pilihannya sudah benar, padahal ada parpol dan capres lain yang lebih berkualitas
6.Mempunyai kepribadian suka ngeyel. Kalau diberitahu yang benar, selalu menolaknya
7.Wawasan berpikirnya sempit. Tahunya cuma itu-itu saja. Tidak membuka alternatif lainnya.
8.Biasanya dan pada umumnya tingkat kecerdasannya atau IQ-nya rendah
9.Berkepribadian repulsif. Enggan diajak maju
10.Cara memilih yang salah:

-Karena orang Jawa, lantas memilih Jokowi
-Karena ayahnya militer, lantas memilih Prabowo Subianto
-Karena karyawan, lantas memilih ARB
-Karena beragama Isla, lantas memilih PKS
-Dan cara-cara salah lainnya.

Bodoh permanen

Hasil observasi menunjukkan bahwa, 70% pemilih masih tergolong pemilih yang bodoh dan mudah dikadalin politisi. Maklum, sekitar 50% pemilih adalah pemilih yang hanya lulusan SD atau SD tidak tamat. Meskipun demikian, di kalangan berpendidikan SMP, SMA ,S1, S2 dan S3 juga banyak yang cara berpikirnya “fanatik-sempit”. Tidak terbuka adanya alternatif lain. Membutakan matanya dan hatinya terhadap adanya parpol dan capres yang lebih berkualitas. Walaupun sudah diberi tahu ada parpol dan capres yang berkualitas, tetap saja memilih parpol dan capres KW2 atau KW3 atau KW4 yang sangat kecil kemungkinannya memenangkan pemilu. Dan mereka bisa dikategorikan mengalami “bodoh permanen”.

Kesimpulan

1.Sama persis dengan tingkah laku Si B yang lebih suka naik tangga daripada naik lift.
2.Benar juga kalimat yang pernah diucapkan Mario Teguh:
“Orang yang tidak pernah mencoba adalah orang yang tidak bisa diajak maju. Orang yang gagal”.
3.Mereka memilih berdasarkan Ilmu Kira-Kira dan tidak berdasarkan Ilmu Kualitas.

Semoga bermanfaat

Hariyanto Imadha
Pengamat Perilaku

Sejak 1973

 

Iklan

POLITIK: Vox Populi Vox Dei Bukan Suara Rakyat Adalah Suara Tuhan

FACEBOOK-PolitikVoxPopuliVoxDeiBukanSuaraRakyatAdalahSuaraTuhan

SERING kita mendengar kalimat “Vox populi vox Dei” yang diterjemahkan sebagai “Suara rakyat adalah suara Tuhan” seolah-olah suara rakyat tidak pernah salah. Kalimat tersebut sering diucapkan di dalam kontek politik maupun hukum. Sebenarnya kalimat yang merupakan ungkapan tersebut tidak demikian artinya, apalagi kalau dilihat dari sudut pandang epistemologi politik maupun hukum. Sebab, kalimat tersebut merupakan potongan dari kalimat yang agak panjang sehingga kalau ditulis secara lengkap, artinya justru bukan “suara rakyat adalah suara Tuhan”. Ungkapan lama ini sering dikaitkan dengan William of Malmesbury (abad 12) dan surat Alcuin of York kepada Charlemagne pada tahun 798

Arti singkat vox populi vox Dei

Memang, arti singkatnya secara letterlijk atau harafiah adalah: Vox = suara, populi = rakyat vox-suara Dei= Tuhan, atau “suara rakyat adalah suara Tuhan”. Ungkapan “vox populi vox de” biasanya dipercaya secara mentah-mentah bahwa suara rakyat adalah suara Tuhan. Dengan demikian tersirat bahwa pendapat umum selalu benar

Kalimat selengkapnya

Sebenarnya kutipan surat yang ditulis oleh Alcuin of York (735-804), EPISTOLAE 166, paragraf 9, menyiratkan hal yang sebaliknya. Kutipan lengkap berbunyi: “Nec Audienti sunt qui solet docere, vox populi vox dei, cum tumultuositas vulgi semper insanitas proxima est

