• PARTAI POLITIK

    gambarbannerpartaigasing1

    gambarbannerpartaiyoyo1

    logo-apajpg1

    logo-barisannasionaljpg4

    logo-bulanbintangjpg1

    logo-gerindrajpg

    logo-hanurajpg

    logo-panjpg1

    logo-partaidemokratjpg

    logo-partaigarudajpg

    logo-partaigolkarjpg

    logo-pdipjpg

    logo-pibjpg

    logo-pkbjpg

    logo-pkdjpg

    logo-pknujpg

    logo-pkpjpg

    logo-pksjpg

    logo-pmbjpg

    logo-pnimarhaenjpg

    logo-ppijpg

    logo-pppjpg

  • Iklan

POLITIK: Kenapa Ada Orang-Orang Yang Tetap Mempertahankan Pilihan Politiknya Yang Salah?

FACEBOOK-PolitikKenapaAdaOrangOrangYangTetapMempertahankanPilihanPolitiknyaYangSalah

POLITIK.Politik itu bisa putih bisa hitam. Bisa jujur bisa tidak jujur. Tergantung politisinya. Namun biasanya, kalau pimpinan politiknya tidak jujur dan korup, maka ke bawahnya juga sama : tidak jujur dan korup. Kalau pimpinan politiknya emosional, maka para partisipannya juga emosional. “Berlaku hukum Komunitas” :” Orang baik akan memilih pemimpin yang baik dan orang tidak baik akan memilih pemimpin yang tidak baik”.

Faktanya, banyak orang-orang yang fanatik pada satu partai saja dan siapapun yang dicapreskan pasti dipilih. Padahal banyak orang partai tersebut popularitas dan elektabiitasnya rendah. Capresnya juga tidak punya prestasi. Track recordnya biasa-biasa saja. Bahkan ada capres yang track recordnya hitam, tetap juga dipilih. Kenapa ada orang-orang yang sulit merubah pandangannya dan pilihannya yang salah itu?

Analogi

Sebelum melangkah ke paragraf berikutnya, baca dulu sedikit cerita ini.

Dulu, jamannya pager (alat komunikasi), Si A sering membayar iuran ke Wisma Nusantara. Kalau tidak salah di lantai 7 dan biasa naik memakai lift. Tetapi di lain hari, Si A bertemu dengan teman lamanya yang juga akan membayar iuran pager.

Si A pun mengajak Si B naik lift, tetapi Si B menolak dan memilih naik lewat tangga. Si A pun mengalah. Si A dan Si B pun naik ke lantai 7 lewat tangga.

Bulan berikutnya, Si A tak sengaja bertemu lagi dengan Si B yang juga akan membayar iuran pager. Si A pun mengajak naik lift. Lagi-lagi Si B menolak dan tetap lewat tangga.

Hal demikian terjadi hingga tiga kali. Akhirnya bulan berikutnya Si A bertanya.

Si A: “Kok tidak mau naik lift kenapa?”
Si B: “Gak enak naik lift. Udaranya sumpek”
Si A: “Pernah naik lift?”
Si B: “Hmmm…Belum pernah”

Nah, kesimpulannya silahkan ambil sendiri.

Yang pasti, Mario Teguh pernah berkata:
“Orang yang tida pernah mencoba adalah orang yang tidak bisa diajak maju. Orang yang gagal”.

Sekarang, Kenapa ada orang-orang yang tetap mempertahankan pilihan politiknya yang salah?

Secara singkat, jawabannya sama dengan kalimat yang pernah diucapkan Mario Teguh:
“Orang yang tidak pernah mencoba adalah orang yang tidak bisa diajak maju. Orang yang gagal”.

