• PARTAI POLITIK

    gambarbannerpartaigasing1

    gambarbannerpartaiyoyo1

    logo-apajpg1

    logo-barisannasionaljpg4

    logo-bulanbintangjpg1

    logo-gerindrajpg

    logo-hanurajpg

    logo-panjpg1

    logo-partaidemokratjpg

    logo-partaigarudajpg

    logo-partaigolkarjpg

    logo-pdipjpg

    logo-pibjpg

    logo-pkbjpg

    logo-pkdjpg

    logo-pknujpg

    logo-pkpjpg

    logo-pksjpg

    logo-pmbjpg

    logo-pnimarhaenjpg

    logo-ppijpg

    logo-pppjpg

  • Iklan

POLITIK: Beda Caleg Koplak Dan Caleg Cerdas

FACEBOOK-PolitikBedaCalegKoplakDanCalegCerdas

MENJELANG pemilu legislatif, maka bermunculanlah tampang-tampang para caleg. Dipasang di pohon, di tembok. Di kaca mobil dan di mana-mana. Menyebarkan brosur, pamflet, spanduk, baliho, kartu nama dan lain-lain. Pasang iklan di radio, koran, internet dan lain-lain. Bermacam-macamlah caranya. Dan tak ketinggalan mengobral janji-janji. Lucunya, sebagian besar, mungkin sekitar 99% caleg adalah caleg koplak. Caleg yang mungkin tidak memahami politik atau bisa juga tidak memahami logika politik.

Apakah caleg itu?

Caleg adalah calon legislator atau calon anggota lembaga legislatif atau calon anggota DPRRI/DPR Dati I/DPR Dati II.

Apa ciri-ciri caleg koplak?

Bisa dilihat dari janji-janjinya. Antara lain:

-Sembako murah

-Membangun infra struktur berbagai bidang

-Meningkatkan kesejahteraan petani, nelayan dan buruh

-Kesehatan gratis

-Meningkatkan kesejahteraan dan status guru honorer

-Membantu pembinaan dan kemajuan pengusaha kecil

-Memperjuangkan hak-hak kaum disabilitas (penyandang cacat)

-Mengurangi kemiskinan

-Menciptakan lapangan kerja

-Membangun puskesmas/puskesdes sampai ke pelosok-pelosok dan pedalaman-pedalaman

-Dan janji-janji lainnya

Kenapa kok mereka dikatakan sebagai caleg koplak?

Sebab, janji-janji yang diucapkan adalah wewenangnya calek atau calon anggota lembaga eksekutif (cawali, cabup, cagub capres atau parpol), bukan wewenangnya caleg (calon anggota lembaga legislatif).

Ciri-ciri lain caleg koplak

-Minta bantuan dukun atau paranormal

-Ziarah dan meminta doa restu

-Melakukan ritual-ritual klenik, mistik dan syirik

-Jual rumah, tanah, mobil, perhiasan sehingga dalam posisi miskin

-Terlalu banyak utang ke berbagai pihak

-Politik uang atau money politic

-Mengobral janji-janji yang tidak realistis yang seringkali tidak ditepati

-Menjual ketenarannya sebagai artis padahal tidak punya kompetensi

-Memamerkan gelar-gelar sarjananya berderet-deret padahal dari perguruan tinggi abal-abal atau gelar palsu

-Menjual atau memperalat ayat-ayat suci agama, terutama Al Quran

Apa ciri-ciri caleg cerdas?

Bisa dilihat dari janji-janjinya. Antara lain:

-Membuat undang-undang yang pro rakyat

-Merevisi undang-undang yang tidak pro rakyat

-Mengefektifkan pengawasan terhadap lebaga eksekutif

-Membuat undang-undang pembuktian terbalik

-Membuat anggaran di APBN sehemat mungkin

-Membuat undang-undang pemilu yang benar-benar jujur

-Membuat undang-undang yang melarang pejabat-pejabat eksekutif merangkap jabatan di partai politik dan juga melarang melakukan kegiatan politik termasuk kampanye

-Membuat undang-undang yang memberikan sanksi yang tegas bagi anggota DPR yang tidak disiplin

-Merevisi KUHP dan KUHAP yang memperkuat kegiatan antikorupsi dan semacamnya

-Membuat undang-undang sumber daya alam dan sumber daya ekonomi yang 75% lebih menguntungkan bangsa dan negara Indonesia daripada negara atau investor asing mauun pihak swasta dalam negeri.

Kenapa kok mereka dikatakan sebagai caleg cerdas?

Sebab mereka tahu bahwa mereka adalah calon anggota DPRRI/DPRD Dati I/DPRD Dati II yang mempunyai tiga fungsi pokok. Yaitu:

Fungsi

DPR mempunyai fungsi ; legislasi, anggaran, dan pengawasan yang dijalankan dalam kerangka representasi rakyat.

Legislasi

Fungsi legislasi dilaksanakan sebagai perwujudan DPR selaku pemegang kekuasaan membentuk undang-undang.

Anggaran

Fungsi anggaran dilaksanakan untuk membahas dan memberikan persetujuan atau tidak memberikan persetujuan terhadap rancangan undang-undang tentang APBN yang diajukan oleh Presiden.

Pengawasan

Fungsi pengawasan dilaksanakan melalui pengawasan atas pelaksanaan undang-undang dan APBN.

