• PARTAI POLITIK

    gambarbannerpartaigasing1

    gambarbannerpartaiyoyo1

    logo-apajpg1

    logo-barisannasionaljpg4

    logo-bulanbintangjpg1

    logo-gerindrajpg

    logo-hanurajpg

    logo-panjpg1

    logo-partaidemokratjpg

    logo-partaigarudajpg

    logo-partaigolkarjpg

    logo-pdipjpg

    logo-pibjpg

    logo-pkbjpg

    logo-pkdjpg

    logo-pknujpg

    logo-pkpjpg

    logo-pksjpg

    logo-pmbjpg

    logo-pnimarhaenjpg

    logo-ppijpg

    logo-pppjpg

  • Iklan

POLITIK: 10 Alasan Kenapa Jokowi Tidak Layak Nyapres 2014

Jokowi-GubernurDKIJakartaTransberitaCom

MEMANG, berdasarkan hasil survei manapun, nama Jokowi hampir selalu menempati peringkat pertama. Bahkan banyak komunitas masyarakat, besar atau kecil, lewat Twitter, Facebook dan lain-lain yang menginginkan sosok Jokowi akan maju sebagai capres 2014. Namun, kalau kita mau menggunakan akal sehat, adalah sangat tidak layak Jokowi nyapres 2014.

Kenapa Jokowi tak layak nyapres 2014?

Ada 10 alasan:

1.Bisa dituduh ingkar janji.

Saat kampanyanye cagub DKI Jakarta telah membuat banyak janji. bahkan banyak janji. Antara lain menjadikan Jakarta sebagai jakarta Baru yang bebas banjir, sampah dan kemacetan. Jika Jokowi nyapres, maka Jokowi akan dituduh sebagai pemimpin yang suka ingkar janji dan sekaligus mengingkari sumpah jabatan.

2.Akan dijadikan sasaran olok-olok

Jokowi-pun akan dijadikan oleh-olok sebagai sosok yang ingkar janji, munafik, tidak konsisten, suka mengingkari komitmen dan tidak konsisten antara ucapan dan tindakan.

3.Pendukung Jokowi terbatas

Pendukung Jokowi tidaklah secara nasional. Terbanyak di jawa Tengah terutama Solo dan Jawa Timur terutama Surabaya dan Bali. Di luar Pulau Jawa dan Bali, masih tanda tanya besar yang perlu diantisipasi.

4.Faktor kuda hitam

Masih ingat pemilu 2004? Saat itu nama capres yang terpopuler adalah Megawati Soekarnoputri. Nama SBY nyaris tak terdengar. Tapi, iapa menduga, saat SBY mulai kampanye, nama SBY tiba-tiba melejit ke atas mengalahkan kepopuleran Megawati Soekarnoputeri. Siapa tahu pula pada Pemilu 2014 nanti ada capres yang lebih terkenal? Tanda-tanda itu sudah ada, yaitu munculnya capres dari kalangan Islam yang akan mendapat dukungan dari sebagian besar umat Islam moderat.

5.Jokowi belum terbukti keandalannya

Selama ini pendukung Jokowi hanya karena faktor ketenarannya. Seangkan hasil kerja nyatanya belum ada. Jakarta menjelang Pemilu 2014 masih banjir, masih macet dan masih banyak sampah. Modal politiknya belum cukup sehingga bagi para pesaing Jokowi hal tersebut akan dijadikan “modal” untuk menurunkan elektabilitas Jokowi sebab rakyat aan melihat kenyataan bahwa Jokowi memang belum menunjukkan hasil kerja yang nyata.

6.Program Jakarta Baru akan terbengkelai

Jika Jokowi nyapres karena ditugaskan partai atau kongres atau Megawati, maka otomatis Jokowi akan mengundurkan diri dari jabatannya sebagai Gubernur DKI Jakarta. Siapa penggantinya? Ahok, rakyat akan meragukan kemampuan Ahok mengelola Jakarta sendirian. Jakarta merupakan kota yang bersifat khusus yang punya karakter khusus. Apalagi Ahok seorang nonmuslim yang pasti akan ditolak sebagian masyarakat DKI yang fanatik agama Islam.