Secara psikologi-politik antara lain disebabkan

1.Pengetahuan dan pemahamannya tentang partai-partai politik sangat terbatas
2.Seleranya terjebak dapa figur capres yang suka mengobral janji-janji sorga
3.Memilih parpol sesuai dengan kesamaan agama, suku, ideologi atapun perilakunya
4.Memilih berdasarkan Ilmu Kira-Kira dan tidak berdasarkan kualitas, integritas, kompetensi, prestasi maupun track record
5.Terjebak pada pemikiran fanatik-sempit sehingga menganggap pilihannya sudah benar, padahal ada parpol dan capres lain yang lebih berkualitas
6.Mempunyai kepribadian suka ngeyel. Kalau diberitahu yang benar, selalu menolaknya
7.Wawasan berpikirnya sempit. Tahunya cuma itu-itu saja. Tidak membuka alternatif lainnya.
8.Biasanya dan pada umumnya tingkat kecerdasannya atau IQ-nya rendah
9.Berkepribadian repulsif. Enggan diajak maju
10.Cara memilih yang salah:

-Karena orang Jawa, lantas memilih Jokowi
-Karena ayahnya militer, lantas memilih Prabowo Subianto
-Karena karyawan, lantas memilih ARB
-Karena beragama Isla, lantas memilih PKS
-Dan cara-cara salah lainnya.

Bodoh permanen

Hasil observasi menunjukkan bahwa, 70% pemilih masih tergolong pemilih yang bodoh dan mudah dikadalin politisi. Maklum, sekitar 50% pemilih adalah pemilih yang hanya lulusan SD atau SD tidak tamat. Meskipun demikian, di kalangan berpendidikan SMP, SMA ,S1, S2 dan S3 juga banyak yang cara berpikirnya “fanatik-sempit”. Tidak terbuka adanya alternatif lain. Membutakan matanya dan hatinya terhadap adanya parpol dan capres yang lebih berkualitas. Walaupun sudah diberi tahu ada parpol dan capres yang berkualitas, tetap saja memilih parpol dan capres KW2 atau KW3 atau KW4 yang sangat kecil kemungkinannya memenangkan pemilu. Dan mereka bisa dikategorikan mengalami “bodoh permanen”.

Kesimpulan

1.Sama persis dengan tingkah laku Si B yang lebih suka naik tangga daripada naik lift.
2.Benar juga kalimat yang pernah diucapkan Mario Teguh:
“Orang yang tidak pernah mencoba adalah orang yang tidak bisa diajak maju. Orang yang gagal”.
3.Mereka memilih berdasarkan Ilmu Kira-Kira dan tidak berdasarkan Ilmu Kualitas.

Semoga bermanfaat

Hariyanto Imadha
Pengamat Perilaku

Sejak 1973

 

Iklan

POLITIK: Beda Golput Koplak Dan Golput Cerdas

FACEBOOK-PolitikBedaGolputKoplakDanGolputCerdas

GOLPUT adalah hak setiap warganegara dan merupakan hak konstitusional. Juga, merupakan hak pribadi. Mereka yang anti golput pastilah orang-orang yang tidak faham konstitusi. Tidak faham undang-undang pemilu. Suka mencampuri urusan orang lain dan berkepribadian sirik. Bahkan, sikap anti golput merupakan sikap koplak dan gemblung. Lebih parah lagi, membenci golput merupakan gejala sakit jiwa tahap awal. Sangat banyak alasan golput, mulai dari alasan subjektif hingga alasan objektif.

Apakah golput itu?
Golput atau golongan putih adalah merupakan pilihan untuk tidak memilih. Merupakan hak pribadi, hak konstitusional dan tidak melanggar undang-undang pemilu maupun undang-undang maupun peraturan yang manapun juga. Golput juga merupakan keputusan yang diambil berdasarkan situasi dan kondisi baik yang bersifat subjektif maupun objektif baik secara internal maupun eksternal.

Ada berapa macam golput?

Dari sudut kecerdasan, ada dua macam golput

Yaitu:

1.Golput koplak
2.Golput cerdas
3.Golput lain-lain

Ad.1.Golput koplak

Ciri-ciri golput koplak:

-Ada capres dan caleg berkualitas (bersih,jujur,cerdas,track record baik) tapi tidak dipilih

-Sebagian dari mereka datang ke TPS tetapi dicoblos semua
-Sebagian dari mereka juga tidak datang ke TPS

-Biasanya mereka mempunyai sikap:

a.Apatis
b.Skeptis
c.Pesimis

Ad.a.Apatis

Apatis adalah sikap acuh tidak acuh; tidak peduli; masa bodoh, kurangnya emosi, motivasi atau antusiasme, hilangnya simpati, hilangnya ketertarikan dan hilangnya kepercayaan.

