• PARTAI POLITIK

    gambarbannerpartaigasing1

    gambarbannerpartaiyoyo1

    logo-apajpg1

    logo-barisannasionaljpg4

    logo-bulanbintangjpg1

    logo-gerindrajpg

    logo-hanurajpg

    logo-panjpg1

    logo-partaidemokratjpg

    logo-partaigarudajpg

    logo-partaigolkarjpg

    logo-pdipjpg

    logo-pibjpg

    logo-pkbjpg

    logo-pkdjpg

    logo-pknujpg

    logo-pkpjpg

    logo-pksjpg

    logo-pmbjpg

    logo-pnimarhaenjpg

    logo-ppijpg

    logo-pppjpg

  • Iklan

POLITIK: Vox Populi Vox Dei Bukan Suara Rakyat Adalah Suara Tuhan

FACEBOOK-PolitikVoxPopuliVoxDeiBukanSuaraRakyatAdalahSuaraTuhan

SERING kita mendengar kalimat “Vox populi vox Dei” yang diterjemahkan sebagai “Suara rakyat adalah suara Tuhan” seolah-olah suara rakyat tidak pernah salah. Kalimat tersebut sering diucapkan di dalam kontek politik maupun hukum. Sebenarnya kalimat yang merupakan ungkapan tersebut tidak demikian artinya, apalagi kalau dilihat dari sudut pandang epistemologi politik maupun hukum. Sebab, kalimat tersebut merupakan potongan dari kalimat yang agak panjang sehingga kalau ditulis secara lengkap, artinya justru bukan “suara rakyat adalah suara Tuhan”. Ungkapan lama ini sering dikaitkan dengan William of Malmesbury (abad 12) dan surat Alcuin of York kepada Charlemagne pada tahun 798

Arti singkat vox populi vox Dei

Memang, arti singkatnya secara letterlijk atau harafiah adalah: Vox = suara, populi = rakyat vox-suara Dei= Tuhan, atau “suara rakyat adalah suara Tuhan”. Ungkapan “vox populi vox de” biasanya dipercaya secara mentah-mentah bahwa suara rakyat adalah suara Tuhan. Dengan demikian tersirat bahwa pendapat umum selalu benar

Kalimat selengkapnya

Sebenarnya kutipan surat yang ditulis oleh Alcuin of York (735-804), EPISTOLAE 166, paragraf 9, menyiratkan hal yang sebaliknya. Kutipan lengkap berbunyi: “Nec Audienti sunt qui solet docere, vox populi vox dei, cum tumultuositas vulgi semper insanitas proxima est

Terjemahan dalam bahasa Inggeris

“Do not listen to those who are accustomed to teach (claim), ‘The voice of the people is the voice of God’, because the tumult of the masses is always close to insanity.” [Cohen, J.M. & Cohen M.J, 1960 Penguin Dictionary]

Terjemahan dalam Bahasa Indonesia

“Jangan dengarkan orang-orang yang biasa mengklaim bahwa “Suara Rakyat adalah Suara Tuhan”, karena gegap gempitanya rakyat selalu dekat dengan kegilaan.” (Sumber: http://politik.kompasiana.com/2010/04/10/vox-populi-vox-dei-suara-rakyat-suara-tuhan-115155.html)

Dari sudut epistemologi

Dari sudut epistemologi (logika material) sebenarnya tidak mungkin suara rakyat adalah suara Tuhan, sebab rakyat tidak sama dengan Tuhan. Suara rakyat adalah suara rakyat, suara Tuhan adalah suara Tuhan. Menyamakan suara rakyat dengan suara Tuhan tidak mungkin sebab suara rakyat bisa salah, sedangkan suara Tuhan tidak mungkin salah.

Maksud yang sebenarnya

Kalau ungkapan itu dibaca secara lengkapnya, maka maksudnya justru bukan “suara rakyat adalah suara Tuhan”, melainkan punya arti yang sebaliknya, yaitu “jangan percaya kalau ada yang mengatakan suara rakyat adalah suara Tuhan”, sebab itu merupakan klaim yang salah, seolah-olah suara rakyat tidak bisa salah. Padahal sesungguhnya suara rakyat bisa salah”.

Suara rakyat adalah suara rakyat

Dengan demikian, arti yang sesungguhnya adalah : suara rakyat adalah suara rakyat, suara Tuhan adalah suara Tuhan. Suara rakyat bukan suara Tuhan dan suara Tuhan bukanlah suara rakyat.

Di dalam kontek demokrasi

Demokrasi cenderung berkonotoasi “suara mayoritas adalah suara kebenaran”. Dan jika dikaitkan dengan “vox populi vox dei”, maka akan diterjemahkan secara keliru bahwa “suara terbanyak adalah suara Tuhan”. Tetap saja ini merupakan terjemahan yang keliru.