7.Popularitas dan elektabilitas Jokowi bisa menurun

Popularitas dan elektabilitas sifatnya relatif. Hasil survei bisa saja menempatkan nama Jokowi pada urutan pertama, kedua, atau ketiga dan seterusnya. Sebab, opini publik sewaktu-waktu bisa berubah akibat adanya berbagai informasi yang ditayangkan di televisi.  Rakyat juga bisa terpengaruh oleh iklan-iklan capres lainnya, apalagi 70% pemilih adalah pemilih tidak cerdas dan tidak rasional. Apalagi, 55% pemilih adalah rakyat yang berpendidikan SD tamat atau SD tidak tamat yang belum benar-benar faham politik.

8.Faktor money politik dan kecurangan politik.

Sekitar 70% rakyat pemilih belum faham politik. Bagi mereka, capres yang dianggap baik adalah capres yang bagi-bagi uang, bagi-bagi sembako gratis, menjanjikan lowongan kerja, menjanjikan sembako murah, sekolah gratis,kesehatan gratis,menjanjikan negara khilafah yang adil makmur,mengurangi kemiskinan hingga 100% dan terbuai janji-janji sorga yang bagi mereka dianggap realistis. Faktor kecurangan politik yang profesional, juga bisa menyebabkan kekalahan Jokowi.

9.Terbatasnya dana kampanye PDI-P

Jujur saja, kalau dibandingkan Partai Gerindra, Partai Golkar dan Partai Nasdem, PDI-P pastilah tidak memiliki uang sebanyak mereka. Artinya, kampanye PDI-P sangat terbatas. Hanya melalui TV dan media kampanye pada umumnya. Kurang mampu mengadakan kampanye sampai ke pelosok-pelosok desa, apalagi desa terpencil atau perbatasan. Sedangkan parpol yang bermodal kuat, mampu melakukannya.

10.Faktor aura kharisma

Para pendukung Jokowi pastilah hampir semuanya tidak faham psikologi, psikologi-politik, terutama psikologi aura kharisma. Aura kharisma Jokowi bisa saja naik, bisa tetap dan bisa turun. Berdasarkan analisa psikologi-politik, ternyata ada capres lain yang namanya belum terkenal, tetapi memiliki aura kharisma lebih tinggi daripada aura kharisma Jokowi. Artinya, rakyat akan memilih capres yang punya aura kharisma tertinggi.

Kesimpulan

1.Jokowi harus membuktikan dulu janji-janjinya untuk menjadikan Jakarta sebagai jakarta Baru

2.Ada Si Kuda Hitam yang akan mengalahkan Jokowi jika Jokowi nyapres 2014

3.Jokowi sebaiknya maju pada 2019, sebab pesaing kuat Jokowi tidak ada. bahkan, Jika Jokowi maju pada 2019, kemungkinan besar pemilu hanya satu putaran saja.

Sumber berita: transberita.com

Hariyanto Imadha

Pecinta psikologi-politik

Sejak 1973

Iklan

POLITIK: Salah Besar Mencapreskan Jokowi Pada Pemilu 2014

FACEBOOK-PolitikSalahBesarMencapreskanJokowiPadaPemilu2014

SATU dua bulan ini di berbagai media sosial online maupun beberapa komunitas masyarakat rami-ramai mengusung dan mengusulkan agar Jokowi dicapreskan untuk pemilu 2014 mendatang. Bahkan hampir tiap hari atau bahkan hampir tiap jam, di Facebook muncul usulan agar Jokowi maju sebagai capres. Tentu, sebuah harapan yang baik karena menurut agama, calon pemimpin yang baik adalah yang dicalonkan dan bukan mencalonkan diri.

A.Ada beberapa hal yang harus kita perhatikan.

1.Hasil Pilgub DKI Jakarta

Kita buka catatan hasil Pilgub DKI jakarta yang lalu. Jokowi-Ahok mendapat 56% suara, sedangkan Foke-Nara mendapatkan 46% suara. Jelas, Jokowi menang mutlak. Ada yang mengatakan Jakarta adalah miniatur Indonesia. Artinya, kalau Jokowi menang di Jakarta, pastilah kalau jadi capres akan menang secara nasional. Sebuah logika-induksi yang sangat spekulatif sekali.