Ad.b.Skeptis

Skeptis adalah sikap ragu-ragu, kurang percaya,kurang yakin,sinisme,tidak percaya terhadap kemampuan atau kepribadian seseorang (capres maupun caleg).

Ad.c.Pesimis

Yaitu orang yang berpandangan tidak baik terhadap hasil kerja atau hasil usaha orang lain atau dirinya sendiri terhadap fakta yang akan terjadi.  Atau memandang sesuatu dengan pandangan negatif, padahal belum tentu negatif.

Ad.2.Golput cerdas

-Tidak ada capres dan caleg berkualitas dan tidak perlu dipilih. Semuanya tidak bersih, tidak jujur dan track recordnya buruk

-Mereka pasti datang ke TPS dan mencoblos semua

Biasanya mereka mempunyai sikap

a.Peduli  (Care)
b.Tidak ragu-ragu (Sure)
c.Optimis (Optimist)

Ad.a.Peduli (Care)

Yaitu sikap yang peduli terhadap kepentingan bangsa dan negara, agar tidak dipimpin oleh capres/caleg yang tidak berkualitas.

Ad.b.Tidak ragu-ragu (Sure)

Yaitu sikap yang pasti tidak memilih karena benar-benar sudah tahu tidak ada capres dan caleg yang berkualitas

Ad.c.Optimis

Yaitu sikap yang penuh keyakinan bahwa capres dan caleg yang ada pasti akan membawa bangsa dan negara ke arah Indonesia yang lebih buruk. Dan dengan tidak memilih mereka, besar kemungkinan akan merupakan shock therapy bagi parpol agar di kemudian hari menampilkan capres dan caleg yang berkualitas. Dan optimis, pemilu mendatang pasti ada capres/caleg yang berkualitas.

 Ad.3.Golput lain-lain

Yaitu sikap golput karena alasan lain-lain:

-Karena sakit di rumah
-Karena lupa
-Karena ada musibah di rumah
-Karena kecelakaan lalu lintas
-Karena TPS-nya sangat jauh
-Karena situasi dan kondisi yang tidak memungkinkan datang ke TPS
-Karena tidak memenuhi syarat administratif sebagai pemilih
-Karena adat istiadat dan tradisi (suku Badui Dalam)
-Karena diintimidasi
-Karena ada teror
-Karena lupa
-Karena datang terlambat ke TPS
-Karena mementingkan mencari uang yang hasilnya hanya cukup untuk dimakan sehari
-Karena pihak panitia tidak tahu pemilih harus memilih di mana
-Karena tidak terdaftar di DPT dan semacamnya
-Karena E-KTP atau semacamnya sedang hilang
-Karena secara fisikologis dan psikologis tidak memungkinkan datang ke TPS
-Karena diberi uang untuk tidak memilih
-Karena ikut-ikutan golput tanpa alasan yang jelas
-Karena tidak tahu kriteria capres dan caleg yang berkualitas
-Karena tidak tahu mana capres dan caleg yang berkualitas dan mana yang tidak berkualitas
-Karena tidak memiliki informasi tentang kualitas, integritas, kompetensi, prestasi, track record, kepribadian, visi dan misi serta program kerja capres dan caleg.
-Karena trauma. Berkali-kali memilih capres/caleg, ternyata semuanya pembohong, korupsi dan tidak bermoral.
-Karena sengaja golput tanpa punya alasan apa-apa.
-Karena malas memilih.
-Karena memilih tidak memilih tidak dapat uang, lebih baik tidak memilih.
-Dan masih ada ratusan atau ribuan alasan golput lainnya.

Golput Lain-lain tidak bisa dikelompokka dalam ketegori Golput Koplak maupun Golput Cerdas

 

Hariyanto Imadha
Pengamat perilaku
Sejak 1973

POLITIK: Mereka Tidak Layak Nyapres

FACEBOOK-PolitikMerekaTidakLayakNyapres

DEMOKRASI? Katanya, demokrasi yang baik adalah demokrasi langsung, yaitu capres/caleg dipilih langsung oleh rakyat. Masalahnya adalah, demokrasi langsung tidak didukung kualitas capres/caleg dan kualitas pemilih. Bahkan boleh dikatakan 50% pemilih hanya lulusan SD atau SD tidak tamat. Boleh jadi, 70% yang datang ke TPS adalah orang-orang yang tidak faham, belum paham atau bahkan sok paham politik. Apalagi, sistem politik Indonesia juga masih abal-abal sehingga juga boleh dikatakan hanya menghasilkan capres/caleg abal-abal juga. Selama ini parpol gagal menyeleksi capres/calegnya sehingga dari sudut psikologi-politik yang muncul hanya capres/caleg yang tergolong “haram” untuk dipilih.

