• PARTAI POLITIK

    gambarbannerpartaigasing1

    gambarbannerpartaiyoyo1

    logo-apajpg1

    logo-barisannasionaljpg4

    logo-bulanbintangjpg1

    logo-gerindrajpg

    logo-hanurajpg

    logo-panjpg1

    logo-partaidemokratjpg

    logo-partaigarudajpg

    logo-partaigolkarjpg

    logo-pdipjpg

    logo-pibjpg

    logo-pkbjpg

    logo-pkdjpg

    logo-pknujpg

    logo-pkpjpg

    logo-pksjpg

    logo-pmbjpg

    logo-pnimarhaenjpg

    logo-ppijpg

    logo-pppjpg

  • Iklan

POLITIK: Hanya Orang Bodoh Yang Mengatakan Indonesia Sebagai Negara Sekuler

Gambar

SERING penulis mendengar orang mengucapkan kata “sekulerisme”. Tetapi kalau penulis bertanya, sekulerisme itu apa? Ternyata jawabannya berbeda-beda. Artinya, banyak orang memiliki perbedaan persepsi tentang arti kata sekulerisme. Bahkan ada yang mengatakan sekulerisme itu aliran yang antiagama, terutama anti agama Islam. benarkah demikian?

Beberapa pengertian tentang sekulerisme

1.Sekulerisme terpisah

Yaitu sekulerisme dalam penggunaan masa kini secara garis besar adalah sebuah ideologi yang menyatakan bahwa sebuah institusi atau harus berdiri terpisah dari agama atau kepercayaan. Sekulerisme dapat menunjang kebebasan beragama dan kebebasan dari pemaksaan kepercayaan dengan menyediakan sebuah rangka yang netral dalam masalah kepercayaan serta tidak menganakemaskan sebuah agama tertentu. (Sumber: http://id.wikipedia.org/wiki/Sekulerisme)

2. Sekulerisme duniawi

Semangat Keduniaan atau orientasi “duniawi” dan sejenisnya. Secara khusus adalah undang-undang dari sekumpulan prinsip dan prakterk (practices) yang menolak setiap bentuk keimanan dan ibadah.

Keyakinan bahwa agama dan urusan-urusan gereja tidak ada hubungannya sama sekali dengan soal-soal pemerintahan, terutama soal pendidikan umum. (Sumber: Kamus Dunia Baru oleh Wipster).

3. Sekulerisme materialistis

Artinya bersifat keduniaan atau materialisme, bukan keagamaan atau keruhaniaan. Seperti pendidikan sekuler, seni atau musik sekuler pemerintahan sekuler, pemerintahan yang bertentangan dengan gereja. (Sumber: Kamus Oxford)

4. Sekulerisme liberal

Adalah sekulerisme liberal yang dianut oleh negara-negara Eropa/Barat dan Amerika. Negara-negara yang disebut dengan “Alam Bebas”. Negara-negara yang menggembar-gemborkan kebebasan dan hak asasi manusia secara umum, termasuk kebebasan beragama dan kebebasan manusia untuk komitmen terhadap. (Sumber: Dr. Yusuf Qardhawi).

5. Sekulerisme progresif

Sekulerisme jenis ini sangat memusuhi agama dan berusaha untuk melenyapkannya termasuk membersihkannya dari dalam masjid atau gereja, karena agama bagi mereka adalah musuh yang bertentangan dengan pandangannya, oleh karena itu harus dikubur. (Sumber: Marxis yang dianut oleh Uni Soviet dan Rusia yang atheis serta negara lain yang sepaham.)

6.Sekulerisme dalam perspektif Islam

Sekulerisme adalah satu paham yang memisahkan antara urusan agama dan kehidupan dunia seperti politik, pemerintahan, ekonomi, pendidikan dan sebagainya. Yang jelas menurut paham sekular, soal bernegara, berpolitik, berekonomi dan sebagainya

Indonesia termasuk sekulerisme yang mana?

