• PARTAI POLITIK

    gambarbannerpartaigasing1

    gambarbannerpartaiyoyo1

    logo-apajpg1

    logo-barisannasionaljpg4

    logo-bulanbintangjpg1

    logo-gerindrajpg

    logo-hanurajpg

    logo-panjpg1

    logo-partaidemokratjpg

    logo-partaigarudajpg

    logo-partaigolkarjpg

    logo-pdipjpg

    logo-pibjpg

    logo-pkbjpg

    logo-pkdjpg

    logo-pknujpg

    logo-pkpjpg

    logo-pksjpg

    logo-pmbjpg

    logo-pnimarhaenjpg

    logo-ppijpg

    logo-pppjpg

  • Iklan

POLITIK: Kenapa Ada Orang-Orang Yang Tetap Mempertahankan Pilihan Politiknya Yang Salah?

FACEBOOK-PolitikKenapaAdaOrangOrangYangTetapMempertahankanPilihanPolitiknyaYangSalah

POLITIK.Politik itu bisa putih bisa hitam. Bisa jujur bisa tidak jujur. Tergantung politisinya. Namun biasanya, kalau pimpinan politiknya tidak jujur dan korup, maka ke bawahnya juga sama : tidak jujur dan korup. Kalau pimpinan politiknya emosional, maka para partisipannya juga emosional. “Berlaku hukum Komunitas” :” Orang baik akan memilih pemimpin yang baik dan orang tidak baik akan memilih pemimpin yang tidak baik”.

Faktanya, banyak orang-orang yang fanatik pada satu partai saja dan siapapun yang dicapreskan pasti dipilih. Padahal banyak orang partai tersebut popularitas dan elektabiitasnya rendah. Capresnya juga tidak punya prestasi. Track recordnya biasa-biasa saja. Bahkan ada capres yang track recordnya hitam, tetap juga dipilih. Kenapa ada orang-orang yang sulit merubah pandangannya dan pilihannya yang salah itu?

Analogi

Sebelum melangkah ke paragraf berikutnya, baca dulu sedikit cerita ini.

Dulu, jamannya pager (alat komunikasi), Si A sering membayar iuran ke Wisma Nusantara. Kalau tidak salah di lantai 7 dan biasa naik memakai lift. Tetapi di lain hari, Si A bertemu dengan teman lamanya yang juga akan membayar iuran pager.

Si A pun mengajak Si B naik lift, tetapi Si B menolak dan memilih naik lewat tangga. Si A pun mengalah. Si A dan Si B pun naik ke lantai 7 lewat tangga.

Bulan berikutnya, Si A tak sengaja bertemu lagi dengan Si B yang juga akan membayar iuran pager. Si A pun mengajak naik lift. Lagi-lagi Si B menolak dan tetap lewat tangga.

Hal demikian terjadi hingga tiga kali. Akhirnya bulan berikutnya Si A bertanya.

Si A: “Kok tidak mau naik lift kenapa?”
Si B: “Gak enak naik lift. Udaranya sumpek”
Si A: “Pernah naik lift?”
Si B: “Hmmm…Belum pernah”

Nah, kesimpulannya silahkan ambil sendiri.

Yang pasti, Mario Teguh pernah berkata:
“Orang yang tida pernah mencoba adalah orang yang tidak bisa diajak maju. Orang yang gagal”.

Sekarang, Kenapa ada orang-orang yang tetap mempertahankan pilihan politiknya yang salah?

Secara singkat, jawabannya sama dengan kalimat yang pernah diucapkan Mario Teguh:
“Orang yang tidak pernah mencoba adalah orang yang tidak bisa diajak maju. Orang yang gagal”.