2.Hasil survei

Berbagai hasil survei menunjukkan bahwa nama Jokowi hampir pasti selalu teratas melebihi capres-capres yang namanya sudah muncul. Itu tidak keliru. Yang keliru yaitu, menganggap hasil survei sekarang tidak akan berubah. Padahal, survei sifatnya dinamis, kadang naik kadang turun. bahkan, bisa benar dan bisa keliru. Apalagi belum semua nama capres muncul. Masih ingat Pemilu 2004? Saat itu nama SBY belum terkenal. Yang terkenal adalah nama Megawati. Tetapi, siapa mengira, saat SBY mulai kampanye, namanya melejit melampaui ketenaran Megawati? Jangan lupa, hasil survei bisa berubah.

3.Si Kuda Hitam

Para pendukung Jokowi, tampaknya tidak memperhitungkan munculnya “Si Kuda Hitam”. Seorang capres yang mungkin diperkirakan tidak akan menang. Namun, bisa saja di luar dugaan justru dialah yang dikehendaki mayoritas rakyat Indonesia. Ingatlah, politik bukanlah matematika.

4.Faktor cawapres

Yang sering dilupakan adalah faktor cawapres. Jika cawapresnya adalah sosok politisi yang tidak disukai rakyat atau penampilannya kurang meyakinkan, maka hal tersebut juga bisa menurunkan citra seorang capres. Pada Pilgub Jabar, jelaslah pemilihan Deddy Mizwar sebagai cawagub merupakan pilihan yang sangat tepat untuk mendongkrak nama cagubnya. Begitu juga apabila yang terjadi adalah yang sebaliknya. Andaikan Jokowi nyapres, siapa yang akan menjadi cawapresnya? Kelihatannya sederhana, tetapi pengaruhnya sangat besar.

5.Aura kharisma

Ini bidangnya psikologi. Masih sedikit yang mempelajari. Apalagi menyangkut “aura kharisma”. Secara ilmiah keberadaan aura memang sudah dibuktikan. Antara lain foto aura. bahkan sudah dibuktikan adanya hubungan antara warna-warna aura dengan macam-macam penyakit. Begitu pula, melalui aura, bisa dilihat seberapa tinggi aura kharisma seorang capres. Sebenarnya aura kharisma merupakan analisa psikologi politik atau analisa psikologi kepribadian. Hasil analisa yang penulis lakukan, aura kharisma Jokowi memang termasuk tinggi, tetapi masih ada capres lain yang mempunyai aura kharisma tertinggi (tidak perlu penulis sebutkan namanya). Artinya, ada capres lain yang akan mendapatkan suara terbanyak, dibandingkan Jokowi (apabila Jokowi jadi nyapres).

B.Sebaiknya Jokowi nyapres pada 2019

Menurut penulis, ada baiknya Jokowi mencapreskan diri pada Pemilu 2019 dengan pertimbangan sebagai berikut:

Buktikan dulu janji-janji Jokowi-Ahok

Selama kampanye Pilgub DKI Jakarta, Jokowi-Ahok telah mengobral janji sangat banyak. Mulai dari akan mengatasi kemacetan, banjir, sampah, penertiban PKL, sumur resapan, kampung deret, ruang terbuka dan lain-lain. Saking banyaknya, mungkin warga DKI Jakarta kupa apa saja janji-janjinya yang lain. Apabila Jokowi belum membuktikan sebagian janjinya kemudian nyapres, maka akan muncul reaksi-reaksi dari warga. Antara lain Jokowi akan dianggap ingkar janji, tidak bertanggung jawab atas jabatannya sebagai Gubernur DKI Jakarta, hanya mementingkan kepentingan pribadi dan partai politiknya dibandingkan kepentingan warga DKI Jakarta dan komentar negatif lainnya. Kalau Jokowi menang dalam Pemilu 2014 tidak masalah. Kalau kalah?

Silahkan maju pada Pemilu 2019

Kalau Jokowi mau nyapres , silahkan maju pada Pemilu 2019. Kalau ternyata Jokowi bisa mewujudkan Jakarta sebagai Jakarta Baru yang bebas macet, bebas banjir,bebas sampah,bebas PKL dan berhasil merealisasikan semua janji-janjinya, maka hal tersebut akan menambah nilai positif pada Jokowi dan masyarakat akan semakin mempercayai kemampuan Jokowi untuk maju sebagai capres pada Pemilu 2019 nanti.

Hariyanto Imadha

Pengamat perilaku

Sejak 1973