Dasar negara Indonesia adalah Pancasila di mana sila Ketuhanan Yang Mahaesa menempati urutan pertama. Jelas, negara Indonesia tidak mengabaikan kehidupan agama dan beragama di Indonesia. Indonesia memfasilitasi dan juga membuat regulasi agama tanpa mencampuri urusan agama masing-masing.

Lantas, di mana letak sekulerisme negara Indonesia?

Kebanyakan masyarakat Indonesia punya pandangan bahwa sistem hukum yang berlaku di Indonesia adalah hukum buatan manusia sehingga mudah diperjualbelikan, mudah direkayasa,mudah diplintir sehingga tidak senafas dengan hukum agama terutama hukum Islam. Akibatnya adalah banyaknya kasus suap, sogok, pungli, gratifikasi,korupsi,kolusi,nepotisme, kecurangan politik,kerusakan moral dan hal-hal lain yang bertentangan dengan ajaran agama apapun juga. Atas dasar itulah, merekab beranggapan Indonesia merupakan negara sekuler. Minimal setengah sekuler.

Hukum positif yang lemah

Sebagian masyarakat berpendapat, hukum yang berlaku di Indonesia adalah hukum positif. Yaitu, hukum yang mengadopsi hukum kontinental/Eropa, hukum agama (agama apapun) dan hukum adat. Masalahnya adalah, dalam penjabarannya banyak undang-undang yang tidak amanah dan tidak pro rakyat, antara lain undang-undang yang menyebabkan banyaknya kapitalisme asing yang tidak berdampak terhadap naiknya kesejahteraan masyarakat secara luas. Juga sistem hukuman yang bersifat relatif dan interval. Misalnya, dihukum minimal sekian tahun maksimal sekian tahun. Pasal yang bisa dipilih-pilih. Akibatnya penegakan hukum positif sampai kapanpun tidak pernah akan adil seadil-adilnya.

Hukum agama dianaktirikan

Sebagian masyarakat kita berpendapat bahwa berbagai undang-undang, terutama di KUHP maupun di KUHAP maupun di produk hukum lainnya, maka nafas” religi”-nya sangat kurang. Hal ini karena hukum agama dianaktirikan. Lebih mementingkan hukum-hukum yang dibuat oleh orang-orang politik yang lebih diwarnai demi kepentingan politik daripada demi kepentingan kemaslahatan umat terutama umat beragama.

Kesimpulan

1.Secara landasan teoritis-filosofis, Indonesia bukanlah negara sekuler karena di alam Pancasila sangat jelas faktor Ketuhanan Yang Mahaesa merupakan prioritas utama.

2.Namun dari berbagai produk hukum yang mempengaruhi berbagai sektor, kurang memperhatikan keadilan yang seadil-adilnya dan kurang memperhatikan faktor kemaslahatan umat bangsa yang taat beragama.

3.Terkesan negara Indonesia di dalam praktek masih menganaktirikan hukum agama, terutama agama Islam.

4.Islam bukan sekulerisme dan menolak sekulerisme.

Apakah Indonesia merupakan negara sekuler?

Menurut Mahfud MD:

Indonesia adalah negara Pancasila, bukan negara agama. Indonesia adalah Darussalam, bukan Darul Islam. Indonesia bukan negara sekuler, tetapi negara yang menjunjung tinggi Sila Ketuhanan Yang Mahaesa.

.

Iklan

POLITIK: Pemimpin Tidak Berkualitas, Harus Segera Dilengserkan atau Kita Tunggu Sampai Masa Jabatannya Habis?

Gambar

MARILAH kita menggunakan logika-politik dengan benar. mana yang lebih baik melengserkan pemimpin yang terbukti tidak berkualitas atau menunggu sampai jabatannya berakhir baru kita ganti? Tentu kita harus berhitung untung ruginya. Tentu kita harus punya kriteria pemimpin berkualitas atau tidak berkualitas. Tentu kita harus mendengarkan suara atau aspirasi rakyat. Tentu kita harus memperhitungkan dan memilih caranya pergantian pemimpin dan lain-lain.