Secara psikologi-politik antara lain disebabkan

1.Pengetahuan dan pemahamannya tentang partai-partai politik sangat terbatas
2.Seleranya terjebak dapa figur capres yang suka mengobral janji-janji sorga
3.Memilih parpol sesuai dengan kesamaan agama, suku, ideologi atapun perilakunya
4.Memilih berdasarkan Ilmu Kira-Kira dan tidak berdasarkan kualitas, integritas, kompetensi, prestasi maupun track record
5.Terjebak pada pemikiran fanatik-sempit sehingga menganggap pilihannya sudah benar, padahal ada parpol dan capres lain yang lebih berkualitas
6.Mempunyai kepribadian suka ngeyel. Kalau diberitahu yang benar, selalu menolaknya
7.Wawasan berpikirnya sempit. Tahunya cuma itu-itu saja. Tidak membuka alternatif lainnya.
8.Biasanya dan pada umumnya tingkat kecerdasannya atau IQ-nya rendah
9.Berkepribadian repulsif. Enggan diajak maju
10.Cara memilih yang salah:

-Karena orang Jawa, lantas memilih Jokowi
-Karena ayahnya militer, lantas memilih Prabowo Subianto
-Karena karyawan, lantas memilih ARB
-Karena beragama Isla, lantas memilih PKS
-Dan cara-cara salah lainnya.

Bodoh permanen

Hasil observasi menunjukkan bahwa, 70% pemilih masih tergolong pemilih yang bodoh dan mudah dikadalin politisi. Maklum, sekitar 50% pemilih adalah pemilih yang hanya lulusan SD atau SD tidak tamat. Meskipun demikian, di kalangan berpendidikan SMP, SMA ,S1, S2 dan S3 juga banyak yang cara berpikirnya “fanatik-sempit”. Tidak terbuka adanya alternatif lain. Membutakan matanya dan hatinya terhadap adanya parpol dan capres yang lebih berkualitas. Walaupun sudah diberi tahu ada parpol dan capres yang berkualitas, tetap saja memilih parpol dan capres KW2 atau KW3 atau KW4 yang sangat kecil kemungkinannya memenangkan pemilu. Dan mereka bisa dikategorikan mengalami “bodoh permanen”.

Kesimpulan

1.Sama persis dengan tingkah laku Si B yang lebih suka naik tangga daripada naik lift.
2.Benar juga kalimat yang pernah diucapkan Mario Teguh:
“Orang yang tidak pernah mencoba adalah orang yang tidak bisa diajak maju. Orang yang gagal”.
3.Mereka memilih berdasarkan Ilmu Kira-Kira dan tidak berdasarkan Ilmu Kualitas.

Semoga bermanfaat

Hariyanto Imadha
Pengamat Perilaku

Sejak 1973

 

Iklan

POLITIK: Pemimpin Tidak Berkualitas, Harus Segera Dilengserkan atau Kita Tunggu Sampai Masa Jabatannya Habis?

Gambar

MARILAH kita menggunakan logika-politik dengan benar. mana yang lebih baik melengserkan pemimpin yang terbukti tidak berkualitas atau menunggu sampai jabatannya berakhir baru kita ganti? Tentu kita harus berhitung untung ruginya. Tentu kita harus punya kriteria pemimpin berkualitas atau tidak berkualitas. Tentu kita harus mendengarkan suara atau aspirasi rakyat. Tentu kita harus memperhitungkan dan memilih caranya pergantian pemimpin dan lain-lain.

Analogi

Kalau Anda mempunyai gejala penyakit jantung, apakah Anda segera ke dokter / rumah sakit ataukah Anda menunggu sampai penyakit jantung Anda parah baru ke dokter / rumah sakit? Logika yang waras tentu akan memilih opsi yang pertama, yaitu segera ke dokter / rumah sakit begitu ada gejala penyakit jantung.

Ketika Anda tahu ketua RT Anda tidak mampu menjalankan fungsinya dengan baik, apakah Anda cukup menegurnya tapi tidak ada perubahan, ataukah Anda melengserkannya atau menunggu masa jabatan ketua RT berakhir dengan kondisi RT berantakan?

