• PARTAI POLITIK

    gambarbannerpartaigasing1

    gambarbannerpartaiyoyo1

    logo-apajpg1

    logo-barisannasionaljpg4

    logo-bulanbintangjpg1

    logo-gerindrajpg

    logo-hanurajpg

    logo-panjpg1

    logo-partaidemokratjpg

    logo-partaigarudajpg

    logo-partaigolkarjpg

    logo-pdipjpg

    logo-pibjpg

    logo-pkbjpg

    logo-pkdjpg

    logo-pknujpg

    logo-pkpjpg

    logo-pksjpg

    logo-pmbjpg

    logo-pnimarhaenjpg

    logo-ppijpg

    logo-pppjpg

  • Iklan

POLITIK: Caleg Terpilih Mendadak Kaya Raya, Yang Memilih Caleg Tetap Jadi Kere

POLITIK-CalegTerpilihMendadakKayaRayaOke

SEBAGIAN orang Indonesia memang mudah dikadalin atau dibohongi politisi. Termakan janji-janji sorga. Pendidikan gratis, kesehatan gratis, sembako murah, perbaikan jalan, perbaikan gedung-gedung sekolah yang rusak, akan membangun jalan, memperbaiki infra struktur, meningkatkan kesejahteraan petani-nelayan-pekebun dan buruh, membantu pengusaha kecil, meningkatkan kesejahteraan rakyat dan sejuta janji-janji sorga lainnya. Namun setelah terpilih sebagai wakil rakyat, yang dipikirkan justru kembali modal dan mencari keuntungan atau memperkaya dirinya sendiri. Janji-janjinya sering terlupakan dan kalau ditagih selalu beralasan tidak mendapatkan dukungan teman-temannya di DPR.

Caleg terpilih mendadak kaya raya (sekitar Rp 1 M per bulan)

Sudah menjadi rahasia umum, tidak ada wakil rakyat yang miskin. Hampir semuanya punya mobil termasuk mobil mewah dan rumah mewah serta deposito bank yang cukup besar. Gaya hidupnyapun bermewah-mewah.

Hal itu bisa terjadi karena wakul rakyat atau anggota DPR mempunyai penghasilan resmi ataupun tidak resmi yang cukup besar. Di samping gaji, tunjangan dan penghasilan yang besar, juga mendapatkan berbagai fasilitas lainnya yang bernilai puluhan juta hingga milyaran rupiah. Total penghasilan bisa mencapai Rp 1 M per bulan belum termasuk penghasilan lain-lainnya. Merupakan penghasilan terbesar keempat di dunia.

Baca: http://news.liputan6.com/read/518319/rincian-gaji-anggota-dpr-ri-totalnya-mencapai-rp-1-m-per-bulan)

Baca: http://www.merdeka.com/peristiwa/ini-rincian-gaji-anggota-dpr-di-indonesia-terbesar-ke-4-sejagat.html).

B.Yang memilih caleg tetap jadi kere

Kalau caleg terpilih bisa berpenghasilan sekitar Rp 1 M atau lebih per bulan, maka penghasilan para pemilihnya boleh dikatakan tidak ada perubahan, apalagi peningkatan. Ketika harga sembako naik, para anggota DPR ataupun pemerintahpun tidak mampu berbuat apa-apa. Apalagi naiknya harga sembako juga akan diikuti kenaikan harga-harga lainnya. Dan selalu terjadi kenaikan harga BBM, listrik dan lain-lain, pemerintah dan anggota DPR tidak bisa menaikkan penghasilan rakyat.

Paling-paling sebagian rakyat cuma dapat BLT.BLSM atau semacamnya yang sifatnya hanya sementara. Paling-paling dapat money politic Rp 50.000 hingga Rp 100.000 per orang. Perbaikan jalan yang juga bernuansa korupsi. Boleh dikatakan tidak ada kenaikan kesejahteraan di kalangan rakyat. Rakyat yang miskin tetap saja miskin. Sangat sedikit undang-undang ataupun kebijakan-kebijakan yang benar-benar pro rakyat, terutama rakyat miskin.