Terjemahan dalam bahasa Inggeris

“Do not listen to those who are accustomed to teach (claim), ‘The voice of the people is the voice of God’, because the tumult of the masses is always close to insanity.” [Cohen, J.M. & Cohen M.J, 1960 Penguin Dictionary]

Terjemahan dalam Bahasa Indonesia

“Jangan dengarkan orang-orang yang biasa mengklaim bahwa “Suara Rakyat adalah Suara Tuhan”, karena gegap gempitanya rakyat selalu dekat dengan kegilaan.” (Sumber: http://politik.kompasiana.com/2010/04/10/vox-populi-vox-dei-suara-rakyat-suara-tuhan-115155.html)

Dari sudut epistemologi

Dari sudut epistemologi (logika material) sebenarnya tidak mungkin suara rakyat adalah suara Tuhan, sebab rakyat tidak sama dengan Tuhan. Suara rakyat adalah suara rakyat, suara Tuhan adalah suara Tuhan. Menyamakan suara rakyat dengan suara Tuhan tidak mungkin sebab suara rakyat bisa salah, sedangkan suara Tuhan tidak mungkin salah.

Maksud yang sebenarnya

Kalau ungkapan itu dibaca secara lengkapnya, maka maksudnya justru bukan “suara rakyat adalah suara Tuhan”, melainkan punya arti yang sebaliknya, yaitu “jangan percaya kalau ada yang mengatakan suara rakyat adalah suara Tuhan”, sebab itu merupakan klaim yang salah, seolah-olah suara rakyat tidak bisa salah. Padahal sesungguhnya suara rakyat bisa salah”.

Suara rakyat adalah suara rakyat

Dengan demikian, arti yang sesungguhnya adalah : suara rakyat adalah suara rakyat, suara Tuhan adalah suara Tuhan. Suara rakyat bukan suara Tuhan dan suara Tuhan bukanlah suara rakyat.

Di dalam kontek demokrasi

Demokrasi cenderung berkonotoasi “suara mayoritas adalah suara kebenaran”. Dan jika dikaitkan dengan “vox populi vox dei”, maka akan diterjemahkan secara keliru bahwa “suara terbanyak adalah suara Tuhan”. Tetap saja ini merupakan terjemahan yang keliru.

Kesimpulan

1.”Vox populi vox dei, suara rakyat adalah suara Tuhan”, merupakan terjemahan yang secara bahasa benar, tetapi secara epistemologi (logika material) justru terjemahan yang salah dan bersifat manipulatif. Merupakan terjemahan bersifat manipulasi.

2.Kalau kalimat yang seutuhnya dibaca, maka sesungguhnya ungkapan tersebut merupakan ketidaksetujuan terhadap pendapat orang yang mengklaim bahwa suara terbanyak dari rakyat adalah suara yang benar.

3.Dengan demikian, capres-cawapres dan semacamnya serta caleg dan semacamnya yang dipilih berdasarkan suara terbanyak, bukanlah representasi dari suara Tuhan, melainkan representasi suara rakyat atau pilihan rakyat yang belum tentu benar.

Hariyanto Imadha
Pengamat perilaku
Sejak 1973

 

POLITIK: Beda Golput Koplak Dan Golput Cerdas

FACEBOOK-PolitikBedaGolputKoplakDanGolputCerdas

GOLPUT adalah hak setiap warganegara dan merupakan hak konstitusional. Juga, merupakan hak pribadi. Mereka yang anti golput pastilah orang-orang yang tidak faham konstitusi. Tidak faham undang-undang pemilu. Suka mencampuri urusan orang lain dan berkepribadian sirik. Bahkan, sikap anti golput merupakan sikap koplak dan gemblung. Lebih parah lagi, membenci golput merupakan gejala sakit jiwa tahap awal. Sangat banyak alasan golput, mulai dari alasan subjektif hingga alasan objektif.

Apakah golput itu?
Golput atau golongan putih adalah merupakan pilihan untuk tidak memilih. Merupakan hak pribadi, hak konstitusional dan tidak melanggar undang-undang pemilu maupun undang-undang maupun peraturan yang manapun juga. Golput juga merupakan keputusan yang diambil berdasarkan situasi dan kondisi baik yang bersifat subjektif maupun objektif baik secara internal maupun eksternal.