Analogi

Kalau Anda mempunyai gejala penyakit jantung, apakah Anda segera ke dokter / rumah sakit ataukah Anda menunggu sampai penyakit jantung Anda parah baru ke dokter / rumah sakit? Logika yang waras tentu akan memilih opsi yang pertama, yaitu segera ke dokter / rumah sakit begitu ada gejala penyakit jantung.

Ketika Anda tahu ketua RT Anda tidak mampu menjalankan fungsinya dengan baik, apakah Anda cukup menegurnya tapi tidak ada perubahan, ataukah Anda melengserkannya atau menunggu masa jabatan ketua RT berakhir dengan kondisi RT berantakan?

Pertanyaannya

Banyak pihak mengatakan presiden kita tidak mampu mengelola bangsa dan negara, tidak mampu mandiri pangan, kinerjanya di berbagai sektor buruk, utang terus bertambah, kekayaan migas dan tambang lebih dinikmati kapitalis asing daripada bangsa sendiri, kasus-kasus korupsi besar tak terungkap, pelanggaran HAM berat tak diadili, harga sembako mahal, dan berbagai sektor dinilai gagal, Anda akan tetap mempertahankan presiden yang demikian sampai akhir masa jabatannya dengan meninggalkan bangsa dan negara lebih terpuruk lagi, ataukah Anda akan segera melengserkannya? Orang yang logika-politiknya waras tentu akan memilih opsi segera melengserkannya.

Apakah penggantinya lebih baik?

Pertanyaan itu tentu bisa dijawab “ya” dan “tidak”. Bisa dijawab lebih baik, sama saja atau lebih buruk. Pertanyaannya, apakah kita bisa memastikan penggantinya lebih baik, sama saja atau lebih buruk? Tentu harus kita persiapkan calon-calon penggantinya dengan kriteria calon pemimpin yang baik. Misalnya :shiddiq, tabliq,amanah dan fatonah.

Apakah ada calon pemimpin yang berkualitas?

Pasti ada. Cuma masalahnya, apakah calon pemimpin berkualitas sudah dicalonkan, maukah dicalonkan,apakah rakyat sudah bisa membedakan mana calon pemimpin yang berkualitas atau tidak berkualitas? Apakah sistem politiknya sudah memungkinkan tampilnya pemimpin yang berkualitas? Bagaimana kalau tidak ada, apakah pemimpin yang sekarang terbukti tidak berkualitas harus segera kita lengserkan atau kita pertahankan sampai masa jabatannya berakhir dan akan digantikan oleh caln-calon pemimpin lainnya yang belum tentu berkualitas?

Jangan menggunakan logika yang apriori

Berpikir sekarang adalah berpikir aposteriori. Berpikir realistis. Fakta bahwa pemimpin kita sekarang memang terbukti tidak berkualitas dan mempunyai banyak penyimpangan kepribadian. Kalau boleh pinjam istilah agama: banyak mudaratnya daripada manfaatnya. Bahkan tokoh-tokoh lintas agama dan berbagai elemen masyarakat sudah menunjukkan berbagai kelemahan pemimpin kita sekarang ini. Oleh karena itu, melengserkan atau memohon pemimpin sekarang untuk mengundurkan diri adalah merupakan harapan yang sangat realistis.

Apakah penggantinya sama saja, lebih baik atau lebih buruk?

Kita bukan paranormal. Kita juga tidak boleh berpikir apriori dan menjawab: penggantinya pasti sama saja, pasti lebih baik atau pasti lebih buruk.

Politik bukanlah matematika

Apakah pengganti pemimpin kita nantinya sama saja,lebih baik atau lebih buruk, tidak ada hitung-hiitungan matematikanya. Yang penting pemimpin yang tidak berkualitas harus segra diganti, melalui imbauan ataupun melalui revolusi dan jika perlu melalui kudeta yang berhasil. Namun, cara pertama yang terbaik, yaitu melalui imbauan.

Tergantung sejarah

Akhirnya, apakah pemimpin kita jadi segera atau menunggu sampai akhir masa jabatannya, tentu tergantung kepada fakta sejarah. kalau pemimpinnya tidak mau mengundurkan diri, imbauan untuk mengundurkan diri tidak dipatuhi, revolusi tidak ada, kudetav tidak ada, maka kita akan mengikuti fakta sejarah.