Kesimpulan

1.”Vox populi vox dei, suara rakyat adalah suara Tuhan”, merupakan terjemahan yang secara bahasa benar, tetapi secara epistemologi (logika material) justru terjemahan yang salah dan bersifat manipulatif. Merupakan terjemahan bersifat manipulasi.

2.Kalau kalimat yang seutuhnya dibaca, maka sesungguhnya ungkapan tersebut merupakan ketidaksetujuan terhadap pendapat orang yang mengklaim bahwa suara terbanyak dari rakyat adalah suara yang benar.

3.Dengan demikian, capres-cawapres dan semacamnya serta caleg dan semacamnya yang dipilih berdasarkan suara terbanyak, bukanlah representasi dari suara Tuhan, melainkan representasi suara rakyat atau pilihan rakyat yang belum tentu benar.

Hariyanto Imadha
Pengamat perilaku
Sejak 1973

 

Iklan

POLITIK: Pemilu Offline Sangat Rawan Manipulasi Data Suara

SUDAH enam kali pemilu dan tiga kali pilkada saya golput. Alasannya, belum ada capres-cawapres dan calon wakil rakyat yang benar-benar berkualitas. Selain itu, sistem politik Indonesia juga saya nilai belum profesional, terutama sistem pemilunya. Sistem pemilu yang dilakukan secara offline masih sangat rawan untuk terjadinya manipulasi data suara. Walaupun sudah menggunakan fasilitas teknologi informasi berupa komputer dan internet, namun sifatnya masih bersifat transfer data saja.

 

Masih ada celah-celah kecurangan

Kecurangan bisa saja terjadi pada tingkat KPU Pusat, KPUD dan pada perangkat TI itu sendiri.

 

Kecurangan pada tingkat KPU Pusat

Bisa saja terjadi, sebuah parpol yang ingin menang, menyusupkan “oknum” di KPU Pusat. Atau, menyuap oknum KPU Pusat dengan janji uang, jabatan,bisnis,proyek atau ditarik sebagai pengurus parpol tersebut. Jika perlu,dengan intimidasi.Dengan syarat, oknum KPU Pusat tersebut bersedia memanipulasi data dengan cara-cara tertentu.

 

Kecurangan pada tingkat KPUD

Bisa saja terjadi, sebuah parpol yang ingin menang, menyusupkan “oknum” di KPUD. Atau, menyuap oknum KPUD dengan janji uang, jabatan,bisnis,proyek atau ditarik sebagai pengurus parpol tersebut.Jika perlu,dengan intimidasi. Dengan syarat, oknum KPU Pusat tersebut bersedia memanipulasi data dengan cara-cara tertentu.

 

Kecurangan pada perangkat TI

Bisa saja, program yang diinstal di komputer berubah secara otomatis demi kepentingan parpol tertentu. Misalnya, tiap 5% suara dari parpol lain ditambahkan ke parpol yang ingin menang.

 

Tidak ada saksi dari parpol

Saksi parpol hanya ada di TPS. Yang pasti tidak ada saksi parpol yang jaga di kantor KPU Pusat maupun KPUD. Dengan demikian bisa saja terjadi kecurangan atau manipulasi data terjadi di tingkat penympanan berkas-berkas pemilu. Toh, tidak ada saksi parpol yang jaga di kantor KPU Pusat atau KPUD.

 

Rekayasa program

Pada saat perhitungan di KPU Pusat, memang ada saksi parpol. Namun lagi-lagi mereka tak ada yang jaga di kantor KPU Pusat. Sehingga tak bisa memantau atau melakukan verifikasi data. Lagipula para saksi parpol dan rakyat Indonesia hanya tahu total akhirnya saja. Misalnya Partai A 20%, partai B 15% dan seterusnya. Tidak ada yang tahu bagaimana “sejarah”nya. Tidak tahu darimana asal mula angka ttersebut.

 

Solusi

Solusi tterbaik yaitu menyelnggarakan pemilu online untuk daerah-daerah yang sudah memunginkan dan pemilu offline untuk daerah-daerah yang belum memungkinkan. Program harus dibuat oleh kelompok programmer yang profesional. Harus diuji coba dulu kehandalannya dan disaksikan semua pengurus parpol. Program pemilu offline juga harus memenuhi persyaratan keamanan agar tak diserang hacker. Para pemilih juga sudah memiliki KTP nasional dengan NIK permanen dan dilengkapi dengan miicrochip.

Di dalam pemilu online, semua orang bisa memantau kebenaran data perolehan suara per-TPS, per kabupaten/kota,per-provinsi dan total perolehan suara secara nasional. Dengan demikian, tiap orang bisa melakukan verifikasi atas kebenaran data suara.

Misalnya

Di TPS 17,Kabupaten X,Provinsi Y,perolehan parpol A 123.4567 suara, partai B 89.124 suara dan seterusnya. Bisa dicocokkan dengan data lokal atau laporan setempat.

Masalahnya, kapan?

Sumber foto: latansablog.wordpress.com

 

Hariyanto Imadha

Facebooker/Blogger