Ada berapa macam golput?

Dari sudut kecerdasan, ada dua macam golput

Yaitu:

1.Golput koplak
2.Golput cerdas
3.Golput lain-lain

Ad.1.Golput koplak

Ciri-ciri golput koplak:

-Ada capres dan caleg berkualitas (bersih,jujur,cerdas,track record baik) tapi tidak dipilih

-Sebagian dari mereka datang ke TPS tetapi dicoblos semua
-Sebagian dari mereka juga tidak datang ke TPS

-Biasanya mereka mempunyai sikap:

a.Apatis
b.Skeptis
c.Pesimis

Ad.a.Apatis

Apatis adalah sikap acuh tidak acuh; tidak peduli; masa bodoh, kurangnya emosi, motivasi atau antusiasme, hilangnya simpati, hilangnya ketertarikan dan hilangnya kepercayaan.

Ad.b.Skeptis

Skeptis adalah sikap ragu-ragu, kurang percaya,kurang yakin,sinisme,tidak percaya terhadap kemampuan atau kepribadian seseorang (capres maupun caleg).

Ad.c.Pesimis

Yaitu orang yang berpandangan tidak baik terhadap hasil kerja atau hasil usaha orang lain atau dirinya sendiri terhadap fakta yang akan terjadi.  Atau memandang sesuatu dengan pandangan negatif, padahal belum tentu negatif.

Ad.2.Golput cerdas

-Tidak ada capres dan caleg berkualitas dan tidak perlu dipilih. Semuanya tidak bersih, tidak jujur dan track recordnya buruk

-Mereka pasti datang ke TPS dan mencoblos semua

Biasanya mereka mempunyai sikap

a.Peduli  (Care)
b.Tidak ragu-ragu (Sure)
c.Optimis (Optimist)

Ad.a.Peduli (Care)

Yaitu sikap yang peduli terhadap kepentingan bangsa dan negara, agar tidak dipimpin oleh capres/caleg yang tidak berkualitas.

Ad.b.Tidak ragu-ragu (Sure)

Yaitu sikap yang pasti tidak memilih karena benar-benar sudah tahu tidak ada capres dan caleg yang berkualitas

Ad.c.Optimis

Yaitu sikap yang penuh keyakinan bahwa capres dan caleg yang ada pasti akan membawa bangsa dan negara ke arah Indonesia yang lebih buruk. Dan dengan tidak memilih mereka, besar kemungkinan akan merupakan shock therapy bagi parpol agar di kemudian hari menampilkan capres dan caleg yang berkualitas. Dan optimis, pemilu mendatang pasti ada capres/caleg yang berkualitas.

 Ad.3.Golput lain-lain

Yaitu sikap golput karena alasan lain-lain:

-Karena sakit di rumah
-Karena lupa
-Karena ada musibah di rumah
-Karena kecelakaan lalu lintas
-Karena TPS-nya sangat jauh
-Karena situasi dan kondisi yang tidak memungkinkan datang ke TPS
-Karena tidak memenuhi syarat administratif sebagai pemilih
-Karena adat istiadat dan tradisi (suku Badui Dalam)
-Karena diintimidasi
-Karena ada teror
-Karena lupa
-Karena datang terlambat ke TPS
-Karena mementingkan mencari uang yang hasilnya hanya cukup untuk dimakan sehari
-Karena pihak panitia tidak tahu pemilih harus memilih di mana
-Karena tidak terdaftar di DPT dan semacamnya
-Karena E-KTP atau semacamnya sedang hilang
-Karena secara fisikologis dan psikologis tidak memungkinkan datang ke TPS
-Karena diberi uang untuk tidak memilih
-Karena ikut-ikutan golput tanpa alasan yang jelas
-Karena tidak tahu kriteria capres dan caleg yang berkualitas
-Karena tidak tahu mana capres dan caleg yang berkualitas dan mana yang tidak berkualitas
-Karena tidak memiliki informasi tentang kualitas, integritas, kompetensi, prestasi, track record, kepribadian, visi dan misi serta program kerja capres dan caleg.
-Karena trauma. Berkali-kali memilih capres/caleg, ternyata semuanya pembohong, korupsi dan tidak bermoral.
-Karena sengaja golput tanpa punya alasan apa-apa.
-Karena malas memilih.
-Karena memilih tidak memilih tidak dapat uang, lebih baik tidak memilih.
-Dan masih ada ratusan atau ribuan alasan golput lainnya.