 Kesimpulan

Mengganti segera pemimpin yang tidak berkualitas merupakan cara berlogika yang logis. Namun, fakta sejarahlah yang akan membuktikan kebenaran sejarah. Sebab, kebenaran sebuah logika politik terletak kepada fakta sejarah yang objektif. Sebuah kebenaran logika kalau tidak mendapatkan dukungan rakyat, tidak akan menjadi kebenaran yang faktual.

Semoga bermanfaat.

Hariyanto Imadha

Pengamat perilaku politk

Sejak 1973

POLITIK: Beda Memilih Ustadz dan Memilih Pemimpin Bangsa dan Negara

Gambar

SESUNGGUHNYA, memilih ustadz dan memilih pemimpin bangsa itu berbeda. Karena ketidaktahuan, maka banyak bangsa di dunia, termasuk di Indonesia yang salah memilih pemimpin bangsa. Akibatnya, bangsa dan negara menjadi terpuruk. Korupsipun merajalela. Itulah sebabnya, rakyat harus tahu apa bedanya memilih ustadz dan memilih pemimpin bangsa dan negara.

Memilih ustadz

Yang penting memilih ustadz adalah masa kininya. Kemampuan kininya. Perilaku kininya. Walaupun di masa lalu dia punya masa kelam dalam kehidupannya, kalau masa kininya merupakan masa yang baik, maka bolehlah dia dijadikan atau diakui sebagai seorang ustadz.

Contoh

Dulu, Si A adalah seorang perampok roko-toko emas. hasil penjualan emasnya ternyata dibagi-bagikan ke masyarakat miskin. Meskipun demikian, apa yang dilakukannya merupakan perbuatan kriminal. Si A-pun dipenjara bertahun-tahun. Sampai suatu saat, datanglah sebuah keinsyafan. Diapun bertobat. Mendekatkan diri kepada Tuhan. Mempelajari dan memperdalam ilmu agama. Dan ketika bebas dari lembaga pemasyarakatan, diapun mempunyai aktivitas sebagai seorang ustadz. Karena dia memang benar-benar telah memahami agama, maka keberadaannyapun diakui oleh masyarakat luas. Walaupun dia mantan perampok, tidak masalah. Yang penting masa kininya.

Memilih pemimpin bangsa dan negara

Memilih pemimpin bangsa tentu tidak boleg sembarangan, sebab yang diurus adalah sebuah wilayah yang luas dan rakyat yang jumlahnya luar biasa besar. Dibutuhkan seorang pemimpin yang benar-benar berkualitas. Oleh karena itu perlu diketahui track record-nya (rekam jejaknya), prestasinya, perilakunya, kemampuannya, akhlaknya, masa lalunya atau singkatnya sejarah hidupnya di masa lalu hingga masa kininya. Sebab, seorang pemimpin bangsa dan negara tidak sekadar politisi, tetapi juga harus seorang negarawan. Seorang negarawan harus memiliki masa lalu yang bersih, masa kini yang bersih dengan demikian di masa depan juga mempunyai masa depan yang bersih. Jika masa lalunya kelam, walaupun sudah insyaf dan bertobat, bisa saja masa kelamnya akan terulang lagi. Potensi itu tetap ada.

Contoh

Seorang capres mencalonkan diri sebagai capres pada pemilu. Tidak dicalonkan, tetapi mencalonkan diri. Bahkan mengiklankan diri di berbagai televisi. Namun, kalau dilihat masa lalunya, ternyata kelam. Dia dulu merupakan pelanggar HAM. Bahkan pelanggar HAM berat yang sejak dulu sampai hari ini tidak pernah diadili. Apalagi dihukum di dalam lembaga pemasyarakatan. Masa depan yang kelam itu jelas tidak bisa dihilangkan dari memori rakyat yang sehat. Walaupun sudah insyaf dan bertobat sekalipun, masa lalunya sudah terlanjur kelam. Sekali lancung ke ujian, seumur hidup orang tidak akan percaya. Apakah ada jaminan kalau dia terpilih sebagai presiden, dia akan menjadi presiden yang benar-benar pro rakyat? Tidak ada jaminan.