Sistem demokrasi yang abal-abal

Belum mendukung karena 50% pemilih hanya berpendidikan SD atau tidak lulus SD. Bahkan 70% pemilih yang datang ke TPS tergolong pemilih yang belum paham/tidak paham/sok paham politik.

Capres dan caleg yang abal-abal

Parpol telah gagal memunculkan capres/caleg yang berkualitas karena proses seleksinya memang tidak berdasarkan kualitas.

Sistem politik yang abal-abal

Sistem politik yang serba uang dan mahal membuat para poitisi yang terpilih cenderung menjadi koruptor, calo proyek, penggarong uang APBN dan memanipulasi uang rakyat.

Tak layak nyapres dan capres yang tidak layak

Dari sudut psikologi-politik, mereka tidak layak nyapres dan capres yang tidak layak

Minimal ada 16 nama politisi yang tak layak nyapres atau capres yang tak layak.

Yaitu: (1).Prabowo Subianto,(2).Rhoma Irama, (3).ARB,(4).Megawati, (5).Pramono Edhie Wibowo, (6).Wiranto,(7). Dahlan Iskan, (8).Jusuf Kalla,(9).Hatta Radjasa,(10).Hidayat Nur Wahid,(11).Yusril Ihza Mahendra(12).Gita Wirjawan(13).Marzuki Alie,(14).Suryadharma Ali,(15).Ahmad Heryawan(16). Sri  Mulyani Indrawati

Analisa singkat psikologi-politik

Ad.(1).Prabowo Subianto

Terlepas terlibat atau tidak, kasus-kasus penculikan mahasiswa dan pelanggaram HAM di masa lalu membuat sebagian bangsa Indonesia “curiga”, “kurang percaya” terhadap niat baik Prabowo untuk jadi capres. Ada hubungannya atau tidak, masyarakat akan berkata, mengelola perusahaan pribadinya saja rugi Rp 14,3 triliun, apalagi kalau mengelola APBN yang merupakan uang rakyat. Apalagi mengelola bangsa dan negara.

Ad.(2).Rhoma Irama

Ada logika yang salah. Seolah-olah kalau Rhoma Itama sebagai penyanyi dangdut sangat banyak penggemarnya, otomatis para penggemarnya akan memilihnya. Sebuah logika yang salah karena tidak ada hubungannya yang relevan. Masyarakat menilai Rhoma Irama sebagai Raja Dangdut, tapi tidak mencerminkan karakter seorang negarawan. Sosok da’I dan penyanyi dangdut lebih melekat di ingatan masyarakat. Penampilan seorang negarawan tidak dimilikinya.

Ad.(3).ARB

Masyarakat luas masih ingat trauma kasus  lumpur Lapindo. Daktor ini mengurangi rasa simpati masyarakat ke ARB. Apalagi ARB memiliki perusahaan-perusahaan yang konon terlilit utang hingga puluhan triliun rupiah. Kalau mengelola perusahaan saja bangkrut, apalagi mengelola bangsa dan negara serta uang rakyat yang ada di APBN.

Ad.(4).Megawati

Megawati memang kharismatik. Maklum, ayahnya seorang presiden dan negarawan yang hemat. Tapi, Megawati jadi presiden karena faktor “kecelakaan politik”, yaitu menggantikan Gus Dur yang saat itu dilengserkan. Selama menjadi presidenpun belum ada prestasinya yang signifikan. Bahkan kekayaan gas di Blok Tangguh ,Papua, dijual ke China dengan harga yang jauh di bawah pasaran. Hal ini membawa kesan Megawati gampang dibohongi orang-orang di sekitarnya. Walaupun katanya pro “wong cilik”, namun tidak ada konsep yang jelas soal itu. Belum ada andil yang signifikan terhadap bangsa dan negara.