Golput Lain-lain tidak bisa dikelompokka dalam ketegori Golput Koplak maupun Golput Cerdas

 

Hariyanto Imadha
Pengamat perilaku
Sejak 1973

POLITIK: Analisa Perjanjian Batu Tulis

FACEBOOK-PolitikAnalisaPerjanjianBatuTulis

JAKARTA – Partai Demokrasi Indonesia (PDI) Pejuangan telah mengusung Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo sebagai calon Presiden pada Pemilu 2014. Tak terima, Partai Gerindra pun mengusut perjanjian keduanya pada 2009 yang dikenal dengan batu tulis.

Wakil Ketua Dewan Pembina Partai Gerindra, Hashim Djojohadikusumo memastikan  perjanjian Batu Tulis yang disepakati pada 2009 lalu menyebut, PDI Perjuangan akan memberikan dukungannya terhadap Prabowo Subianto sebagai calon presiden 2014.

Berikut isi keseluruhan perjanjian yang ditandatangani pada 16 Mei 2009 itu:

Kesepakatan Bersama PDI Perjuangan dan Partai Gerindra dalam Pemilihan Umum Presiden dan Wakil Presiden Negara Kesatuan Republik Indonesia 2009-2014

Megawati Soekarnopitri sebagai Calon Presiden, Prabowo Subianto sebagai Calon Wakil Presiden

1. Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDI Perjuangan) dan Partai Gerakan Indonesia Raya (Partai Gerindra) sepakat mencalonkan Megawati Soekarnoputri sebagai Calon Presiden dan Prabowo Subianto sebgai calon Wakil Presiden dalam Pemilihan Umum Presiden dan Wakil Presiden 2009.

Analisa 1:

Sudah menjadi fakta masa lalu dan tidak perlu dipersoalkan.

2. Prabowo Subianto sebagai Calon Wakil Presiden, jika terpilih, mendapat penguasaan untuk mengendalikan program dan kebijakan kebangkitan ekonomi Indonesia yang berdasarkan asas berdiri di kaki sendiri, berdaulat di bidang politik, dan berkepribadian nasional di bidang kebudayaan dalam kerangka sistim presidensial. Esensi kesepakatan ini akan disampaikan Megawati Soekarnoputri pada saat pengumuman pencalonan Presiden dan calon Wakil Presiden serta akan dituangkan lebih lanjut dalam produk hukum yang sesuai dengan perundang-undangan yang berlaku.

Analisa 2:

Merupakan pengandaian “jika” “maka”. Antara lain “jika terpilih”…dst. Ternyata faktanya Megawati-Prabowo tidak terpilih, maka pasal ini tidak berlaku.

3. Megawati Soekarnoputri dan Prabowo Subianto bersama-sama membentuk kabinet berdasarkan pada penugasan butir 2 di atas. Prabowo Subianto menentukan nama-nama menteri yang terkait, menteri-menteri tersebut adalah: Menteri Kehutanan, Menteri Pertanian, Menteri Keuangan, Menteri BUMN, Menteri ESDM, Menteri Kelautan dan Perikanan, Menteri Perindustrian, Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi, Menteri Hukum dan HAM, dan Menteri Pertahanan.

Analisa 3:

Tidak berlaku, karena faktanya Megawati-Prabowo tidak terpilih.

4. Pemerintah yang terbentuk akan mendukung program kerakyatan PDI Perjuangan dan 8 (delapan) program aksi Partai Gerindra untuk kemakmuran rakyat.

Analisa 4:

Tidak berlaku, karena tidak ada pemerintahan Megawati-Prabowo.