Kesimpulan

1.Memilih ustadz, yang perlu dipertimbangkan adalah masa kininya. Sebab, dia aktif di bidang agama. Dan yang dihargai adalah ajaran-ajaran agamanya.

2.Sedangkan memilih pemimpin bangsa, harus diperhitungkan masa lalu dan masa kininya.Sebab, dia aktif di bidang politik. Politik adalah kekuasaan. Dan untuk memperoleh kekuasaan atau mempertahankan kekuasaannya, pemimpin yang punya masa lampau yang kelam, akan mempertahankan kekuasaannya dengan cara-cara seperti masa lalunya yang kelam. Seorang pemimpin, yang dinilai tidak hanya perilakunya, tetapi juga hasil kerjanya.

Semoga bermanfaat

 

Hariyanto Imadha

Pengamat Perilaku

Sejak 1973

POLITIK: Salah Memilih Pemimpin Adalah Kebodohan

Gambar

DI INDONESIA ini banyak orang yang SNOB (sok tahu, sok mengerti dan sok pintar). Kalau diberitahu oleh orang cerdas “Jangan memilih capres A, sebab dia bukan negarawan”, maka orang yang snob akan menjawab ” Saya akan memilih berdasarkan hati nurani. Pasti pilihan saya tidak salah”. Ternyata pilihannya salah. Setelah terpilih, pemimpin pilihannya terlibat kasus suap, sok dan korupsi. Kalau orang cerdas mengatakan “Bodoh kamu”, maka orang bodoh akan menjawab “Semula saya yakin dia berkualitas. Cuma, dia menyalahgunakan amanah yang diberikan rakyat. Jadi, mana saya tahu ?”. Begitulah, memberikan pencerahan orang bodoh memang sulit, sebab orang yang bodoh suka ngeyel dan menganggap ucapan orang cerdas sebagai ucapan yang salah.

Cara berpikir orang bodoh dalam memilih calon pemimpin

-Memilih karena berdasarkan suka

-Memilih karena pengaruh iklan, hasil survei atau money politic

-Memilih karena sudah diarahkan atasannya dan tidak berani membantah

-Menilai calon pemimpinnya berkualitas tanpa didukung data atau pengetahuan yang memadai

-Memilih hanya berdasarkan ilmu kira-kira saja

-Memilih karena faktor popularitas dan figur

-Memilih karena dicalonkan parpol favoritnya

 

Hasilnya

-Seringkali salah pilih

-Pemimpin yang dipilihnya terlibat kasus suap, sogok dan korupsi

 Cara berpikir orang cerdas dalam memilih calon pemimpin

-Memilih berdasarkan track record yang baik dari calon pemimpin

-Memilih secara objektif berdasarkan pertimbangan yang rasional

-Memilih karena tahu benar kriteria calon pemimpin yang berkualitas

-Memilih bukan karena faktor popularitas atau figur

-Memilih bukan karena pertimbangan persamaan parpol,suku,agama,ras/bangsa atau antargolongan

-Memilih secara mandiri tanpa dipengaruhi hasil survei, polling dll

-Memilih bukan karena money politic, tekanan atau pengaruh-pengaruh lain

Hasilnya

-Tidak salah pilih

-Pemimpin yang dipilihnya tidak terlibat kasus suap, sogok dan korupsi

 

Kesimpulan

1.Jadi, salah pilih merupakan manifestasi daripada kebodohan dan ini harus diakui secara jujur dan ikhlas sebab faktanya memang demikian.

2.Memilih yang benar adalah berdasarkan kualitas. Memilih yang tidak benar berdasarkan pertimbangan-pertimbangan di luar kualitas.

 

Solusi

Supaya tidak salah pilih, maka cara memilih yang dilakukan orang yang cerdas di atas, perlu dicontoh.

 

Semoga menambah wawasan berpikir Anda

 

Hariyanto Imadha

Pengamat Perilaku

Sejak 1973