Ad.(5).Pramono Edhie Wibowo

Namanya saja baru muncul. Banyak yang tidak kenal. Kebetulan saja dia adik iparnya SBY. Maka orangpun akan mengambil kesimpulan, PEW nyapres hanya dengan tujuan melindungi kepentingan-kepentingan keluarga Cikeas jika ia terpilih sebagai presiden. Tidak ada gagasan tentang kepentingan bangsa dan negara dalam arti yang sesungguhnya.

Ad.(6).Wiranto

Masih kuat kesan pelanggaran HAM di “era” Wiranto. Walaupun tidak ada bukti-bukti hukum Wiranto terlibat pelanggaran HAM, terutama kasus Mei, namun masyarakat tetap punya rasa curiga yang besar terhadap Wiranto. Sosok yang berkali-kali gagal nyapres. Suaranya sedikit. Bukti tak dapat dukungan dari bangsa dan negara.

Ad.(7). Dahlan Iskan

Pribadi “urak’an”. Marah-marah di jalan tol. Menghentikan mobil listrik dengan cara menabrak tebing. Mengelola BUMN PLN hingga merugi Rp 37 triliun. Tidak ada prestasi di bidang kelistrikan yang patut dibanggakan. Apalagi, prestasinya di bidang BUMN juga tidak signifikan. Boleh dikatakan kurang merakyat.

Ad.(8).Jusuf Kalla

Memang pernah jadi wakil presiden. Tapi tampaknya kurang faham administrasi negara sehingga pernah mengeluarkan SK Wapres, sebuah kesalahan politik yang menggelikan. Gagasan gas Elpiji 3 kg juga telah menelan banyak korban di kalangan masyarakat miskin. Terlalu cepat mengambil keputusan sehingga berpotensi ada resiko melakukan kesalahan. Ucapannya yang pro mobil murah mencerminkan JK hanya memikirkan kepentingan bisnis, tidak demi kepentingan bangsa dan negara.

Ad.(9).Hatta Radjasa

Sarjana teknik yang jadi menko perekonomian. Tidak ada kompetensi. Tak ada kemajuan yang berarti di bidang perekonomian. Tak ada usaha untuk menghemat keuangan APBN. Tak ada usaha untuk mengurangi utang luar negeri. Tak ada usaha untuk mengurangi berbagai impor. Tak ada usaha untuk memprioritaskan pembangunan infra struktur. Kurang merakyat. Kurang terkenal. Prestasinya tidak jelas.

Ad.(10).Hidayat Nur Wahid

Apa kelebihannya?Tidak ada yang tahu. Bahkan ketika terjadi kasus korupsi/suap impor sapi, langsung menuding ada konspirasi politik Zionisme, tanpa bisa membuktikan kebenaran ucapannya. Tentunya bukan seorang negarawan kalau bicara tidak didukung pembuktian. Hanya bisa menuduh. Tidak layak menjadi capres.

Ad.(11).Yusril Ihza Mahendra

Soal hukum, YIM memang tergolong pakar. Soal tampang, mungkin cukup gantenglah.  Prestasi juga lumayan. Cuma bagaimana pandangan politiknya? Sayang, PBB (Partai Bulan Bintang) pimpinannya kabarnya punya misi anti Pancasila dan ingin mengganti Pancasila (bisa dicari di internet). Tentu, sikap anti-Pancasila bukanlah sikap seorang negarawan.

Ad.(12).Gita Wirjawan

Sosok yang tampan. Ingin mengulangi kesuksesan SBY yang juga jual tapang pada Pemilu 2004? Prestasinya sebagai menter perdagangan belum ada yang signifikan. Terkesan America-oriented. Terkesan kurang nasionalis. Lebih cocok jadi pengusaha daripada sebagai politisi. Orangpun boleh curiga, dia nyapres karena ada kepentingan bisnis. Kurang merakyat. Pemahamannya tentang bangsa dan negara diragukan.

Ad.(13).Marzuki Alie

Pribadi yang banyak cakap. Sering tanggapannya kurang merakyat. Nada bicaranya sinis. Dari partai penguasa. Kurang objektif melihat masalah. Figurnya sebagai capres kurang meyakinkan. Pernah tersangkut kasus pidana yang entah kenapa kemudian dihentikan. Kejujurannya masih diragukan oleh banyak orang. Bahkan kemampuannya untuk mengelola bangsa dan negara kurang meyakinkan.