5. Pendanaan pemenangan Pemilu Presiden dan Wakil Presiden 2009 ditanggung secara bersama-sama dengan prosentase 50% dari pihak Megawati Soekarnoputri dan 50% dari pihak Prabowo Subianto.

Analisa 5:

Hanya berlaku pada Pemilu 2009.

6. Tim sukses pemenangan Pemilu Presiden dan Wakil Presiden dibentuk bersama-sama melibatkan kader PDI Perjuangan dan Partai Gerindra serta unsur-unsur masyarakat.

Analisa 6:

Sudah dilakukan dan merupakan fakta masa lalu.

7. Megawati Soekarnoputri mendukung pencalonan Prabowo Subianto sebagai Calon Presiden pada Pemilu Presiden tahun 2014.

Analisa 7:

Tidak jelas, dukungan dalam bentuk apa. Dukungan moral? Dukungan politik? Dukungan dana? Tidak ada penjelasan soal ini sehingga hanya akan memunculkan penafsiran-penafsiran subjektif.

Kesimpulan:

1.Kalau hanya dilihat pasal/butir ke 7 saja:

Meskipun demikian, dari sudut etika politik, seharusnya Megawati Soekarnoputri harus memberikan dukungan ke Prabowo dalam bentuk dukunan moral, politik dan dana, tentunya. Ini dari segi etika politik, bukan dari segi hukum. Meskipun demikian, andaikan Prabowo menggugat, maka gugatan Prabowo Subianto  ke Megawati/PDI-P secara hukum sangat dimungkinkan, namun hanya menyangkut pasal 7 saja.

2.Kalau dilihat seluruh pasal.butir sebagai sebuah kesatuan

Pasal/butir 1 hingga 7 sebenarnya merupakan “pengandaian” atau “persyaratan” implisit apabila Megawati-Prabowo menang dalam Pemilu 2009. Faktanya, “pengandaian” atau rencana itu tidak menjadi kenyataan, sehingga pasal/butir 7-pun tidak berlaku lagi. Dalam kegagalan Pemilu 2009, kedua belah pihak sama-sama menanggung kerugian, baik kerugian moral, politik maupun dana.

Jakarta 16 Mei 2009

Megawati Soekarnoputri

Prabowo Subianto (keduanya tandatangan di atas materai Rp 6.000 (kem)

Sumber naskah : http://pemilu.okezone.com/read/2014/03/18/568/956642/ini-isi-perjanjian-batu-tulis-antara-megawati-dengan-prabowo

Hariyanto Imadha
Pengamat perilaku
Sejak 1973

POLITIK: Beda Caleg Koplak Dan Caleg Cerdas

FACEBOOK-PolitikBedaCalegKoplakDanCalegCerdas

MENJELANG pemilu legislatif, maka bermunculanlah tampang-tampang para caleg. Dipasang di pohon, di tembok. Di kaca mobil dan di mana-mana. Menyebarkan brosur, pamflet, spanduk, baliho, kartu nama dan lain-lain. Pasang iklan di radio, koran, internet dan lain-lain. Bermacam-macamlah caranya. Dan tak ketinggalan mengobral janji-janji. Lucunya, sebagian besar, mungkin sekitar 99% caleg adalah caleg koplak. Caleg yang mungkin tidak memahami politik atau bisa juga tidak memahami logika politik.

Apakah caleg itu?

Caleg adalah calon legislator atau calon anggota lembaga legislatif atau calon anggota DPRRI/DPR Dati I/DPR Dati II.

Apa ciri-ciri caleg koplak?

Bisa dilihat dari janji-janjinya. Antara lain:

-Sembako murah

-Membangun infra struktur berbagai bidang

-Meningkatkan kesejahteraan petani, nelayan dan buruh

-Kesehatan gratis

-Meningkatkan kesejahteraan dan status guru honorer

-Membantu pembinaan dan kemajuan pengusaha kecil

-Memperjuangkan hak-hak kaum disabilitas (penyandang cacat)

-Mengurangi kemiskinan

-Menciptakan lapangan kerja

-Membangun puskesmas/puskesdes sampai ke pelosok-pelosok dan pedalaman-pedalaman

-Dan janji-janji lainnya

Kenapa kok mereka dikatakan sebagai caleg koplak?