Ciri-ciri lain caleg cerdas

-Melakukan pendekatan ke masyarakat sejak lama

-Tidak terlalu banyak janji

-Tidak melakukan politik uang atau money politic, iming-iming dan tidak bagi-bagi barang/hadiah.

-Bergaul dan berinteraksi langsung dengan rakyat, memperkenalkan diri, membagikan kartu nama atau brosur dan menyampaikan janji-janji yang realistis

-Modal sendiri tanpa menyebabkan jatuh miskin

-Siap kalah dan siap menang serta siap mental dan bersikap realistis. Punya motto: Kalah Ra Popo.

-Melakukan kampanye-kampanye yang hemat tetapi efektif, blusukan, menjalin silaturahim, dan menitikberatkan human relation yang baik.

-Bersikap santun , persuasif dan pandai meyakinkan

-Tidak menjual atau memperalat ayat-ayat suci tertama Al Quran dan menghindari klenik, mistik dan syirik serta menjauhi hal-hal yang tidak rasional.

-Punya integritas, prestasi dan track record yang positif

Hariyanto Imadha
Pengamat perilaku
Sejak 1973

Iklan

POLITIK: Ketika Pengurus RT/RW “Diperalat” Kepentingan Politik Caleg

FACEBOOK-PolitikKetikaPengurusRTRWDiperalatKepentinganPolitikCaleg

PEMILU sudah dekat. Para calegpun cari-cari akal termasuk akal-akalan supaya terpilih dan menang. Mulai dari memasang alat peraga dalam berbagai bentuk yang dipasang di pohon, tiang listrik, tembok, warung dan di mana yang kira-kira bisa dilihat dibaca orang. Juga membagikan kartu nama, brosur politik dan lain-lain. Termasuk di antaranya melakukan pendekatan ke pengurus RT/RW dengan janji-janji yang konon akan menguntungkan kedua belah pihak, baik caleg maupun para warga di RT/RW tersebut.

Apakah RT/RW itu?

Menurut Keppres No.49 Tahun 2001 dijelaskan dengan gamblang bahwa RT/RW atau Rukun Tetangga/Rukun Warga adalah Organisasi Kemasyarakatan atau Lembaga Kemasyarakatan yang melayani kepentingan warga dalam kaitannya membantu kepentingan pemerintahan setempat (pemerintah daerah).

Jelaslah bahwa Pengurus RT/RW bukanlah organisasi politik. Juga sangat jelas, Pengurus RT/RW adalah melayani kepentingan warga, bukan mengurusi kepentingan caleg.

Promosi caleg

Sudah lama, sebelum ada pertemuan dengan para warga, caleg tersebut telah memasang spanduk di komplek perumahan. Di pohon, tiang telepon, pos satpam, balai RT/RW dan di mana-mana. Juga membagikan kalender 2014 dan lain-lain.

Janji caleg

Sudah jauh-jauh tersiar kabar bahwa caleg tersebut berjanji akan melakukan pembangunan di komplek perumahan. Terutama akan memperbaiki jalan. Mungkin diaspal mungkin dibeton. Itupun akan dilakukan kalau dia terpilih kembali sebagai caleg DPRD/DPR (kurang jelas).

Undangan berhadiah

Supaya banya warga mau datang ke balai RT/RW (saya namakan demikian), maka caleg melalui undangan RT/RW menjanjikan undangan ada hadiah atau door-prize berupa mesin cuci dan dua buah kipas angin.

Terkontaminasi kepentingan politik

Bisa dikatakan, Pengurus RT/RW yang merupakan Organisasi atau Lembaga Kemasyarakatan non-politik. Dengan dibantunya kepentingan caleg, maka Pengurus RT/RW telah terkontaminasi kepentingan politik seorang caleg incumbent tersebut.  Maka orangpun menebak, itu terjadi mungkin karena Pengurus RT/RW masih ada hubungan saudara, mungkin sama-sama simpatisan parpol tertentu, mungkin mendapat “uang sokok” sekian puluh juta dan mungkin juga terbius oleh janji-janji perbaikan jalan.

Tidak etis

Bukan soal boleh atau tidak boleh. Tetapi, cara-cara seperti itu tidaklah etis karena “memperalat” Pengurus RT/RW. Membebani pengurus denngan kepentingan politik. Padahal, kaalau soal perbaikan jalan, bisa dengan cara swa sembada atau mandiri.

Pembodohan warga

Apa yang dilakukan konspirasi caleg dan Pengurus RT/RW sebenarnya merupakan pembodohan politik bagi warga. Sebab, warga diiming-iming perbaikan jalan dan iming-iming lainnya. Di ssamping tidak mendidik juga kurang cerdas.

Warga mampu mandiri

Masih di dalam satu komplek, tetapi di RT/RW yang lain. Pengurus RT/RW-nya cerdas. Tiap bulan warganya dipungut iuran sesuai kemampuan. Bagi yang punya mobil dipungut iuran lebih mahal. Sekitar enam terkumpullah dana. Dana itu digunakan untuk perbaikan jalan berupa pembetonan jalan. Hasilnya, semua jalan di RT/RW tersebut menjadi bagus, rapi, halus dan nyaman. Tanpa ada unsur-unsur yang melibatkan kepentingan politik dari caleg tertentu.

Hariyanto Imadha
Pengamat perilaku politik
Sejak 1973