Ad.(14).Suryadharma Ali

Pribadi opportunities. Bagi partainya, siapapun yang jadi presiden, tidak masalah. Yang penting kadr partainya dapat jatah sebagai menteri. Artinya, warna politiknya hanya mencari kesempatan yang menguntungkan pribadi-pribadi orang-orang politiknya. Selalu mengatakan setuju terhadap semua kebijakan rezim yang sedang berkuasa. Sikapnya yang pro rakyat tidak kelihatan.

Ad.(15).Ahmad Heryawan

Terpilih sebagai Gubernur Jabar dari PKS, Partai Keadilan Sejahtera. Lemenangannya sebagai gubernur diragukan banyak pihak. Ada dugaan tersangkut kasus di Bank Jabar Banten  dan kasus-kasus lain. Kurang merakyat. Tidak ada prestasi yang menonjol.

Ad.(16). Sri  Mulyani Indrawati

Memang pandai di bidangnya, tapi tidak ada bukti pandai di bidang politik apalagi politik kenegaraan. Namanya berkonotasi negatif dengan adanya kasus Bank Century, terlepas terlibat atau tidak, terlibat bersalah atau tidak. Tak punya karir politik, apalagi yang menonjol. Kurang bergaul dengan masyarakat luas.

Kesimpulan

Mereka yang tercatat dia atas No.1 sampai dengan No.16 mempunyai persamaan, yaitu tidak layak sebagai “capres”, karena mereka bukan “negarawan”.

Baca:

“Syarat Mutlak Menjadi Presiden Yaitu Harus Seorang Negarawan”
https://partaigolput.wordpress.com/2014/02/08/politik-apa-sih-negarawan-itu-syarat-mutlak-menjadi-presiden-yaitu-harus-seorang-negarawan/

Sumber  foto: Dari berbagai sumber

Hariyanto Imadha
Pengamat perilaku
Sejak 1973

POLITIK: 10 Alasan Kenapa Jokowi Tidak Layak Nyapres 2014

Jokowi-GubernurDKIJakartaTransberitaCom

MEMANG, berdasarkan hasil survei manapun, nama Jokowi hampir selalu menempati peringkat pertama. Bahkan banyak komunitas masyarakat, besar atau kecil, lewat Twitter, Facebook dan lain-lain yang menginginkan sosok Jokowi akan maju sebagai capres 2014. Namun, kalau kita mau menggunakan akal sehat, adalah sangat tidak layak Jokowi nyapres 2014.

Kenapa Jokowi tak layak nyapres 2014?

Ada 10 alasan:

1.Bisa dituduh ingkar janji.

Saat kampanyanye cagub DKI Jakarta telah membuat banyak janji. bahkan banyak janji. Antara lain menjadikan Jakarta sebagai jakarta Baru yang bebas banjir, sampah dan kemacetan. Jika Jokowi nyapres, maka Jokowi akan dituduh sebagai pemimpin yang suka ingkar janji dan sekaligus mengingkari sumpah jabatan.

2.Akan dijadikan sasaran olok-olok

Jokowi-pun akan dijadikan oleh-olok sebagai sosok yang ingkar janji, munafik, tidak konsisten, suka mengingkari komitmen dan tidak konsisten antara ucapan dan tindakan.

3.Pendukung Jokowi terbatas

Pendukung Jokowi tidaklah secara nasional. Terbanyak di jawa Tengah terutama Solo dan Jawa Timur terutama Surabaya dan Bali. Di luar Pulau Jawa dan Bali, masih tanda tanya besar yang perlu diantisipasi.

4.Faktor kuda hitam

Masih ingat pemilu 2004? Saat itu nama capres yang terpopuler adalah Megawati Soekarnoputri. Nama SBY nyaris tak terdengar. Tapi, iapa menduga, saat SBY mulai kampanye, nama SBY tiba-tiba melejit ke atas mengalahkan kepopuleran Megawati Soekarnoputeri. Siapa tahu pula pada Pemilu 2014 nanti ada capres yang lebih terkenal? Tanda-tanda itu sudah ada, yaitu munculnya capres dari kalangan Islam yang akan mendapat dukungan dari sebagian besar umat Islam moderat.