Sebab, janji-janji yang diucapkan adalah wewenangnya calek atau calon anggota lembaga eksekutif (cawali, cabup, cagub capres atau parpol), bukan wewenangnya caleg (calon anggota lembaga legislatif).

Ciri-ciri lain caleg koplak

-Minta bantuan dukun atau paranormal

-Ziarah dan meminta doa restu

-Melakukan ritual-ritual klenik, mistik dan syirik

-Jual rumah, tanah, mobil, perhiasan sehingga dalam posisi miskin

-Terlalu banyak utang ke berbagai pihak

-Politik uang atau money politic

-Mengobral janji-janji yang tidak realistis yang seringkali tidak ditepati

-Menjual ketenarannya sebagai artis padahal tidak punya kompetensi

-Memamerkan gelar-gelar sarjananya berderet-deret padahal dari perguruan tinggi abal-abal atau gelar palsu

-Menjual atau memperalat ayat-ayat suci agama, terutama Al Quran

Apa ciri-ciri caleg cerdas?

Bisa dilihat dari janji-janjinya. Antara lain:

-Membuat undang-undang yang pro rakyat

-Merevisi undang-undang yang tidak pro rakyat

-Mengefektifkan pengawasan terhadap lebaga eksekutif

-Membuat undang-undang pembuktian terbalik

-Membuat anggaran di APBN sehemat mungkin

-Membuat undang-undang pemilu yang benar-benar jujur

-Membuat undang-undang yang melarang pejabat-pejabat eksekutif merangkap jabatan di partai politik dan juga melarang melakukan kegiatan politik termasuk kampanye

-Membuat undang-undang yang memberikan sanksi yang tegas bagi anggota DPR yang tidak disiplin

-Merevisi KUHP dan KUHAP yang memperkuat kegiatan antikorupsi dan semacamnya

-Membuat undang-undang sumber daya alam dan sumber daya ekonomi yang 75% lebih menguntungkan bangsa dan negara Indonesia daripada negara atau investor asing mauun pihak swasta dalam negeri.

Kenapa kok mereka dikatakan sebagai caleg cerdas?

Sebab mereka tahu bahwa mereka adalah calon anggota DPRRI/DPRD Dati I/DPRD Dati II yang mempunyai tiga fungsi pokok. Yaitu:

Fungsi

DPR mempunyai fungsi ; legislasi, anggaran, dan pengawasan yang dijalankan dalam kerangka representasi rakyat.

Legislasi

Fungsi legislasi dilaksanakan sebagai perwujudan DPR selaku pemegang kekuasaan membentuk undang-undang.

Anggaran

Fungsi anggaran dilaksanakan untuk membahas dan memberikan persetujuan atau tidak memberikan persetujuan terhadap rancangan undang-undang tentang APBN yang diajukan oleh Presiden.

Pengawasan

Fungsi pengawasan dilaksanakan melalui pengawasan atas pelaksanaan undang-undang dan APBN.

Ciri-ciri lain caleg cerdas

-Melakukan pendekatan ke masyarakat sejak lama

-Tidak terlalu banyak janji

-Tidak melakukan politik uang atau money politic, iming-iming dan tidak bagi-bagi barang/hadiah.

-Bergaul dan berinteraksi langsung dengan rakyat, memperkenalkan diri, membagikan kartu nama atau brosur dan menyampaikan janji-janji yang realistis

-Modal sendiri tanpa menyebabkan jatuh miskin

-Siap kalah dan siap menang serta siap mental dan bersikap realistis. Punya motto: Kalah Ra Popo.

-Melakukan kampanye-kampanye yang hemat tetapi efektif, blusukan, menjalin silaturahim, dan menitikberatkan human relation yang baik.

-Bersikap santun , persuasif dan pandai meyakinkan

-Tidak menjual atau memperalat ayat-ayat suci tertama Al Quran dan menghindari klenik, mistik dan syirik serta menjauhi hal-hal yang tidak rasional.