Kesimpulan

-Bisa ditarik kesimpulan bahwa, caleg terpilih akan menjadi pribadi yang mendadak kaya raya, sedangkan para pemilihnya tetap miskin. Tetap menjadi kere. Pemilu/pilkada terbukti tidak demi kepentingan rakyat, melainkan semata-mata demi kepentingan para politisi. Mereka yang terpilihpun sebagian besar adalah pribadi-pribadi yang sebagian besar tidak berkualitas, malas, suka membolos atau tidur saat rapat maupun sidang. Bahkan, sebagian dari mereka, bermental korup.

-Caleg terpilih bisa berpenghasilan Rp 1 M per bulan (bisa lebih) sedangkan para pemilihnya tetap jadi kere.

Hariyanto Imadha
Pengamat perilaku
Sejak 1973

Iklan

POLITIK: 99% Capres Dan Caleg Berpotensi Jadi Maling Uang Rakyat

POLITIK-99PersenCapresCalegBerpotensiMenjadiMalingUangRakyat

SISTEM politik Indonesia boleh dikatakan belum profesional. Masih abal-abal. Mulai dari syarat-syarat menjadi capres, cagub, cabup, cawali, caleg yang telalu mudah, syarat mendirikan parpol yang terlalu mudah, koalisi parpol lebih dari 50%, sistem pemilu/pemilukada yang sangat rawan disusupi orang-orang bayaran untuk memenangkan calon pemimpin atau caleg tertentu, hingga ke berbagai instansi politik seperti KPU, Bawaslu maupun MK . Semua bisa disusupi orang-orang politik dari parpol tertentu.

Demokrasi wani piro

Apalagi ditambah dengan demokrasi wani piro. Semuanya serba uang. Ingin jadi caleg, bayar. Ingin jadi cawali, cabup, cagub, capres harus punya modal. Maka para calon politisipun mencari uang dengan segala cara. Mulai dari menjual harta bendanya hingga utang kesana-kemari hanya dengan tujuan mendapatkan kekuasaan.

Motivasi berpolitik yang rendah

Sebagian besar motivasi dari politisi telah berubah dengan radikal. Tidak lagi serius berjuang demi bangsa dan negara, tetapi semata-mata ingin menang, berkuasa, mendapatkan proyek besar, memperkaya diri sendiri dan mempertahankan kekuasaannya untuk periode berikutnya.

Harus balik modal

Karena biaya politik yang tinggi, mulai dari ratusan juta hingga triliunan rupiah, maka pastilah semua politisi berpikir untuk balik modal. Omong kosong kalau ada yang mengatakan tidak ingin balik modal. Politisi yang mengatakan tidak ingin balik modal akan dianggap sbagai politisi bodoh. Maka hampir dipastikan 99% capres dan caleg punya keinginan agar bisa kembali modal.

Harus mendapatkan keuntungan

Balik modal saja tidaklah cukup. Pasti ada keinginan atau motivasi untuk memperkaya diri. Bisa dengan cara mendapatkan proyek-proyek besar. Bahkan kalau kepepet mencari uang dengan segala cara termasuk pemborosan anggaran, cari alasan studi banding ke luar negeri, memanipulasi dana ini dana itu dan jika perlu melakukan korupsi secara besar-besaran. Bahkan jika perlu korupsi berjamaah.

Kenapa harus korupsi?

Mereka korupsi tidak sekadar ingin balik modal, tetapi juga ingin kaya raya dengan cara mudah dan cepat. Ingin rumah mewah, mobil mewah, jalan-jalan ke luar negeri, bunga deposito yang sangat besar, perhiasan emas intan berlian dalam jumlah banyak. Boleh dikatakan tidak ada politisi yang ingin rugi atau jadi kere. Pola pikir dan gaya hidup hedonisme telah meracubi logika dan kehidupan mereka.

Bukankah mereka sudah disumpah?

Bagi mereka sumpah merupakan acara seremonial saja. Basa-basi saja. Soal sanksi hukuman selama masih hidup atau sanksi di akherat, baginya masih abstrak. Itu urusan nanti. Yang penting begitu ada kesempatan korupsi, ya korupsilah.