5.Jokowi belum terbukti keandalannya

Selama ini pendukung Jokowi hanya karena faktor ketenarannya. Seangkan hasil kerja nyatanya belum ada. Jakarta menjelang Pemilu 2014 masih banjir, masih macet dan masih banyak sampah. Modal politiknya belum cukup sehingga bagi para pesaing Jokowi hal tersebut akan dijadikan “modal” untuk menurunkan elektabilitas Jokowi sebab rakyat aan melihat kenyataan bahwa Jokowi memang belum menunjukkan hasil kerja yang nyata.

6.Program Jakarta Baru akan terbengkelai

Jika Jokowi nyapres karena ditugaskan partai atau kongres atau Megawati, maka otomatis Jokowi akan mengundurkan diri dari jabatannya sebagai Gubernur DKI Jakarta. Siapa penggantinya? Ahok, rakyat akan meragukan kemampuan Ahok mengelola Jakarta sendirian. Jakarta merupakan kota yang bersifat khusus yang punya karakter khusus. Apalagi Ahok seorang nonmuslim yang pasti akan ditolak sebagian masyarakat DKI yang fanatik agama Islam.

7.Popularitas dan elektabilitas Jokowi bisa menurun

Popularitas dan elektabilitas sifatnya relatif. Hasil survei bisa saja menempatkan nama Jokowi pada urutan pertama, kedua, atau ketiga dan seterusnya. Sebab, opini publik sewaktu-waktu bisa berubah akibat adanya berbagai informasi yang ditayangkan di televisi.  Rakyat juga bisa terpengaruh oleh iklan-iklan capres lainnya, apalagi 70% pemilih adalah pemilih tidak cerdas dan tidak rasional. Apalagi, 55% pemilih adalah rakyat yang berpendidikan SD tamat atau SD tidak tamat yang belum benar-benar faham politik.

8.Faktor money politik dan kecurangan politik.

Sekitar 70% rakyat pemilih belum faham politik. Bagi mereka, capres yang dianggap baik adalah capres yang bagi-bagi uang, bagi-bagi sembako gratis, menjanjikan lowongan kerja, menjanjikan sembako murah, sekolah gratis,kesehatan gratis,menjanjikan negara khilafah yang adil makmur,mengurangi kemiskinan hingga 100% dan terbuai janji-janji sorga yang bagi mereka dianggap realistis. Faktor kecurangan politik yang profesional, juga bisa menyebabkan kekalahan Jokowi.

9.Terbatasnya dana kampanye PDI-P

Jujur saja, kalau dibandingkan Partai Gerindra, Partai Golkar dan Partai Nasdem, PDI-P pastilah tidak memiliki uang sebanyak mereka. Artinya, kampanye PDI-P sangat terbatas. Hanya melalui TV dan media kampanye pada umumnya. Kurang mampu mengadakan kampanye sampai ke pelosok-pelosok desa, apalagi desa terpencil atau perbatasan. Sedangkan parpol yang bermodal kuat, mampu melakukannya.

10.Faktor aura kharisma

Para pendukung Jokowi pastilah hampir semuanya tidak faham psikologi, psikologi-politik, terutama psikologi aura kharisma. Aura kharisma Jokowi bisa saja naik, bisa tetap dan bisa turun. Berdasarkan analisa psikologi-politik, ternyata ada capres lain yang namanya belum terkenal, tetapi memiliki aura kharisma lebih tinggi daripada aura kharisma Jokowi. Artinya, rakyat akan memilih capres yang punya aura kharisma tertinggi.

Kesimpulan

1.Jokowi harus membuktikan dulu janji-janjinya untuk menjadikan Jakarta sebagai jakarta Baru

2.Ada Si Kuda Hitam yang akan mengalahkan Jokowi jika Jokowi nyapres 2014

3.Jokowi sebaiknya maju pada 2019, sebab pesaing kuat Jokowi tidak ada. bahkan, Jika Jokowi maju pada 2019, kemungkinan besar pemilu hanya satu putaran saja.

Sumber berita: transberita.com

Hariyanto Imadha

Pecinta psikologi-politik

Sejak 1973