-Punya integritas, prestasi dan track record yang positif

Hariyanto Imadha
Pengamat perilaku
Sejak 1973

POLITIK: Aku Ra Milih Capres/Caleg Ra Mutu Aku Ra Popo

GOLPUT-AkuRaMilihCapresCalegRaMutuAkuRapopo

ORANG Indonesia memang banyak yang tidak cerdas. Setiap menjelang pemilu (pileg/pilpres) atau pilkada/pemilu  selalu muncul komentar-komentar sinis terhadap mereka yang golput. Bermacam-macam celaan dan komentar-komentar negatif dilontarkan kepada mereka yang golput. Seolah-olah mereka yang tidak golput merasa menjadi pahlawan bangsa dan neagara. Padahal, banyaknya politisi yang korup adalah merupakan hasil daripada mereka yang tidak golput. Sebagian dari mereka tidak golput karena takut ini takut itu atau memilih berdasarkan alasan-alasan yang tidak rasional. Apalagi, 70% pemiih adalah rakyat yang tidak faham politik dalam arti yang sesungguhnya.

Golput

1.Merupakan hak setiap warganegara (memilih atau tidak memilih adalah “hak”, bukan “kewajiban”).

2.Tidak bertentangan dengan Pancasila, UUD 1945, NKRI maupun Bhineka Tunggal Ika

3.Tidak melanggar UU Pemilu dan undang-undang apapun juga

4.Tidak melanggar peraturan apapun juga

5.Tidak melanggar norma-norma sosial, politik, hukum maupun agama

6.Tetap merupakan warganegara yang baik karena membayar pajak dan mematuhi semua peraturan perundang-undangan

7.Mempunyai berbagai alasan subjektif-rasional  dan objektif-rasional

8.Merupakan hak pribadi yang tidak boleh dicampuri orang lain

9.Tidak melanggar hak azasi manusia

10.Tidak merugikan negara karena mempunyai banyak kontribusi : membayar pajak, bela negara, menjaga keamanan dan ketertiban, berpartisipasi dalam pembangunan dan berbagai kontribusi lainnya.

Golput rasional

Alasan golput rasional :”Kalau tidak ada capres/caleg yang tidak berkualitas, maka pilihan terbaik adalah tidak memilih. Sebab, salah pilih akan menghasilkan pemimpin dan wakil rakyat yang korup”.  Semua orang yang golput punya alasan yang rasional, baik rasional-subjektif maupun rasional-objektif.

Aku ra milih capres/caleg ra mutu aku ra popo

Dengan demikian, tidak memilih dengan alasan karena tidak ada capres/caleg yang berkualitas, tidak masalah bagi mereka yang golput.

Anti golput merupakan sikap sirik

Justru mereka yang tidak golput dan anti golput merupakan sikap:

-sirik

-tidak rasional

-tidak demokratis

-mencampuri  dan melanggar hak pribadi orang lain

-sok warganegara yang baik dan sok faham politik

Sumber gambar asli: muslimdaily.net

Hariyanto Imadha
Pengamat perilaku
Sejak 1973

LOGIKA: Kata Bijak JF Kennedy Yang Ditafsirkan Secara Menyesatkan

JFKennedy-wwwthefamouspeoplecom

ORANG yang tidak memahami Ilmu Logika secara sempurna, seringkali menelan mentah-mentah kata-kata bijak, motivasi, atau pendapat yang sepintas kelihatannya benar, padahal tidak benar atau tidak sesuai dengan maksud yang sesungguhnya. Di sebuah TV Swasta  menjelang pileg (pemilu legislatif) ditayangkan berkali-kali ucapan JF Kennedy yang memberikan kesan bahwa seolah-olah mereka yang golput itu merupakan rakyat yang tidak berbuat apa-apa atau dianggap tidak punya kontribusi kepada negara. Tentu, itu merupakan logika yang sangat menyesatkan.