Pertanyaannya

Banyak pihak mengatakan presiden kita tidak mampu mengelola bangsa dan negara, tidak mampu mandiri pangan, kinerjanya di berbagai sektor buruk, utang terus bertambah, kekayaan migas dan tambang lebih dinikmati kapitalis asing daripada bangsa sendiri, kasus-kasus korupsi besar tak terungkap, pelanggaran HAM berat tak diadili, harga sembako mahal, dan berbagai sektor dinilai gagal, Anda akan tetap mempertahankan presiden yang demikian sampai akhir masa jabatannya dengan meninggalkan bangsa dan negara lebih terpuruk lagi, ataukah Anda akan segera melengserkannya? Orang yang logika-politiknya waras tentu akan memilih opsi segera melengserkannya.

Apakah penggantinya lebih baik?

Pertanyaan itu tentu bisa dijawab “ya” dan “tidak”. Bisa dijawab lebih baik, sama saja atau lebih buruk. Pertanyaannya, apakah kita bisa memastikan penggantinya lebih baik, sama saja atau lebih buruk? Tentu harus kita persiapkan calon-calon penggantinya dengan kriteria calon pemimpin yang baik. Misalnya :shiddiq, tabliq,amanah dan fatonah.

Apakah ada calon pemimpin yang berkualitas?

Pasti ada. Cuma masalahnya, apakah calon pemimpin berkualitas sudah dicalonkan, maukah dicalonkan,apakah rakyat sudah bisa membedakan mana calon pemimpin yang berkualitas atau tidak berkualitas? Apakah sistem politiknya sudah memungkinkan tampilnya pemimpin yang berkualitas? Bagaimana kalau tidak ada, apakah pemimpin yang sekarang terbukti tidak berkualitas harus segera kita lengserkan atau kita pertahankan sampai masa jabatannya berakhir dan akan digantikan oleh caln-calon pemimpin lainnya yang belum tentu berkualitas?

Jangan menggunakan logika yang apriori

Berpikir sekarang adalah berpikir aposteriori. Berpikir realistis. Fakta bahwa pemimpin kita sekarang memang terbukti tidak berkualitas dan mempunyai banyak penyimpangan kepribadian. Kalau boleh pinjam istilah agama: banyak mudaratnya daripada manfaatnya. Bahkan tokoh-tokoh lintas agama dan berbagai elemen masyarakat sudah menunjukkan berbagai kelemahan pemimpin kita sekarang ini. Oleh karena itu, melengserkan atau memohon pemimpin sekarang untuk mengundurkan diri adalah merupakan harapan yang sangat realistis.

Apakah penggantinya sama saja, lebih baik atau lebih buruk?

Kita bukan paranormal. Kita juga tidak boleh berpikir apriori dan menjawab: penggantinya pasti sama saja, pasti lebih baik atau pasti lebih buruk.

Politik bukanlah matematika

Apakah pengganti pemimpin kita nantinya sama saja,lebih baik atau lebih buruk, tidak ada hitung-hiitungan matematikanya. Yang penting pemimpin yang tidak berkualitas harus segra diganti, melalui imbauan ataupun melalui revolusi dan jika perlu melalui kudeta yang berhasil. Namun, cara pertama yang terbaik, yaitu melalui imbauan.

Tergantung sejarah

Akhirnya, apakah pemimpin kita jadi segera atau menunggu sampai akhir masa jabatannya, tentu tergantung kepada fakta sejarah. kalau pemimpinnya tidak mau mengundurkan diri, imbauan untuk mengundurkan diri tidak dipatuhi, revolusi tidak ada, kudetav tidak ada, maka kita akan mengikuti fakta sejarah.

 Kesimpulan

Mengganti segera pemimpin yang tidak berkualitas merupakan cara berlogika yang logis. Namun, fakta sejarahlah yang akan membuktikan kebenaran sejarah. Sebab, kebenaran sebuah logika politik terletak kepada fakta sejarah yang objektif. Sebuah kebenaran logika kalau tidak mendapatkan dukungan rakyat, tidak akan menjadi kebenaran yang faktual.

Semoga bermanfaat.

Hariyanto Imadha

Pengamat perilaku politk

Sejak 1973