Ritual agama hanya basa-basi saja

Bukankah mereka rajin beribadah? Ya, iyalah. Tapi bagi mereka, ibadah hanya ritual basa-basi saja. Mereka beribadah hanya fisiknya saja, sedangkan rohaninya tidak beribadah. Mereka adalah orang-orang yang beriman tipis.

Dosa bisa dihapus,kok.

Walaupun mereka tahu korupsi itu dosa, tapi mereka punya anggapan, kalau mereka puasa pada bulan Ramadhan, maka semua dosa-dosanya akan diampuni Tuhan. Apalagi kalau sudah tua nanti, mereka percaya kalau melakukan tobat Nasuha, pastilah semua dosanya akan diampuni Tuhan. Apalagi kalau naik haji, mereka yakin akan masuk sorga. Mereka lupa atau tidak tahu bahwa bertobat itu ada syaratnya, yaitu harus mengembalikan semua hasil korupsinya sesuai dengan nilai sekarang ditambah menjalani hukuman sepenuhnya (tanpa menyuap agar dapat remisi besar atau pengurangan hukuman).

Semangat pro rakyat hanya awalnya saja

Idealisme pro rakyat hanya awalnya saja. Bahkan terkesan hanya basa-basi saja. Yang demi rakyatlah. Demi kersejahteraan rakyatlah.  Sembako murahlah. Pendidikan gratis hingga sarjanalah. Perbaikan jalanlah. Membela petani dan buruhlah. Sejuta idealisme dan janji-janji awal, akhirnya terlupakan karena ada target untuk kembali modal dan memperkaya diri sendiri. Akhirnya idealisme memperjuangkan bangsa dan negara merupakan prioritas ke 999 atau terakhir. Itupun kalau ingat.

Tidak berkualitas

Boleh dikatakan 99% hasil politisi yang terpilih tidak berkualitas. Target pembuatan undang-undang tidak pernah tercapai, hanya sekitar 20% dari target. Anggaran rutin selalu lebih besar daripada anggaran pembangunan. Jumlah utang pemerintah bertambah terus danbukannya berkurang. Pemborosan di berbagai bidang. Pembangunan infra struktur kedodoran.

Capres dan caleg yang tidak profesional

Beberapa capres tergolong tidak profesional. Capres A, mengelola BUMN saja rugi Rp 37 triliun. Capres B, perusahaan-perusaahaannya terlilit utang Rp 78 triliun. Capres C, mengelola perusahaan pribadinya saja terlilit utang Rp 14, 3 triliun. Kalau mengelola perusahaan saja terlilit utang, apalagi mengelola negara : bisa bangkrut! Apalagi caleg. Terlalu mudah jadi caleg. Artis boleh, tukang tambal ban boleh, tukang sol sepatu boleh, mantan pelacurpun boleh. Tidak ada syarat-syarat ketat untuk menjadi politisi. Syarat-syaratnya lebih menitikberatkan syarat-syarat administrasi dan kesehatan. Tidak menitikberatkan syarat-syarat tentang kualitas politisi. Hasilnya adalah politisi-politisi abal-abal.

Korupsi akan semakin merajalela

Hasil pemilu 2014 pastilah akan lebih banyak menghasilkan calon-calon koruptor, sebab persaingannya sangat ketat dan butuh modal politik yang sangat besar. Apalagi, mereka semakin lama akan semakin tahu caranya menjadi koruptor yang profesional. Antara lain dengan cara korupsi berjamaah, menghilangkan barang bukti, memanipulasi barang bukti dan cara-cara lain yang sulit dideteksi oleh PPATK maupun KPK. Artinya, virus korupsi akan berkembang biak dengan lebih luas. Bahkan boleh dikatakan 99% (99% = pengganti kata “sangat banyak”) capres dan caleg berpotensi menjadi koruptor alias maling uang rakyat.

Hariyanto Imadha
Pengamat perilaku
Sejak 1973