A.Pernyataan  JF Kennedy
Kennedy dilantik presiden pada tanggal 20 Januari 1961, dan pada saat itulah ia sangat terkenal dengan pidatonya: “Jangan tanya apa yang dapat diperbuat oleh negara kepadamu, tetapi tanyakanlah apa yang dapat kau buat bagi negara!” (Sumber: http://politik.kompasiana.com/2010/05/28/john-f-kennedy-jangan-tanyakan-apa-yang-negara-buat-tapi-152426.html)

Kritik terhadap pernyataan JF Kennedy

Pernyataan Kennedy sebagai kutipan dari Cicero dikemudian hari mendapat kritikan, karena bahaya hilangnya peran serta eksistensi individu dalam negara dalam paham totalitarian-integralistik. Seolah warga-negara hanya tunduk dan patuh tanpa sikap kritis pada pelanggaran hukum dan konstitusi yang sebenarnyalah menjadi kontrak sosial individu dan Negara, yang sekarang tak bosan-bosannya kita mengulangi. (Sumber: http://politik.kompasiana.com/2010/05/28/john-f-kennedy-jangan-tanyakan-apa-yang-negara-buat-tapi-152426.html).

Kesalahan logika pernyataan JF Kennedy

1.Pernyataan JF Kennedy memberi kesan, seolah-olah rakyat tidak berbuat apa-apa. Seolah rakyat yang golput tidak punya kontribusi apa-apa terhadap negara. Padahal banyak hal dan kontribusi yang dibuat oleh rakyat buat negara, antara lain:

-Di bidang pajak

-Di bidang seni dan budaya

-Di bidang bela bangsa dan negara

-Di bidang perekonomian

-Di bidang pembangunan

-Di berbagai bidang lainnya.

Justru, rakyat yang harus balik bertanya:

-Apa yang dilakukan oleh negara atas pajak-pajak yang telah dibayarkan rakyat?

-Apa yang dilakukan negara terhadap penegakan hukum, terutama pemberantasan korupsi?

-Apa yang dilakukan negara dalam rangka kedaulatan pangan?

-Dan berbagai pertanyaan lainnya.

Tidak ada hubungannya dengan pemilu

Kata bijak JF Kennedy yang ditayangkan di TV dan dikaitkan dengan pemilu memberi kesan bahwa:

-“Tidak memilih berarti tidak berbuat apa-apa”.

Ini merupakan logika yang salah san menyesatkan.

Logika yang benar
a-Tentu ini merupakan logika yang sempit, sebab berbuat untuk negara tidak harus memilih dalam pemilu. Apalagi menurut UU Pemilu, memilih adalah hak.

b-Rakyat akan menggunakan hak pilihnya kalau ada capres/caleg yang berkualitas. Sebaliknya,rakyat tidak akan memilih kalau tidak ada capres/caleg yang berkualitas.

c-Dengan tidak memilih karena tidak ada capres/caleg yang berkualitas, maka sesungguhnya rakyat telah menyelamatkan negara dan bangsa dari pemimpin yang dzolim dan korup. Justru, lahirnya seorang yang dzolim dan korup dilakukan oleh mereka yang tidak golput

d-Kualitas pemimpin tidak ditentukan oleh golput atau tidak golputnya rakyat, tetapi ditentukan oleh berkualitas atau tidak berkualitasnya capres/caleg.

e-Ada perubahan yang lebih baik atau tidak, tidak ditentukan oleh golput atau tidak golputnya rakyat, tetapi ditentuan oleh berkualitas atau tidak berkualitasnya capres/caleg.
f-Walaupun rakyat golput, kalau capres/calegnya berkualitas, hasilnya berkualitas juga. Sebaliknya, walaupun rakyat tidak golput, kalau capres/calegnya berkualitas, hasilnya berkualitas juga.

g. Walaupun rakyat golput, kalau capres/calegnya tidak berkualitas, hasilnya tidak berkualitas juga. Sebaliknya, walaupun rakyat tidak golput, kalau capres/calegnya tidak berkualitas, hasilnya tidak berkualitas juga.

h.Kualitas pemerintahan ditentukan oleh kualitas capres/caleg, tidak ditentukan oleh golput atau tidak golputnya rakyat.

Sumber foto JF Kennedy: http://www.thefamouspeople.com

Hariyanto Imadha
Pecinta Logika Terapan
Sejak 1973